Buku Baru! Manajemen Program & Teknik Produksi Siaran Radio

Buku Baru! Manajemen Program & Teknik Produksi Siaran Radio. Membahas seluk-beluk penataan dan pengelolaan acara siaran radio (radio programming) dan produksi siaran radio. Harga Rp34.000. Info dan order: www.nuansa.co

manajemen-program-teknik-produksi-siaran-radio

Di era internet ini dan maraknya media online, fungsi radio mulai tersisih. Akibatnya, beberapa stasiun radio gulung tikar. Namun di sisi lain, ada beberapa yang bisa bertahan dan bahkan makin eksis. Apa rahasianya?

Supaya stasiun radio bisa bertahan dan tetap jaya di udara, diperlukan beberapa langkah, seperti manajemen program (radio programming) dan proses produksi (radio production) program siaran yang kreatif, variatif, dan memenuhi kebutuhahan (needs), keinginan (want) serta kepentingan (interest) pendengar.

Harga: Rp 34.000 saja.
Pesan buku Manajemen Produksi & Program Siaran Radio di www.nuansa.co
CS: nuansa.cendekia@gmail.com IG: bukunuansa WA/SMS: 0818638038

Jenis-Jenis Tulisan Jurnalistik

jurnalistikSecara umum, naskah atau tulisan dibagi ke dalam dua bagian, yakni tulisan fiksi dan nonfiksi.

Tulisan fiksi yaitu tulisan berbasis khayalan atau imajinasi, bukan fakta atau data nyata. Umumnya tulisan ini merupakan karya sastra, seperti cerita pendek, novel, puisi, dan drama.

Tulisan nonfiksi yaitu tulisan yang berbasis fakta dan data, seperti berita, artikel, feature, essay, dan resensi.

Naskah jurnalistik masuk dalam kategori nonfiksi karena ditulis berdasarkan fakta atau data peristiwa. Jadi, ciri utama naskah atau karya jurnalistik  adalah nonfiksi, faktual, atau bukan hasil khayalan.

Naskah jurnalistik dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu berita (news), opini atau pandangan (views), dan karangan khas (feature).

BERITA

  1. Berita (news) adalah laporan peristiwa berupa paparan fakta dan data tentang peristiwa tersebut.
  2. Unsur fakta yang dilaporkan mencakup 5W+1H: What (Apa yang terjadi), Who (Siapa pelaku atau orang yang terlibat dalam kejadian itu), Why (Kenapa hal itu terjadi), When (Kapan kejadiannya), Where (Di mana terjadinya), dan How (Bagaimana proses kejadiannya).
  3. Ada beberapa jenis berita yang dikenal di dunia jurnalistik, antara lain berita langsung (straight news), berita mendalam (depth news), berita opini (opinion news), dan berita foto.
  4. Struktur tulisannya terdiri dari judul (head), baris tanggal (dateline), teras berita (lead), dan isi berita (body).
  5. Prinsip penulisannya antara lain mengedepankan fakta terpenting (mode piramida terbalik, inverted pyramid), tidak mencampurkan fakta dan opini, dan berimbang (balance, covering both side).
  6. Isi berita merupakan fakta peristiwa yang benilai berita (news value), yakni aktual, faktual, penting, dan menarik.

OPINI

  1. Opini adalah pendapat atau pandangan (views) yang sifatnya subjektif mengenai suatu masalah atau peristiwa yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
  2. Jenis-jenis naskah opini antara lain artikel opini (article), kolom (column), tinjauan (essay), tajukrencana (editorial atau opini redaksi), surat pembaca (letter to the editor), karikatur, dan pojok.
  3. Isi tulisan berupa pendapat pribadi penulis berdasarkan fakta ataupun ungkapan pemikiran semata.
  4. Struktur umum tulisan opini/artikel: judul (head), penulis (by line), pembuka tulisan (opening), pengait (bridge), isi tulisan (body), dan penutup (closing).

FEATURE

  1. Feature  (karangan khas) adalah laporan jurnalistik bergaya sastra (gaya penulisan karya fiksi seperti cerpen) yang menuturkan peristiwa.
  2. Isinya penonjolan segi (angle) tertentu dalam sebuah peristiwa, biasanya unsur yang mengandung segi human interest, yakni memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi —keharuan, simpati, kegembiraan, atau bahkan amarah atau kejengkelan.
  3. Mengedepankan unsur hiburan ketimbang informasi.
  4. Biasanya menggunakan “kata berona” (colorful word) untuk menambah daya tulisan.
  5. Jenis-jenis feature antara lain feature berita (news feature), feature artikel (article feature), tips (how to do it feature), feature biografi, feature perjalanan atau petualangan (catatan perjalanan), dan sebagainya.

