Saya Jadi Korban Plagiator

Banyak blog atau situs yang memuat  (copas, copy paste) tulisan atau postingan saya dari http://www.romeltea.com ini. Kalo menyebutkan sumber atau linknya, no problem, bahkan terima kasih banget sudah menyebarkannya. Tapi kalo tidak? Itu termasuk plagiarisme atau plagiat!

Banyak orang bikin atau punya blog, tapi tidak mem-push kemampuan menulisnya, sedangkan blog harus di-up date, akhirnya mereka meng-Copy Paste tulisan orang. Boleh? Boleh saja, asalkan sebutkan sumber atau linknya sehingga pembaca tahu bahwa tulisan itu bukan karangan kita.

Kalo tidak menyebutkan sumbernya, itulah plagiarisme atau plagiat dan pelakunya disebut plagiarist atau plagiator!

Menurut Copyscape.com, plagiarism merupakan masalah serius dan meluas di dunia maya:

“Kapan saja seseorang dapat menyalin isi situs Anda untuk dimuat di situsnya sendiri. Setelah melakukan perubahan alakadarnya, mereka akan mengklaim tulisan Anda sebagai tulisan mereka.”

“Plagiarism is a serious and growing problem on the Web. At any moment, anyone in the world can copy your online content and instantly paste it onto their own site. After making minor changes, they will claim your content as their own.”

Ensiklopedia bebas atau kamus online Wikipedia mengartikan plagiarisme sebagai “penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.

Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator (id.wikipedia.org).

Mau tahu, siapa saja blogger yang sudah menjadi plagiator tulisan saya? Banyak banget! Capek melacaknya juga.

Saya kasih contoh satu tulisan saya yang menjadi korban plagiarism, yaitu tentang “Menjadi Penyiar Profesional“.

Ini dia contoh beberapa “blogger plagiator” yang telah melakukan plagiat atas posting saya tentang kiat menjadi penyiar tersebut:

  1. http://agoezperdana.wordpress.com/2011/06/02/menjadi-penyiar-professional/
  2. http://www.amrigolek.com/2011/05/menjadi-penyiar-radio-profesional/
  3. http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=106344252368&comments
  4. http://www.scribd.com/doc/52162071/Tips-memaksimalkan-performance
  5. http://onair-ancruth.blogspot.com/2010_01_01_archive.html
  6. http://st289880.sitekno.com/article/8422/kiat-menjadi-penyiar-radio.html
  7. http://www.baturajaradio.com/2011/07/tips-menjadi-penyiar-radio-yang-baik.html
  8. http://gausryan.multiply.com/journal
  9. http://www.blogger-index.com/feed.php?id=80798
  10. http://yohanalvin.blogspot.com/2009/08/kiat-menjadi-penyiar-radio-profesional.html

Itu baru satu posting/tulisan yang iseng-iseng saya cek di Google, belum posting lainnya.

Tenang aja, saya tidak akan melakukan tuntutan hukum. Saya “ikhlaskan”, tapu mestinya malu dong…. tulisan orang lain kok diaku karya sendiri atau dicopas begitu saja tanpa menyebutkan sumber, sadar atau tidak sadar, klaim sebagai tulisan sendiri!

Tapi, yang namanya plagiator, ya gak punya malu atuh. Betul tidak….? Wasalam. (www.romeltea.com).*

Cara Berhenti Langganan SMS

Jadinya berprasangka buruk deh… Berbagai cara dilakukan orang untuk mengeruk duit. Bisa dibilang ”ngerampok” juga kali karena kadang kita nggak registrasi tapi tiba-tiba sering dapat kiriman SMS yang menyedot pulsa kita.

Saya tidak pernah –saya ulang: tidak pernah– registrasi ke 9090, tapi selalu dapat  kiriman SMS GAME dari 909006 yang nyedot pulsa saya. Tanyalah saya ke Mbak Google, katanya: ketik UNREG GAME lalu kirim ke 9090. (Untuk stop berlangganan, kirim sms UNREG GAME, ke 9090). Continue reading

Saying Nothing… Sometimes Says The Most!

