Jurnalisme Umpan Klik Merusak Kaidah Jurnalistik

clickbait-journalism-umpan-jebakan-klikJurnalisme Umpan Klik (Clickbait Journalism) adalah fenomena jurnalistik online yang merusak kaidah penulisan jurnalistik.

Media-media online atau situs-situs berita penganut jurnalisme clickbait membuat judul berita yang bikin penasaran pembaca dengan tujuan link judul itu diklik.

Judul-judul umpan klik bukan produk jurnalistik, tapi IKLAN, dengan tujuan diklik dan meningkatkan trafik Continue reading

Membesarkan Media Segmented

Salam Bang. Bersama beberapa kawan, kami membuat media kecil-kecilan yang segmented banget: Seputar informasi distro. Udah berjalan beberapa tahun kok gak besar2 ya. Apa karena terlalu segmented? Nah, gimana ada tips gak untuk membesarkan media yg segmented? terima kasih.

Jawaban

Salam kembali. Saya tidak bisa banyak berkomentar karena belum melihat/membaca media Anda itu.

Segmented bukan faktor tidak besar-besar, mungkin desain dan isinya kurang menarik bagi pembaca Anda.

Media segmented dari segi marketing (iklan dan sirkulasi) sebenarnya lebih mudah dan fokus. Target pembaca dan iklan jelas banget. So, kemungkinan, dari sisi desain (desain cover & layout) atau tampilan dan variasi isi/materi.

Dalam teori jurnalistik, media segmented itu disebut “narrowcasting journalism”, yakni jurnalistik yang menyempitkan bidang liputan dengan fokus pada bidang tertentu, misalnya soal burung saja, soal golf, soal, koperasi saja, dan lainnya.

Narrowcasting adalah istilah yang merujuk pada informasi, program, atau iklan yang ditujukan kepada segmen khusus atau terbatas.

 Narrowcasting is a term opposite of broadcasting. It refers to information, programming, or advertising that is directed to a highly specific segment of the public. They do not intend to catch the entire viewing public, only a narrow segment of it.

Narrowcasting adalah perancangan isi untuk segmen khusus dari audiens (tailoring content to a specific segment of the audience).

Pengelola media komunitas harus mengenal dengan baik karakter, aktivitas, ketertarikan, dan kebutuhan komunitas tempat media itu beredar (Knowing the Community). Media komunitas juga berideologi narrowcasting ini. Wasalam.

Good Luck!

Dewan Pers: Ada Pelanggaran dalam Peliputan Ariel-Luna

newspaperDewan Pers menyatakan bahwa ada pelanggaran kode etik jurnalistik (KEJ) yang terjadi dalam peliputan kasus video porno khususnya saat terjadi proses peliputan pemeriksaan Ariel dan Luna Maya di Mabes Polri, Jakarta .

“Dari tayangan beberapa stasiun televisi dapat dilihat bahwa dalam proses peliputan itu, terjadi pelanggaran kode etik dan prinsip perlindungan privasi,” kata Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudibyo, di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat.

Proses peliputan yang dimaksud adalah saat terjadinya insiden ketika jurnalis dari berbagai media meliput proses pemeriksaan Ariel dan Luna Maya di Mabes Polri.

Agus memaparkan, dalam proses peliputan itu tampak jurnalis dan beberapa media melakukan tindakan mendorong dan memegang bagian tubuh sumber berita.

Selain itu, lanjutnya, terdapat pula tampak jurnalis yang membenturkan kamera ke bagian tubuh dan menghalangi narasumber untuk masuk ke mobil pribadi.

“Bahkan terjadi tindakan memaksa sumber berita untuk berbicara dan mengeluarkan kata makian ketika sumber berita tetap tidak mau berbicara,” kata Agus.

Dewan Pers menegaskan, jurnalis Indonesia harus secara konsisten menegakkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik dalam segala situasi dan semua kasus, termasuk dalam memberitakan dan melakukan peliputan kasus video cabul yang dimaksud.

Selain itu, pemberitaan dan proses peliputan mutlak dilakukan dengan menghormati hak privasi dan pengalaman traumatik narasumber dengan cara bersikap menahan diri dan berhati-hati (Pasal 2 dan Pasal 9 KEJ).

“Semua pihak boleh berharap ketiga artis (Ariel-Luna Maya-Cut Tari) itu berbicara. Tetapi semua pihak tidak mempunyai hak untuk memaksa mereka berbicara atau mengakui sesuatu yang bersifat privat, apalagi jika hal itu diharapkan dilakukan di ruang publik media,” katanya.

Dewan Pers juga menyatakan, para pemimpin redaksi media massa harus memeriksa dan memastikan bahwa reporter dan kameramen di lapangan secara komprehensif memahami KEJ dan sanggup menerapkannya dalam proses-proses peliputan. (ANTARA).*

Kebebasan Media di Seluruh Dunia Terus Turun

mediaKebebasan pers di seluruh dunia menurun pada tahun 2009, untuk tahun ke delapan berturut-turut. Kelompok Freedom House mengatakan kemunduran besar terjadi di Timur Tengah, Afrika Sub-Sahara dan Amerika Latin.

Freedom House mengumumkan laporan tersebut pada hari Kamis, dan mengatakan kemunduran besar terjadi di Timur Tengah, Afrika Sub-Sahara dan Amerika Latin.

Organisasi tersebut menyatakan pemerintah Tiongkok, Rusia dan Venezuela secara sistematis mengganggu internet dan media baru yang terhitung bebas. Menurut laporan, teknik canggih digunakan untuk menyensor dan memblokir akses terhadap informasi dan memantau aktifitas warga negara.

Organisasi Freedom House yang berbasis di Washington, menyatakan Rusia tetap menjadi salah satu lingkungan yang paling represif dan berbahaya di dunia bagi pers, sementara Iran menunjukkan penurunan paling besar untuk tahun 2009 dengan berlangsungnya penindasan para jurnalis setelah pemilu presiden yang disengketakan tahun lalu.

Sepuluh negara terburuk dalam kebebasan pers adalah Belarusia, Birma, Kuba, Guinea Ekuator, Eritrea, Iran, Libya, Korea Utara, Turkmenistan dan Uzbekistan, di mana media independen tidak ada atau hampir tidak mampu beroperasi.

Menurut laporan Freedom House, Asia Pasifik adalah satu-satunya wilayah di mana kebebasan pers membaik tahun lalu. Ditambahkan, Israel juga mencapai kemajuan dalam mencabut pembatasan pers yang diberlakukan selama tiga pekan saat serangan militer ke Gaza awal tahun lalu. (Sumber: voanews).*