Pengertian Hard News & Soft News

newsHARD News adalah berita keras. Itu pengertian harfiah. Soft News adalah berita lembut. Ini juga pengertian harfiah atau secara bahasa.

Hard News dan Soft News adalah dua dari sekian jenis berita (news) –produk utama jurnalistik atau  konten utama media massa.

Hard News adalah berita headline atau berita teraktual, lugas, singkat, langsung ke pokok persoalan, yang segera dipublikasikan/secepatnya harus diketahui khalayak. Continue reading

Produksi Berita: Hard News vs Soft News

Pertanyaan

Mas romli, saya ada pertanyaan:

1. saya mencari buku mengenai alur produksi berita media cetak (surat kabar), mulai dari perencanaan, peliputan, penulisan, penyuntingan dan distribusi, ada referensi ttg buku tsb?

2. bedanya berita hard news dan soft news terletak dmn mas?

Terima kasih byk. 🙂

luthfi

Jawaban

1. Silakan dapatkan buku JURNALISTIK TERAPAN, terbitan BATIC PRESS. Pemesanan hubungi icmijabar@gmail.com atau Tlp (022) 7206964. Jika Anda di Bandung, silakan datang langsung ke Bumi Madani ICMI Jabar Jln. Cikutra 276-D Bandung.

2. Hard News itu berita headline atau berita teraktual, lugas, singkat, langsung ke pokok persoalan, yang segera dipublikasikan/secepatnya harus diketahui khalayak. Penulisannya mengikuti struktur piramida terbalik, dengan bagian yang terpenting pada pembukaan berita.

Soft News itu berita ringan, cencerung menghibur, dan laporan peristiwa yang “humanis” (manusiawi). Prinsip penulisannya tidak terikat pada struktur piramida terbalik sebab yang akan ditonjolkan bukan unsur pentingnya, tetapi unsur yang bisa “menyentuh perasaan” khalayak (human touch).

Salah satu literatur jurnalistik menegaskan:

“Hard new generally refers to up-to-the-minute news and events that are reported immediately, while soft news is background information or human-interest stories.

Politics, war, economics and crime used to be considered hard news, while arts, entertainment, and lifestyles were considered soft news”.

Dok. Konsultasi Jurnalistik & Broadcasting http://www.warnaislam.com

Terbukti, Menulis Berita Itu Mudah

Untuk kesekian kalinya, saya membuktikan betapa mudahnya menulis berita (news) dengan formula WHO does WHAT WHEN WHERE WHY HOW dan WHO said  WHAT WHEN WHERE WHY HOW, siapa melakukan apa kapan di mana kenapa bagaimana; siapa mengatakan apa dst; saha ngalakukan naon; saha nyarita naon; fa’ilun yaf’alu syaia; atau ‘amilun ya’malu syai-a dst. MORE

 

Opini dalam Berita: Permalukan dan Terpaksa

lionel-messi1Dalam berbagai kesempatan pelatihan jurnalistik, saya hampir selalu mengingatkan peserta agar menaati kode etik jurnalistik. Salah atu kode etik wartawan itu adalah “tidak boleh mencampurkan fakta dan opini”. Tegasnya, wartawa tidak boleh memasukkan opininya dalam menulis berita. Kalau mau beropini, ya… tulis saja artikel.

Yang sering “melanggar” kode etik tersebut biasanya wartawan olahraga, khususnya sepak bola. Dalam menulis berita, mereka sering menulis berita, misalnya, “Tim A Permalukan Tim B” atau “Tim B Dipermalukan Tim A”.

Kata “mempermalukan” (artinya: membuat seseorang jadi merasa malu) atau “Dipermalukan” (dibuat merasa malu) jelas opini atau paling tidak interpretasi wartawan. Ia yakin, dengan kalah dalam suatu pertandingan, sebuah tim merasa malu atau dipermalukan. Pihak yang menang mempermalukan pihak yang kalah.