“Saying nothing… sometimes says the most,” kata Emily Dickinson. Tidak berkata apa-apa –tidak update status di facebook misalnya– kadang kala justru mengatakan banyak hal.

Bisa jadi, dia kelamaan memikirkan makna status yang akan ditulisnya, karena “First learn the meaning of what you say, and then speak,” kata Epictetus. Pertama-tama pelajari dulu makna kata/kalimat yang akan Anda kemukakan, baru bicara (tuliskan).

Bisa jadi pula, ia takut watak dirinya terungkap, karena “Speech is the mirror of the soul; as a man speaks, so is he,” kata Publilius Syrus. Ucapan itu cerminan jiwa; ketika seseorang berkata-kata (tulis status), maka itulah dia –sesuai dengan ucapan/status yang dikemukakannya. Mulutmu harimaumu, statusmu identitasmu, statusmu cerminkan jiwa, personalitas, dan karaktermu!

Tapi, tak mengapa tak update status juga, karena “If you have nothing to say, say nothing,” kata Mark Twain. Kalau gak ada yang harus dikatakan, meneng bae lah!

Btw, tulisan ini dibuat “tidak disengaja” lho…! Tadinya mau nulis status di facebook, eh… malah jadi “note”, habisnya kepanjangan sih! May be… for me, it’s harder to write fb status than an article! Wasalam. (www.romeltea.com).*

Menangis Itu Kekuatan

Menangislah, jika ingin menangis! Jangan takut dibilang cengeng. Menangis juga termasuk komunikasi dan sebuah kekuatan. Bahkan, kata Washington Irving –penulis Amerika (1783-1859)– ada nilai sakral dalam tiap tetes air mata!

“There is a sacredness in tears. They are not the mark of weakness, but of power. They speak more eloquently than ten thousand tongues. They are messengers of overwhelming grief… and unspeakable love.” (Washington Irving, dikutip thinkexist.com).

Kata Irving, Ada kesucian (kesakralan) dalam linangan air mata. Tangisan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan. Tangisan berbicara lebih fasih dari sepuluh ribu lidah. Tetes air mata itu adalah utusan dari kesedihan yang luar biasa … dan cinta tak terkatakan.”

Menangis juga baik untuk kesehatan. Menurut pakar biokimia, Dr William Frey, menangis dapat membuat seseorang merasa lebih baik karena air mata yang keluar berfungsi ”menghapus ketegangan saraf pada tubuh” yang salah satu penyebabnya adalah stress karena terbebani masalah.

Kata ustadz saya, menangis itu juga kebiasaan orang-orang saleh, yakni menangis karena Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka: mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum Muslimin dalam [jihad] di jalan Allah” (HR. Tirmidzi). Wallahu a’lam. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Posting Terpopuler: Daftar Kata Baku!

Sejak 14 Juni 2010 hingga 26 Januari 2011, plugin Count Per Day (CPD) WordPress yang saya pasang di blog ini (www.romeltea.com) berhasil merekam jejak pengunjung sejumlah 151.712 pembaca. Belum banyak, tapi lumayan. Artinya, sudah ribuan orang yang “menikmati” sajian saya. Semoga menjadi amal saleh. Amin….!

Menurut CPD, hingga 26 Januari 2011 yang menjadi Top Post adalah posting “Daftar Kata Baku-Tidak Baku” yang mencapai jumlah 5.202 pembaca, lalu “Kalender 2011, Free Download” (5.178), dan “Media Massa: Makna, Karakter, Jenis, dan Fungsi” (4.925). Daftar lainnya seperti tertera dalam gambar.

Masih menurut CPD, dalam seminggu terakhir, Top Post adalah “Pengertian Jurnalistik: Ragam Definisi Jurnalistik” dengan 341 pembaca, lalu “Pengertian Diplomasi” (339), dan “Daftar Kata Baku-Tidak Baku” (339).

Rekam jejak pembaca CPD bisa jadi tidak akurat, namun setidaknya hasil record CPD memotivasi saya untuk tetap memelihara blog ini dan mengupdatenya dengan motivasi “sharing”.

