Jangan Takut pada Wartawan


JANGAN takut pada wartawan menjadi tema Diklat Jurnalistik se-Priangan Timur yang digelar Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Cabang Tasikmalaya, di Hotel Namira, Sabtu (30/4).  Saat menerima undangan sebagai salah seorang pematerinya, saya sempat heran dengan pemilihan tema tersebut.

Menurut Ketua DPC AWI Tasikmalaya, Suyanto, yang mengantarkan langsung undangan itu kepada saya di Bandung, tema itu diangkat agar peserta diklat tidak merasa takut jika menghadapi wartawan.

Rupanya, mayoritas peserta dari kalangan umum, termasuk guru dan PNS. Masyarakat, kata Suyanto, sering salah paham tentang sosok wartawan.

Wartawan dianggap sosok menakutkan, terutama di daerah-daerah, karena maraknya oknum wartawan –lebih tepatnya wartawan gadungan– yang “mengemis” bahkan “memeras”  kepada narasumber.  Saya sudah sering memposting tulisan tentang wartawan gadungan alias wartawan bodrex alias “pengemis berkedok wartawan” itu.

Intinya, wartawan yang menerima suap, minta duit kepada narasumber, atau menyalahgunakan profesi, maka ia telah melanggar kode etik. Seorang profesional yang melanggar kode etik, tentu gugurlah profesinya.

Mendukung tema diklat tersebut, sebagai salah seorang pemateri (bahkan dipercaya menyusunkan modulnya), saya pun menyiapkan materi berupa dasar-dasar dan teknik jurnalistik, plus Media Relations. Harapannya, peserta bukan saja memahami dan menguasai teknik dasar jurnalistik, tapi juga memagami dunia wartawan dan tidak salah paham lagi tentang profesi wartawan.

Wartawan bukan sosok menakutkan. Justru merekalah mata-telinga publik yang siap menyebarkan informasi aktual tentang apa, siapa, kapan, di mana, kenapa, dan bagaimana sebuah peristiwa aktual, faktual, penting, dan menarik.

Wartawan profesional tidak akan mengganggu, menakut-nakuti, mengancam, apalagi memeras.  Kode etik jurnalistik mengharamkan hal itu, sebagaimana haramnya menerima suap dan memeras dalam pandangan Islam. Maka, jangan takut pada wartawan. Jika ada wartawan yang melakukan pemerasan atau “mengemis”, lawan! Jangan takut! Mereka bukan wartawan lagi, tapi pengemis bahkan kriminal berkedok wartawan.

Saya dan para wartawan profesional yang taat kode etik di seluruh Indonesia, bahkan dunia,  berada di belakang Anda yang menjadi korban wartawan gadungan itu.  Lebih jelasnya, khususnya warga Tasik dan sekitarnya, ikuti saja diklat jurnalistik AWI Tasik tersebut. Hayu! Wasalam. (www.romeltea.com).*

3 thoughts on “Jangan Takut pada Wartawan

  1. di daerah indramayu, wartawan sangat menghantui. tolong kiat – kiat agar kita tidak takut dengan wartawan!!!!!!!!!! bales admin

  2. saya seorang kepsek di lembaga pendidkan mts lam-teng,saya sangat jengkel akhir-akhir ini wartawan banyak mendikte kami selaku kepsek mengenai bantuan BSM.dia meminta kasi.mapenda kemenag lam-teng agar membayar uang sebesar 90 juta atau semua sekolah dibwh naungan kemenag harus berlangganan tabloid bulanan mereka namanya “TABLOID DINAMIKA DAN KRIMINAL”.ada sekitar 4 madrasah telah diperas diminta uang kisaran 2 jt sampai 15 jt.tolong ditindak oleh PWI

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s