Saya sebut penulisan kata “mempermalukan” atau “dipermalukan” sebagai opini wartawan karena biasanya tidak ada narasumber yang mengatakan “saya merasa malu” atau “saya merasa dipermalukan”. Wartawan hanya menduga –dan dugaan ini sebenarnya sangat berdasar alias kuat— pihak yang kalah pastinya merasa malu. Namun, ternyata tidak selalu demikian! Ada kok pecundang yang merasa tidak dipermalukan.

Contoh teraktual dalam kasus itu adalah kemenangan tim sepak bola Barcelona (Barca) atas Real Madrid dalam pertandingan sepak bola Liga Spanyol. Barca menang 5-0. Madrid kalah. Wartawan pun “beramai-ramai” menulis berita, seperti, “Barca mempermalukan musuh abadinya itu (Madrid) dengan skor mutlak 5-0 di Nou Camp” atau judul “Fantastis, Barca Permalukan Madrid” (Liputan6.com).

Jelas, kata “fantastis” dan “permalukan” adalah opini/interpretasi wartawan. Dapat dibayangkan, betapa sakit hatinya pihak Madrid dan pendukungnya membaca berita tersebut dan betapa senangnya pendukung Barca membaca berita tersebut.

Bukti bahwa kata “dipermalukan” adalah opini wartawan adalah pernyataan pelatih Madrid, Jose Maurinho. Diberitakan Liputan6, “Mourinho Tak Terima dengan Kata ‘Dipermalukan’. Ini kutipannya:

“Satu tim bermain sangat bagus (Barcelona), satu lagi sangat buruk. Satu pantas menang, satunya lagi pantas kalah,” papar Mourinho bisa menerima kekalahan tersebut. Tetapi, “Dipermalukan Tidak. Sederhana saja dalam menerima kekalahan ini, kami hanya bermain tidak bagus.”

Nah, jelas ‘kan, “permalukan” bukan fakta, tapi opini. Buktinya, Maurinho menolak dikatakan “dipermalukan” dan tidak ada pernyataan narasumber (pihak Madrid) yang mengaku “merasa malu atau dipermalukan”.

Terpaksa
Contoh lain “pelanggaran” kode etik berupa pencampuran fakta dan opini adalah berita tentang kerusuhan aksi demonstrasi. Jika polisi menembakkan gas air mata atau membubarkan demonstran, wartawan bisanya menulis: “polisi terpaksa menembakkan gas air mata”.

Siapa yang mengatakan “terpaksa”? Jelas, itu opini/interpretasi wartawan jika tidak ada pernyataan pihak polisi yang mengatakan “kami terpaksa…”. Bisa jadi, polisi malah “merasa ikhlas”, menunggu-ngungu momentum, atau “merasa senang” menembakkan gas air mata!

Hemat saya, secara “teori”, penggunaan kata “permalukan” dan “terpaksa” dalam sebuah berita, jika bukan kutipan pernyataan narasumber, jelas itu opini wartawan. Namun, pelanggaran ini “agak bisa dimaafkan” karena penggunaan kata itu lebih merupakan interpretasi ketimbang opini.

Interpretasi adalah pendapat berdasarkan fakta. Opini adalah pendapat berdasarkan penilaian subjektif, bahkan bisa jadi merupakan fitnah atau tanpa dasar.

Namun, sebaiknya memang wartawan menahan diri untuk tidak larut dalam peristiwa saat menulis berita. Pertahankan objektivitas. Toh, inti berita adalah informasi.

Jadi, saya pikir, cukup dengan berita, misalnya, “Barca Kalahkan Madrid 5-0” atau “Polisi Tembakkan Gas Air Mata”. Memang sih, “unsur sensasinya” tidak ada, tapi bagaimana jika pendukung Madrid “ngamuk” gara-gara kata “permalukan”? Itulah pentingnya kode etik. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Siaran Musik dan Berita Sama?

mulyadi saputra Jurnal UIN 4 | butiran_senja@yahoo.co.id

Kang!!! saya jenuh dan mentok untuk……nerusin novel saya!