Harapan saya, dengan “Share” pengetahuan dan pengalaman, ilmu saya pun bertambah dan menjadi amal saleh. Amin….!

Terima kasih atas kunjungan Anda. Semoga blog ini bermanfaat. Meski Anda “malas” berkomentar, tidak mengapa, yang penting jejak Anda di blog saya terekam CPD. Wasalam.*

Asal Ungkapan 'dari Hong Kong!?'

Saya, pang kasepna, bertopi, bersama Teater Angin Hong Kong di Victoria Park, Agustus 2010.*

FRASA “dari Hong Kong?!” (gabungan antara kesal dan tanya, makanya tandanya dua, tanda tanya dan tanda seru) sudah akrab di telinga kita. Biasanya, frasa itu biasanya diungkapkan, dengan nada kesal bahkan “marah”, untuk membantah atau menyangkal pembicaraan kawan/lawan bicara, juga bermakna cibiran dan sindiran.

Maknanya, kira-kira begini: “come from nowhere”, “’gak ada”, “gak mungkin”, “impossible”, “tidak benar tuh”, atau “mimpi lu!”, dsb. Misalnya: A: “Kamu banyak duit ya?” B: “Duit dari mana… dari Hong Kong?!”. A: “Traktir dong, baru dapat honor ‘kan?” B: “Honor dari Hong Kong…?!” A: “Lia Eden katanya dapat wahyu dari malaikat Jibril lho!” B: “Malaikat Jibril dari Hong Kong?!” A: “Ini game online no. 1 di Indonesia” B: “No. 1 dari Hong Kong Kaleee….!”

O ya, terima kasih kepada facebooker, Nana Ponorogo, yang menginspirasi saya menulis soal ini. Dalam catatannya, Nana merasa penasaran dari mana asal-usul frasa “dari Hong Kong” tersebut.

Sejauh ini, saya belum menemukan data valid, sahih, kuat, dan “perawinya” dapat dipertanggung jawabkan. Akibatnya, saya pun, mungkin Anda juga, hanya bisa menebak-nebak, dengan guyonan –milsanya: “Kalo dari Zimbabwe kejauhan kali!” atau “kalau dari Batam ke Singapur lalu ke Macau itu mah Gayus jalan-jalan kali….!”

Versi “seriusnya” sih, kayaknya begini. Tersirat dalam ungkapan tersebut, persepsi Hong Kong sebagai “negara wah”, glamour, nan susah dijangkau, juga “kekaguman” kepada negeri Beton itu sebagai “negara” maju banget, hingga sulit dibayangkan bisa shopping atau berlibur ke sana bagi “golekmah”, golongan ekonomi lemah.

Di forum Kaskus, ada data menarik begini: “frasa ‘dari hongkong’ itu muncul pertama kali tahun 1970-an di kalangan mahasiswa. Di asrama ada mahasiswa yang punya foto kuburan Cina,  lalu ia mengaku kepada kawan-kawannya bahwa foto itu pas dia lagi ke Hongkong. Belakangan ketahuan, foto itu diambil di Medan. Sejak itu, ia sering disindir teman-temannya dengan kata-kata ‘dari Hongkong’ atau ‘foto dari Hongkong”.

Kawan-kawan ngobrol saya sekarang, kalo ada saya, tidak pernah bilang “dari Hong Kong” karena memang saya sudah pernah ke Hong Kong, dua kali lagi, lama lagi… nyaris Seminggu (Desember 2009) dan Sebulan (Agustus 2010). Yang pasti, selama di Hong Kong, saya tidak mendengar ada ungkapan itu keluar dari BMI di sana. Yang sering saya dengar malah “dari Blitar”, “dari Ponorogo”, “dari Ngawi”, “dari Kediri”, “dari Semarang”, “dari Subang”, atau saya sendiri sering bilang “dari Bandung”…

Kesimpulan saya sih begini: Frasa “dari Hong Kong” kini begitu populer “karena asal-muasalnya dari Hong Kong!” Betul tidak…? Wasalam. (www.romeltea.com).*

Dzikir dengan Suara Keras, Boleh Gitu?

