Andal, Bukan Handal!

Penulisan yang baku itu ”andal”, bukan “handal”; “imbau”, bukan “himbau”; “embus”, bukan “hembus”, dan sebagainya. Selama ini, mereka menyangka penulisan yang benar itu “handal” dan “himbau”. Misalnya, dia memang pemain yang handal; pemerintah menghimbau rakyat; ia menghembuskan napas. Yang benar: “pemain andal”, “mengimbau”, dan “mengembuskan”. SELENGKAPNYA

Opini dalam Berita: Permalukan dan Terpaksa

lionel-messi1Dalam berbagai kesempatan pelatihan jurnalistik, saya hampir selalu mengingatkan peserta agar menaati kode etik jurnalistik. Salah atu kode etik wartawan itu adalah “tidak boleh mencampurkan fakta dan opini”. Tegasnya, wartawa tidak boleh memasukkan opininya dalam menulis berita. Kalau mau beropini, ya… tulis saja artikel.

Yang sering “melanggar” kode etik tersebut biasanya wartawan olahraga, khususnya sepak bola. Dalam menulis berita, mereka sering menulis berita, misalnya, “Tim A Permalukan Tim B” atau “Tim B Dipermalukan Tim A”.

Kata “mempermalukan” (artinya: membuat seseorang jadi merasa malu) atau “Dipermalukan” (dibuat merasa malu) jelas opini atau paling tidak interpretasi wartawan. Ia yakin, dengan kalah dalam suatu pertandingan, sebuah tim merasa malu atau dipermalukan. Pihak yang menang mempermalukan pihak yang kalah.

Saya sebut penulisan kata “mempermalukan” atau “dipermalukan” sebagai opini wartawan karena biasanya tidak ada narasumber yang mengatakan “saya merasa malu” atau “saya merasa dipermalukan”. Wartawan hanya menduga –dan dugaan ini sebenarnya sangat berdasar alias kuat— pihak yang kalah pastinya merasa malu. Namun, ternyata tidak selalu demikian! Ada kok pecundang yang merasa tidak dipermalukan.

Contoh teraktual dalam kasus itu adalah kemenangan tim sepak bola Barcelona (Barca) atas Real Madrid dalam pertandingan sepak bola Liga Spanyol. Barca menang 5-0. Madrid kalah. Wartawan pun “beramai-ramai” menulis berita, seperti, “Barca mempermalukan musuh abadinya itu (Madrid) dengan skor mutlak 5-0 di Nou Camp” atau judul “Fantastis, Barca Permalukan Madrid” (Liputan6.com).

Jelas, kata “fantastis” dan “permalukan” adalah opini/interpretasi wartawan. Dapat dibayangkan, betapa sakit hatinya pihak Madrid dan pendukungnya membaca berita tersebut dan betapa senangnya pendukung Barca membaca berita tersebut.

Bukti bahwa kata “dipermalukan” adalah opini wartawan adalah pernyataan pelatih Madrid, Jose Maurinho. Diberitakan Liputan6, “Mourinho Tak Terima dengan Kata ‘Dipermalukan’. Ini kutipannya:

“Satu tim bermain sangat bagus (Barcelona), satu lagi sangat buruk. Satu pantas menang, satunya lagi pantas kalah,” papar Mourinho bisa menerima kekalahan tersebut. Tetapi, “Dipermalukan Tidak. Sederhana saja dalam menerima kekalahan ini, kami hanya bermain tidak bagus.”

Nah, jelas ‘kan, “permalukan” bukan fakta, tapi opini. Buktinya, Maurinho menolak dikatakan “dipermalukan” dan tidak ada pernyataan narasumber (pihak Madrid) yang mengaku “merasa malu atau dipermalukan”.

Terpaksa
Contoh lain “pelanggaran” kode etik berupa pencampuran fakta dan opini adalah berita tentang kerusuhan aksi demonstrasi. Jika polisi menembakkan gas air mata atau membubarkan demonstran, wartawan bisanya menulis: “polisi terpaksa menembakkan gas air mata”.

Siapa yang mengatakan “terpaksa”? Jelas, itu opini/interpretasi wartawan jika tidak ada pernyataan pihak polisi yang mengatakan “kami terpaksa…”. Bisa jadi, polisi malah “merasa ikhlas”, menunggu-ngungu momentum, atau “merasa senang” menembakkan gas air mata!

Hemat saya, secara “teori”, penggunaan kata “permalukan” dan “terpaksa” dalam sebuah berita, jika bukan kutipan pernyataan narasumber, jelas itu opini wartawan. Namun, pelanggaran ini “agak bisa dimaafkan” karena penggunaan kata itu lebih merupakan interpretasi ketimbang opini.

Interpretasi adalah pendapat berdasarkan fakta. Opini adalah pendapat berdasarkan penilaian subjektif, bahkan bisa jadi merupakan fitnah atau tanpa dasar.

Namun, sebaiknya memang wartawan menahan diri untuk tidak larut dalam peristiwa saat menulis berita. Pertahankan objektivitas. Toh, inti berita adalah informasi.

Jadi, saya pikir, cukup dengan berita, misalnya, “Barca Kalahkan Madrid 5-0” atau “Polisi Tembakkan Gas Air Mata”. Memang sih, “unsur sensasinya” tidak ada, tapi bagaimana jika pendukung Madrid “ngamuk” gara-gara kata “permalukan”? Itulah pentingnya kode etik. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Partikel “Pun”, Tulis Terpisah!

