Jurnalistik Usung Misi Pencerahan dan Edukasi


Jurnalistik tak berbeda dengan pendidikan. Ia tak sekadar menyiarkan berita atau bahkan mencari sensasi belaka. Bidang itu memiliki misi memberikan pencerahan dan edukasi kepada masyarakat melalui berita yang memiliki nilai informasi dan pengetahuan.

Namun demikian, tak berarti objektif dan bebas nilai sepenuhnya. Pasalnya, subjektivitas jurnalis sangat memengaruhi misi berita.

Hal tersebut disampaikan News Director Metro TV Suryopratomo dan Deputi News Director Media Indonesia Usman Kansong, saat berbicara dalam program Off Air ‘Bangkit Indonesiaku’, di Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok, Selasa (24/5).

“Tak sekedar menyiarkan berita dan kehebohan, tugas (jurnalis) yang noble (mulia) dimulai ketika pemberitaan yang disampaikan bisa mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat,” ujar Suryopratomo.

Untuk mewujudkan idealisme tersebut, ujarnya, jurnalis harus bisa menangkap setiap peristiwa dengan cepat dan benar, supaya menjadi milik publik. Sebuah misi dunia kewartawanan yang sejak awal telah dibangun para tokoh pionir jurnalistik Indonesia.

“Ini tercermin dalam tagline Metro TV Knowledge to Elevate. Bukan sekedar tagline, tetapi dunia jurnalistik punya tanggung jawab menyiarkan informasi yang mencerdaskan,” kata pria yang akrab dipanggil Tommy itu.

Usman Kansong menambahkan, memang tak perlu diragukan lagi dunia jurnalistik harus punya misi mendidik masyarakat. Akan tetapi, tak sepenuhnya objektif dan bebas nilai. Baginya, objektif, independen, dan bebas nilai itu seperti ruang hampa ataupun tanpa kekritisan dalam pembuatan berita. “Pasti melibatkan subjektivitas kita.”

Hal tersebut, lanjut Usman, tercermin dalam telaah kritis bidang semiotika. Dikatakan, berita itu subjektif dan tidak ada yang sama sekali objektif. Hal itu, kata Usman, dapat dilihat dalam pemilihan peristiwa, lead berita, narasumber. Begitupula dalam tesis Rizal Malarangeng yang berjudul ‘Pers Orba’. Menurutnya, mengutip buku itu, berita adalah objektivitas yang subjektif, sementara editorial adalah subjektivitas yang objektif.

“Kalau objektif, semua berita koran sama. Faktanya, lead judul dan angle (berita koran) hari ini berbeda-beda. Pemilihan ini melibatkan subjektifitas dan diksi,” jelasnya

Interes wartawan sebagai subjektivitas manusia dengan beragam latar belakang, tambahnya, juga berpengaruh dalam penulisan berita. Namun, ucapnya, semua itu tak masalah selama interes itu ditujukan demi pendidikan dan kemajuan bangsa. “Interes pasti ada. Manusia itu unik, punya gaya masing-masing.”

Meski demikian, lanjutnya, subjektivitas dan ketidakbebasan nilai dalam suatu berita tetap harus kembali pada fungsi pendidikan. Yang mesti dihindarkan juga, imbuhnya, adalah pengaburan dan penghalusan fakta yang ada melalui subjektivitas pemilihan kata.

“Eufsimisme tidak mendidik. Kemukakan segala sesuatu dengan terusa terang. Jangan dikaburkan. Tak hanya tidak mendidik, tapi juga pembodohan,” tandasnya.

Wakil Rektor UI Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Kerja Sama Industri Sunardji, mengatakan, fungsi pendidikan media perlu dalam konteks pengawasan jalannya negara. Terlebih, kondisi masyarakat haus untuk mendapat informasi. Survei AC Nielsen menyebutkan, 90% konsumsi informasi masyarakat melalui TV masih mendominasi dalam 5 tahun terakhir.

“Menyajikan berita aktual merupakan referensi utama civil sociaty dalam mengawasi jalannya ekskuitif, legislatif, dan yudikatif,” imbuhnya. (MEDIA INDONESIA).*

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s