Di sebuah masjid di Bandung, pagi ini, ada acara “dzikir bersama”, menggunakan soundsystem/loudspeaker hingga semua orang di sekitar masjid dapat mendengarnya. Secara “agak” bercanda, saya “protes” kepada panitia: “Pake speaker dalam masjid aja, kalau ke luar gitu ‘kan bisa jadi riya’ tuh yang dzikirnya! Itu ada yang lagi shalat dhuha, keganggu dong mereka…?”

Jawab “panitia”: “Ya, Kang! Banyak yang protes tuh warga sekitar…!”

Saya pun membuka-buka kembali literatur yang saya punya tentang “tata tertib dzikir dalam Islam”. Intinya, dari literatur yang saya punya dan sangat terbatas, saya menemukan kesimpulan: dzikir itu tempatnya di hati, bukan di mulut; harus pelan karena Allah SWT Maha Mendengar; tidak mesti dengan suara keras, apalagi sampai diperdengarkan kepada publik via loud speaker.

Yang “lucu”, di Mbah Google saya menemukan seorang blogger mengemukakan “dalil pembenaran” tentang dzikir masal itu. Ada hadits Qudsi dan lainnya. Intinya, majelis dzikir atau dzikir masal dan dengan suara keras itu boleh, bahkan lebih utama!

Nah, yang lucu, ketika ada komentar yang memberi masukan tentang dalil yang menyatakan sebaliknya –yaitu bahwa dalil terkuat menegaskan dzikir itu harus dengan lemah-lembut dan suara pelan, pendukung blogger itu “marah-marah”, menghujat si komentator, misalnya dengan kata-kata “antek2nya Wahaby yg mngaku2 Salafy, Wekekekek….” atau “antum lbh baik ngaca dulu, sudah baikah antum dalam beribadah??”.

Saya pun “kepancing” turut berkomentar: “Masya Allah, diskusi soal dzikir kok begitu…? Bukankah dzikir itu menentramkan hati, menenangkan jiwa?” Yang saya tahu, dalam Al-Quran disebutkan: “Ingatlah, dzikrullah itu menenangkan hati…”

YANG saya simak sejauh ini, dalil tentang perkumpulan dzikir dan dzikir suara keras lebih banyak berupa “tafsir”, interpretasi, kesannya hanya untuk “justifikasi”, bukan hadits otentik semisal qauliyah (sabda/perkataan) Rasulullah Saw.

Sejauh ini saya belum menemukan kisah atau riwayat yang menunjukkan, Nabi Saw dan para sahabat pernah melakukan “dzikir masal” dengan suara keras. Kalau ada yang punya, kasih ke saya ya (di kolom komentar)!

Yang saya temukan, justru qauliyah Rasul melarang umatnya dzikir dengan suara keras.

Misalnya, hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari dalam Shahihain. Ketika para sahabat mengeraskan suara dzikir dlam sebuah perjalanan, Rasul bersabda:

” Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib. Sesunguhnya kalian berdo’a kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat dengan kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri”.

Versi lain: Abu Musa Al-Asy’ari r.a. berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar orang-orang berdoa dengan suara keras, maka beliau bersabda: ‘Hai manusia, tahanlah (kasihanilah) dirimu karena kalian tidak berseru kepada Tuhan yang pekak atau jauh. Sesungguhnya kalian berseru kepada Tuhan yang sangat dekat dan Maha Mendengar” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits lainnya: “Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat (berbisik-bisik) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaannya dengan mengganggu sebagian yang lain.”

Saya menulis tema ini bukan untuk membahas mana yang haq dan mana yang bathil. Wong saya bukan ustadz, bukan ahli hadits… Saya hanyalah seorang jurnalis dan penyiar…  Jadi, maksud saya, please… kasih penjelasan dong, kenapa orang-orang suka dzikir rame-rame, bahkan “teriak-teriak”, sampai pake soundsystem segala? Maaf lho…! Kepada MUI, keluarkan fatwa dong soal ini…!

Majelis dzikir di mana-mana, Gayus dan koruptor tetap saja melenggang (Lho..?! Gak nyambung ya!). Wasalam. (www.romeltea.com).*