RESENSI

  1. Resensi  secara  bahasa artinya  “pertimbangan  atau perbincangan (tentang)  sebuah  buku” (WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1984:821).
  2. Kamus Besar Bahasa Indonesia: pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku.
  3. Berisi penilaian tentang kelebihan atau kekurangan sebuah buku, menarik-tidaknya tema dan isi buku itu, kritikan, dan memberi dorongan kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki atau dibeli.
  4. Selain resensi buku, ada pula resensi film dan resensi pementasan drama.
  5. Penulis resensi disebut resensator (peresensi). M.L. Stein (1993:80) menyebut penulis resensi sebagai pengkritik (kritikus). Pendapat mereka, kata Stein, adalah penting karena kadang-kadang mereka dapat menilai apakah sebuah buku akan mencapai keberhasilan atau sebaliknya.
  6. Struktur tulisan: (1) Pendahuluan –berisi informasi objektif atau identitas  buku, meliputi  judul, penulis,  penerbit dan tahun terbitnya,  jumlah halaman, dan –bila perlu– harga. (2) Isi –ulasan tentang  tema  atau judul buku, paparan singkat isi buku (mengacu kepada daftar  isi) atau gambaran tentang keseluruhan isi buku,  dan informasi tentang latar belakang serta  tujuan penulisan buku tersebut. Diulas pula tentang gaya penulisan, perbandingan buku itu dengan buku bertema sama karangan penulis lain  atau  buku karangan penulis yang sama dengan  tema  lain. (3) Penutup –peresensi  menilai bobot (kualitas) isi  buku tersebut secara keseluruhan, menilai kelebihan atau  kekurangan buku tersebut, memberi kritik atau saran kepada penulis dan penerbitnya (misalnya menyangkut cover, judul, editing), serta memberi pertimbangan kepada pemba­ca   tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki/dibeli.

KOLOM

  1. Kolom (column) adalah sebuah rubrik khusus para pakar yang berisikan karangan atau tulisan pendek, yang berisikan pendapat subjektif penulisnya tentang suatu masalah.
  2. Rubrik khusus ini umumnya bernama asli (“Kolom”), namun ada pula media massa yang menggunakan nama lain seperti “Resonansi” (Republika), “Asal Usul” (Kompas), dan sebagainya.
  3. Penulisnya disebut kolomnis (columnist). Dalam kamus bahasa, kolomnis diartikan sebagai seorang penulis yang menyumbangkan karangan (artikel) pada suatu media massa secara tetap.
  4. Isinya hanya pendapat, berbeda dengan tulisan artikel yang berisi pendapat namun disertai tuturan data, fakta, berita, atau argumentasi berdasarkan teori keilmuan yang mendukung pendapatnya tentang suatu masalah.
  5. Nasksh kolom tidak mempunyai struktur tertentu, tapi langsung berisi tubuh tulisan, yakni berupa pengungkapan pokok bahasan dan pendapat penulisnya tentang masalah tersebut. Judulnya pun biasanya singkat saja. Bahkan, dapat hanya satu kata.

TAJUK

  1. Tajukrencana (biasa disingkat “tajuk” saja) dikenal sebagai  “induk karangan” sebuah media massa.
  2. Disebut juga “Opini Redaksi”, yakni penilaian redaksi sebuah media tentang suatu peristiwa atau masalah.
  3. Merupakan “jatidiri” atau identitas sebuah media massa.  Melalui  tajuklah redaksi media tersebut menunjukkan sikap atau visinya tentang sebuah masalah aktual yang terjadi di masyarakat.
  4. Tajukrencana yang berupa artikel pendek dan mirip dengan tulisan kolom ini, biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau redaktur senior yang mampu menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual.
  5. Sikap, opini, atau pemikiran yang disuarakan lewat tajuk adalah visi dan penilaian orang, kelompok, atau organisasi yang mengelola atau berada di belakang media tersebut.

