Bahasa Jurnalistik

Daftar Kata Baku-Tidak Baku

SEBAGAI “professional communicator”, salah satu pekerjaan saya adalah mengedit (menyunting) naskah, utamanya memperbaiki naskah itu agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan bahasa jurnalistik. Tapi saya bukan ahli bahasa, namun terus berusaha menguasai tata bahasa dengan baik dan benar sesuai dengan peraturan-perundangan yang berlaku berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Waduh, pake Pancasila dan UUD segala ya…?

Advertisements
Bahasa Jurnalistik

Andal, Bukan Handal!

Penulisan yang baku itu ”andal”, bukan “handal”; “imbau”, bukan “himbau”; “embus”, bukan “hembus”, dan sebagainya. Selama ini, mereka menyangka penulisan yang benar itu “handal” dan “himbau”. Misalnya, dia memang pemain yang handal; pemerintah menghimbau rakyat; ia menghembuskan napas. Yang benar: “pemain andal”, “mengimbau”, dan “mengembuskan”. SELENGKAPNYA

Bahasa Jurnalistik · Jurnalistik

Opini dalam Berita: Permalukan dan Terpaksa

Dalam berbagai kesempatan pelatihan jurnalistik, saya hampir selalu mengingatkan peserta agar menaati kode etik jurnalistik. Salah atu kode etik wartawan itu adalah “tidak boleh mencampurkan fakta dan opini”. Tegasnya, wartawa tidak boleh memasukkan opininya dalam menulis berita. Kalau mau beropini, ya… tulis saja artikel. Yang sering “melanggar” kode etik tersebut biasanya wartawan olahraga, khususnya sepak… Continue reading Opini dalam Berita: Permalukan dan Terpaksa

Bahasa Jurnalistik

Dan Juga Sementara Itu

MEDIA massa adalah pendidik yang paling berpengaruh bagi publik. Salah satu fungsi media (pers) memang demikian, to educate, mendidik masyarakat agar melakukan sesuatu, bertindak benar, mematuhi aturan, bersikap baik, dan sebagainya. “Pers adalah guru bagi masyarakat,” kata Wilbur Schramm (1973), selain sebagai pengamat (watcher) dan forum dikusi (forum). Salah satu peran pers dalam konteks ini… Continue reading Dan Juga Sementara Itu