Koin untuk Presiden


TIDAK lama setelah Presiden SBY “mengeluh” atau “curhat” soal gajinya yang tidak naik-naik selama tujuh tahun, sejumlah pihak menggagas gerakan “Koin untuk SBY” –meniru gerakan serupa, “Koin untuk Prita” ketika masyarakat membantu Pritasari yang “dianiaya” sebuah Rumah Sakit. Gerakan “Koin untuk Prita” berhasil. Ide brilian itu mampu menarik simpati masyarakat berbagai kelas ekonomi, terendah hingga tertinggi.

Kini gerakan koin itu bergulir kembali. Kali ini ditujukan untuk “membantu” Presiden yang (dianggap) masih kekurangan duit meski gajinya sudah Rp 62,7 juta per bulan. Menurut Majalah Economist (5 Juli 2010) seperti dikutip berbagai media, jumlah itu hampir 30 kali lipat dibandingkan PDB (pendapatan per kapita) rakyat Indonesia. Rinciannya, gaji Presiden RI itu Gaji Pokok Rp 30.240.000, Tunjangan Jabatan Rp 32.500.000, sehingga totalnya Rp 62.740.000.

Gerakan Koin untuk Presiden itu tidak hanya muncul di Facebook, seperti Page “Gerakan Rakyat Indonesia Galang koin untuk Presiden SBY” yang sudah diikuti 11,944 facebooker (26/1, Pkl. 11.25 WIB, tapi juga “di dunia nyata”. Misalnya, puluhan warga Situbondo, Jawa Timur, Selasa (25/1), berunjuk rasa dengan membawa kotak amal bertuliskan koin untuk pejabat. Di Ibu Kota, kotak kaca plastik bertuliskan Koin untuk Presiden diletakkan di kursi depan ruang rapat Komisi III DPR di Gedung DPR/MPR Jakarta. Kotak itu sudah terisi ratusan koin Rp 500 rupiah. (Liputan6, 25/1).

Tentu saja, berbeda dengan Koin untuk Prita yang “beneran”, gerakan “Koin untuk Presiden” atau “Koin untuk SBY” itu dimaksudkan sebagai sindiran, sinisme, sekaligus (mungkin) ekspresi “kekesalan” sebagian kalangan masyarakat atas ucapan SBY soal gajinya yang diinterpretasikan media sebagai “keluhan” atau “curhat”.

Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menilai gerakan pengumpulan koin untuk Presiden SBY merupakan bentuk “sinisme politik” yang terlalu bernafsu dan tidak mengesankan. “Itu lebih merupakan cermin dari sinisme dan kenyinyiran politik yang tidak mengesankan dan jauh dari asas manfaat,” katanya (Kompas, 25/1).

Dikatakan Anas, sebenarnya para penggagas dan pengikut gerakan itu tahu bahwa SBY tidak mengeluh dan menyoal gajinya, dan SBY juga tidak minta kenaikan gaji.

Gerakan Koin untuk SBY itu, dalam konteks komunikasi, memang bentuk sinisme. Menurut literatur, sinisme adalah ungkapan yang bersifat mencemooh. Bisa pula merupakan “satire”, yakni ungkapan untuk mengecam atau menertawakan.

Yang “paling bersyukur” atas “selip lidah” SBY adalah para oposannya. Isu gaji pun membesar dan jelas, sebagaimana umumnya sikap politisi, menjadikannya sebagai “idea” dalam kampanye politik guna menjatuhkan citra SBY lebih dalam dan lebih dalam lagi. “Goal”-nya, jelas, Pemilu dan Pilpres 2014!

Lagian, kata orang awam seperti saya, ngapain pula Pak Presiden “sembarangan” bicara soal gaji, di tengah kesulitan ekonomi yang masih mendera rakyat kecil seperti saya dan di tengah memanasnya suhu politik. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s