ESAI

  1. Esai (essay) artinya (1) karangan, esei (sastra) dan (2) skripsi.
  2. KBBI mendefinisikan esai sebagai “karangan prosa (karangan bebas) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya”.
  3. Esai dikenal di tiga dunia: jurnalistik, akademis, dan sastra/seni.
  4. Dalam konteks jurnalistik, esai adalah tulisan pendek yang biasanya berisi pandangan penulis tentang subjek tertentu.
  5. Dalam konteks akademis, esai diartikan sebagai “komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subjek tertentu”.
  6. Struktur tulisan esai akademis atau sistematika penulisannya dibagi menjadi tiga bagian: (1) Pendahuluan (berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi), (2) Subjek bahasan dan pengantar tentang subjek), (3) Tubuh atau isi/pembahasan (menyajikan seluruh informasi tentang subjek), dan (4) Penutup berupa kesimpulan (konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subjek).
  7. Bentuk esai dalam konteks akademis dikenal sebagai “esai formal” yang sering dipergunakan para pelajar, mahasiswa, dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
  8. Di dunia sastra atau seni, esai adalah karya sastra berupa tulisan pendek berisi tinjauan subjektif penulisnya atas suatu masalah di bidang kesusastraan dan kesenian. Esai adalah tulisan berisi ulasan tentang sebuah karya sastra dan seni.
  9. Sedikitnya ada tiga jenis esai: narastif, deskriptif, dan persuasif.

TULISAN ILMIAH

  1. Tulisan ilmiah dikenal sebagai “tulisan akademis” (academic writing).
  2. Memerlukan kalimat tesis, premis, dan hipotesis, diikuti “kerangka berpikir” untuk diuraikan lagi dalam beberapa bab dengan riset mendalam.
  3. Metodologi penelitian dan deviasi mesti bisa diuraikan dengan jelas.
  4. Jenis tulisan ilmiah: disertasi, tesis, skripsi, dan artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah.

TULISAN ILMIAH POPULER

  1. Ilmiah populer yaitu tulisan ilmiah yang ditulis dengan gaya penyajian artikel populer atau gaya jurnalistik yang mengedepankan unsur informasi, keumuman, dan mudah dimengerti.
  2. Tulisan ilmiah populer bisa juga diartikan sebagai tulisan ilmiah yang disusun dengan menggunakan bahasa jurnalistik (language of mass communication).
  3. Prinsipnya, menulis artikel ilmiah populer sama dengan menulis artikel populer biasa –proses kerja intelektual yang membutuhkan keahlian khusus (writing technique), latihan, kejelian, daya nalar, wawasan, referensi, etika, waktu, dan… kesabaran.
  4. Seperti halnya semua tulisan, artikel ilmiah populer  juga menjadikan komunikasi sebagai tujuan utama.
  5. Perbedaan utama artikel biasa dengan artikel ilmiah populer utamanya dalam hal dukungan fakta dan teori. Dalam artikel biasa, penulis tidak dituntut menyertakan fakta atau teori sebagai pendukung argumentasi atau opininya.
  6. Karakter utama artikel ilmiah populer adalah opini subjektif penulis disertai fakta-data (biasanya hasil riset) dan teori pendukung tentang suatu masalah atau peristiwa.
  7. Cara dan struktur penulisan sama dengan penulisan artikel opini. Wasalam. (www.romeltea.com).*

—  ASM. Romli a.k.a Romel adalah komunikator profesional –wartawan, penulis, penyiar, editor, blogger, webdesainer, dan guest editor di berbagai media cetak dan media online. Http://romeltea.com. Copyright © 2011 ASM. Romli. All Rights Reserved. See My Books!

Tips Menulis: Ide Ada di Mana-Mana!

“If you have nothing to say, say nothing,” kata Mark Twain. Dalam konteks jurnalistik, maknanya begini ‘kali:  jika Anda tidak punya ide atau tema tulisan, jangan nulis!

Jika benar bermakna demikian, maka ungkapan Mark Twain itu harus diabaikan oleh para penulis karena mereka (kita) memang harus menulis dan (harus) selalu ada ide untuk menulis.

‘Gak punya ide? Hmm, You lie! Ide ada di mana-mana! Asal kata ide ( idein) artinya melihat. Bukankah kita setiap detik melihat (membaca, mendengar, dan merasakan) sesuatu? Peristiwa aktual atau masalah hangat.

Nah, apa pendapat Anda tentang yang Anda lihat itu? Pastinya, secara gitu, punya komentar, reaksi, tanggapan, atau “have something to say/write” dong tentang yang kita lihat itu?