(*) Itu artiya Anda tidak sepenuh hati menulisnya. Menulis itu panggilan hati, apalagi menulis karya sastra, harus full niatnya. Sok, bismillah lagi….. Kuatkan motivasi. Malas adalah tantangan terberat penulis. Menghadapinya dengan motivasi tinggi. Good Luck!

Mar 15, 1:34 AM — Guest Room

dicky | kytian_su@yahoo.co.id

ass. kumaha damank kang??
upami siaran kanggo di radio acara musik sareng berita sami teu teknikna???
hoyong di bales ayena ahhh
hehhehehehe

(*) ‘alaikum salam. alhamdulillah baik. tenik siaran mah sama saja, rek musik oge berita. Tapi siaran berita mah kudu lebih intelek penyiarna, sebab berita mah “serius” dan penyiar berita harus berwawasan luas, tau background information-nya.

Mar 12, 4:03 PM — Wawancara Harus Nanya Apa?

ikbal thea | bal_7stuck@yahoo.co.id

kang romel bade naros,kumaha benten teu tekhnik wawancara kanggo kriminal , olahraga sareng politik? anatapi sami wae???

(*) Sami wae, sama saja teknik wawancara mah, yang beda cuma topiknya. Sok geura praktekkeun, sama saja lah… Yang jelas, pewawacara kudu paham apa yang ditanyakan atau topik yang ditanyakan, jangan “kosong”.

Mar 12, 4:00 PM — Wawancara Harus Nanya Apa?

adhi | pro2fmsby@yahoo.com

mas… saya adhi dari pro2fm surabaya… saya pengen tanya.. gimana menjadi prgrammer radio dan bagaimana cara penyusunan program yang baik..
ditunggu mas [encerahannya…
terimakasih…

(*) Singkatnya aja ya, kalo panjang “mahal”… he he… Jadi programer harus jeli dengan keinginan pendengar, target pendegar, lalu memadukannya dengan visi-misi-format radio kita. Janga lupa “intip” program radio lain, juga pelajari hasil-hasil survei. Timing juga harus diperhatikan betul biar pas dengan kondisi psikologis atau suasana pendengar. Program radio juga harus perhatikan sumber daya (fasilitas & penyiar pendukungnya). Eh, janga lupa, diskuskan dengan bagian marketing biar mudah cari iklannya. Segitu aja dulu ya… Thanks. Baca juga “Rileks, Kunci Sukses Siaran” diweblog ini.

Mar 12, 3:03 PM — Guest Room

rahadio | rahadio@yahoo.co.id

Assalam’mualaikum wr.wb salam kenal kang, saya Rahadio kebetulan saya mengelola radio swasta di kabupaten kepulauan mentawai, sumatra barat. Kebetulan di daerah saya baru ada 3 radio (radio saya, dan 2 radio komunitas) begini mas daerah saya ni kan terkenal dengan gempa dan ancaman tsunami. Nah sebagai media saya ingin mengemas informasi gempa dan siaga bencana tersebut dengan apik, memikat tapi tidak memberi kecemasan, tp saya g tau caranya. Kalo bisa ni kang, tolong dong kirimin cara membentuk jurnalistik radio yang ringan tp padat informasi, lengkap tp gak menggurui, okey kang, aku tunggu ya blsan emailnya..wassalam

*) Wa’alaikum salam…. saya “agak pelit” kalo udah teknis banget begini nih. Gini aja deh, coba kemas info tadi dalam bentuk insert atau adlibs, baiknya ada dialog ringan/santai tapi serius, jangan lupa sentuhan “joke”. Gitu aja dulu ya… Good Luck!

Mar 10, 3:57 PM — Jurnalistik Radio