 

MENULIS kata/kalimat dengan tata bahasa yang baik itu membutuhkan “kebiasaan” selain pemahaman dan kecermatan. Demikian halnya soal penulisan partikel “pun” yang berarti “juga/saja” (denotatif) dan “penegasan” (konotatif). Jika tidak tahu dan terbiasa, kita akan menuliskannya disambungkan dengan kata yang mendahuluinya. SELENGKAPNYA

Dan Juga Sementara Itu

69MEDIA massa adalah pendidik yang paling berpengaruh bagi publik. Salah satu fungsi media (pers) memang demikian, to educate, mendidik masyarakat agar melakukan sesuatu, bertindak benar, mematuhi aturan, bersikap baik, dan sebagainya. “Pers adalah guru bagi masyarakat,” kata Wilbur Schramm (1973), selain sebagai pengamat (watcher) dan forum dikusi (forum).

Salah satu peran pers dalam konteks ini adalah sebagai “guru bahasa”. Oleh karena itu, insan pers mesti berhati-hati dalam menulis atau menyampaikan informasi, termasuk cermat dalam berkata-kata atau memilih kata.

Salah satu kesalahan fatal wartawan, penyiar, atau presenter dalam berbicara adalah menggunakan kata-kata jenuh, mubazir, dan berlebihan, seperti kata-kata “dan juga” dan “sementara itu”. Perhatikan saja bagaimana di layar televisi atau siaran radio, sang presenter seringkali “latah”, mungkin tanpa sadar, mengobral kata “dan juga”.

Menurut aturan bahasa, “dan” dan “juga” dalam memiliki maka yang sama. Misalnya, “saya dan kamu” semakna dengan “saya juga kamu”.  Jadi, kata “dan” tidak boleh diikuti kata “juga” karena hanya pemborosan, mubazir, juga tidak efektif-efisien. Pilih saja salah satu, “dan” atau “juga”, jangan dua-duanya diucapkan.

Ingat, salah satu prinsip bahasa jurnalistik/bahasa media adalah “hemat kata” (economy of word). Mengucapkan “dan juga” berarti tidak memenuhi prinsip tersebut. Saya tidak tahu, apakah sang presenter/penyiar memahami hal itu atau tidak.

Kata “Sementara Itu”
Ungkapan lain yang sering ditulis dan diucapkan wartawan, presenter, atau penyiar adalah “sementara itu”. Simak saja sajian berita koran, radio, atau televisi. Masih sering kita dengar ungkapan itu meluncur deras dalam tulisan atau siaran berita. “Sementara itu” adalah ungkapan tanpa makna, karenanya disebut “kata jenuh” atau “kata penat” (tired word] atau “ungkapan klise” (stereotype). Kalaupun diartikan, maka “sementara itu” berarti “waktu yang sebentar itu” (sementara = janga waktu sebentar, tidak lama).

Menggunakan kata “sementara itu” adalah jalan pintas yang salah dalam merangkai dua topik berita atau dalam transisi (peralihan) berita. Ia adalah “perangkai fakta” (copuling pins) yang salah kaprah. Kemungkinan, ungkapan sementara itu digunakan karena kebodohan (ketidaktahuan) atau kemalasan mencari kata perangkai yang tepat.

Kata jenuh atau ungkapan klise, yakni ungkapan-ungkapan klise yang sering dipakai dalam transisi (peralihan) berita atau kata perangkai satu fakta ke fakta lain (coupling pins), yang umum digunakan selama ini antara lain: “sementara itu”, “dapat ditambahkan”, “perlu diketahui”, ”dalam rangka”, “yang mana”, dan sebagainya.

Transisi adalah peralihan berita dari peristiwa satu ke peristiwa lain, misalnya dari berita olahraga sepakbola tentang Liga Inggris ke berita tentang Liga Italia. Untuk menyambungkannya yang paling sering digunakan Kata Jenuh seperti “Sementara itu”. Padahal, Kata Jenuh tersebut dapat dihilangkan karena tidak bermakna apa-apa.

Seorang wartawan NBC News, Edwin Newman, mengatakan, ketika mempelajari berbagai naskah yang ditulisnya pada awal-awal dia menjadi koresponden, dia mencoret  setiap kata “sementara itu” dan mendapatinya tidak satu pun dari kata itu diperlukan.

Saya sebutkan satu contoh saja dari penggunaan kata “sementara itu” berikut ini dari Pikiran Rakyat edisi 7 September 2007 di rubrik “Bandung Raya” (hlm. 17) di bawah judul “Dada Deklarasikan Jagabaya”.

“Kapolwiltabes Bandung Bambang Suparsono mendukung pembentukan paguyuban tersebut. Bagi dia…. dst.

Sementara itu, Penasihat Utama Jagabaya, yang juga menjabat Kepala Satpol PP Kota Bandung, Priana Wirasaputra menjelaskan, agenda mendesak paguyuban adalah melaksanakan…”

Coba Anda hilangkan kata “sementara itu”, tidak akan berpengaruh ‘kan? Maka, wahai para jurnalis, “perangi” penggunaan kata “sementara itu”. Carilah kata perangkai yang tepat secara cermat, bukan menempuh jalan pintas yang salah. Walahu alam. (ASM. Romli/www.romeltea.com).*

Hati-Hati Menuliskan Wallahu A’lam

PENULIS artikel keagamaan (Islam) atau media Islam lazimnya mengakhiri tulisan dengan kalimat Wallahu a’lam (artinya: “Dan Allah lebih tahu atau Yang Mahatahu/Maha Mengetahui). Sering ditambah dengan bish-shawabi, menjadi Wallahu a’lam bish-shawabi. (ash-shawâb = benar/sesuai. Jadi, wallahu a’lam bish shawab/shawabi artinya = Hanya Allah yang Mahatahu kebenarannya/kesesuaiannya…). SELENGKAPNYA