Ide tulisan bisa diperoleh dengan memikirkan sesuatu –peristiwa atau masalah. Sumber ide, antara lain, bacaan (utamanya baca Quran dan koran/berita aktual), pengamatan, pengalaman, pendapat, obrolan, pengetahuan, perasaan, keinginan, dan tontonan.

Dalam bahasa Inggris, ide antara lain dimaknai dengan (1) “the content of cognition; the main thing you are thinking about; (2) your intention; what you intend to do; (3) a personal view; dan (4) The transcript, image, or picture of a visible object, that is formed by the mind.

Ok deh, masalahnya memang malas dan “gak ada waktu” ya…. Itu soal niat, motivasi, dan “manajemen waktu”. Saya sendiri menulis posting ini di sela-sela maintenance and updating situs-situs yang saya kelola, seperti www.ddhongkong.org dan www.pusdai.com, multitasking gitu deh.

Kalau kita memiliki semangat berbagi (share) tinggi, insya Allah kita mau dan mampu menyempatkan diri menulis dan berbagi dengan orang lain. Sharing wawasan dan pengalaman, insya Allah menjadi pengalaman baru dan mengundang wawasan baru pula. Ilmu yang kita bagi, tidak akan habis, malah bertambah. Betul tidak…? Wasalam. (www.romeltea.com).*

Saying Nothing… Sometimes Says The Most!

“Saying nothing… sometimes says the most,” kata Emily Dickinson. Tidak berkata apa-apa –tidak update status di facebook misalnya– kadang kala justru mengatakan banyak hal.

Bisa jadi, dia kelamaan memikirkan makna status yang akan ditulisnya, karena “First learn the meaning of what you say, and then speak,” kata Epictetus. Pertama-tama pelajari dulu makna kata/kalimat yang akan Anda kemukakan, baru bicara (tuliskan).

Bisa jadi pula, ia takut watak dirinya terungkap, karena “Speech is the mirror of the soul; as a man speaks, so is he,” kata Publilius Syrus. Ucapan itu cerminan jiwa; ketika seseorang berkata-kata (tulis status), maka itulah dia –sesuai dengan ucapan/status yang dikemukakannya. Mulutmu harimaumu, statusmu identitasmu, statusmu cerminkan jiwa, personalitas, dan karaktermu!

Tapi, tak mengapa tak update status juga, karena “If you have nothing to say, say nothing,” kata Mark Twain. Kalau gak ada yang harus dikatakan, meneng bae lah!

Btw, tulisan ini dibuat “tidak disengaja” lho…! Tadinya mau nulis status di facebook, eh… malah jadi “note”, habisnya kepanjangan sih! May be… for me, it’s harder to write fb status than an article! Wasalam. (www.romeltea.com).*

Menulis untuk Berbagi

“Dengan menulis, kita berbagai pengetahuan, wawasan, ilmu, dan pengalaman. Insya Allah, itu pun bagian dari mengamalkan ilmu dan menjadi amal saleh.”

KEBUTUHAN berkomunikasi (communicate) dan semangat berbagai (share) adalah dua faktor pendorong utama dalam menulis. Kita akan menjadi penulis atau blogger aktif jika kita merasa butuh berkomunikasi dan memiliki semangat berbagi.

Itulah yang saya pahami dari “kata mutiara”  Leo Rosten –novelis komik Amerika kelahiran Polandia (1908-1997)—seperti dikutip situs thinkexist.com.

“A writer writes not because he is educated but because he is driven by the need to communicate. Behind the need to communicate is the need to share. Behind the need to share is the need to be understood”.

Seorang penulis, kata Rosten, menulis bukan karena ia berpendidikan, tetapi karena ia didorong oleh kebutuhan untuk berkomunikasi. Di balik kebutuhan untuk berkomunikasi adalah kebutuhan untuk berbagi. Di balik kebutuhan untuk berbagi adalah kebutuhan untuk dipahami.”

Saya garisbawahi “the need to share”, semangat berbagi. Dengan menulis, kita berbagai pengetahuan, wawasan, ilmu, dan pengalaman. Insya Allah, itu pun bagian dari mengamalkan ilmu dan menjadi amal saleh. Amin! Jadi, ayo menulis, ayo berbagi! Wasalam. (www.romeltea.com).*

Skill Komunikasi Efektif: Seni Komunikasi

communicationUntuk menjadi orang sukses, kita mesti memiliki keterampilan komunikasi yang hebat dan mesti menjadi pembicara yang hebat pula. Kita lihat bagaimana caranya!

Piawai berkomunikasi dan menjadi pembicara hebat tidak terlalu sulit. Kita “hanya” perlu melengkapi diri dengan keterampilan, gaya, dan amunisi yang benar dalam berkomunikasi.

Berikut ini beberapa tips yang akan membantu kita dalam menciptakan kesan positif kepada orang lain dan mendorong kesuksesan kita.

Be Confident
Percaya diri. Keterampilan penting pertama adalah percaya diri dan kemampuan beradaptasi dengan segala suasana atau lingkungan kerja.

Practice good listening Skills
Hal penting berikutnya adalah kita harus menjadi pendengar yang baik. Kita tidak pernah bisa dapat berkomunikasi dan bercakap-cakap dengan seseorang, jika kita tidak mendengarkan yang orang katakan. Kita akan mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pandangan kita, tetapi sebelum itu kita harus bersabar dan mendengarkan perkataan orang lain dulu.

Think before you speak
Selalu berpikir sebelum berbicara. Luangkan waktu untuk berpikir, jangan terburu-buru berbicara.

Be Updated
Sadar akan dunia di sekitar kita dan menjaga informasi yang kita miliki senantiasa aktual sehingga dapat berpartisipasi dalam percakapan intelektual. Dengan demikian kita bisa berkomunikasi dengan lebih banyak orang.

Don’t Pretend
Kita jangan berpura-pura tahu segalanya dan menganggukkan kepala (pura-pura mengerti) untuk segala sesuatu yang orang lain katakan. Tidak ada salahnya atau bukan hal memalukan kalau kita mengaku tidak memahami topik pembicaraan, bahkan kita bisa belajar dan mendapatkan sesuatu yang baru.

Stay away from Gossip
Jauhi Gosip. Manjakan diri dalam percakapan cerdas dan sehat. Selalu hindari topik-topik sensitif, terutama bila kita tidak mengenal dengan baik orang-orang di sekitar kita, seperti apa agamanya, aliran politiknya, dan kehidupan pribadinya. Kita tidak ingin terjebak dalam adu argumen dan perkelahian yang sia-sia.

Ketika seseorang mulai berbicara tentang dirinya atau masalahnya, jadilah pendengar yang baik, tetapi tidak menawarkan nasihat. Jika seseorang meminta nasihat kita, berbagilah tentang pengalaman serupa yang kita miliki, tetapi tidak memosisikan diri sebagai penasihat.

In Conclusion
The most important thing is be yourself. Yang paling penting adalah menjadi diri sendiri.

(Disadur dari Effective Communication Skills: The Art of Communication by By Prerna Salla @ buzzle.com by Romeltea.com).

MENULISLAH!

  • write2Menulislah karena yang Allah cipakan pertama kali pun adalah pena.
    Menulislah karena ketentuan Allah (takdir) pun didokumentasikan-Nya dengan pena.
    Menulislah karena Allah pun mengajari manusia melalui pena.
    Menulislah karena amal kita pun ditulis malaikat dengan pena.
  • Menulislah karena sang pemegang kunci gudang ilmu, Ali bin Abi Thalib, mengingatkan kita: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!”
    Menulislah karena dengan tulisanlah para ulama “mengabadikan” dan menyebarkan ilmunya.
    Menulislah karena Quran dan Hadits pun terdokumentasi dengan baik dengan tulisan.
    Menulislah karena … (Masih banyak alasan dan kebaikan menulis lainnya).

“Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah SWT adalah pena, lalu Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!”. Pena itu menjawab: “Ya Tuhanku, apa yang mesti aku tulis?” Maka Allah berfirman: “Tulislah ketentuan segala sesuatu sampai datang hari kiamat”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Eksistensi pena (al-qalam) ditegaskan dalam QS. Al-Qolam. “Nun demi pena dan yang telah mereka tulis” (QS. Al-Qalam:1).

Pena menjadi perantara Allah SWT dalam mengajarkan manusia. “Bacalah dan Tuhanmulah yang mengajarkan dengan perantaraan pena. Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahui manusia” (QS. Al-Alaq:3-5).

“Yang demikian itu merupakan sumpah dari Allah Ta’ala sekaligus peringatan bagi makhluk-Nya atas apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka, berupa pengajaran tulis-menulis yang dengannya ilmu diperoleh” (Tafsir Ibnu Katsir). Wallahu a’lam. (www.romeltea.com)*