Ketika Rezim Berbohong


liarPemerintah SBY divonis berbohong oleh sejumlah tokoh agama. Disebutkan, sedikitnya ada 18 kebohongan pemerintah, antara lain menyangkut angka kemiskinan, kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi, ketahanan pangan dan energi yang gagal total, anggaran pendidikan yang terus menurun, pemberantasan teroris yang belum maksimal, penegakan HAM yang tidak ada tindak lanjut hukumnya, dan kasus Lapindo yang penyelesaiannya belum jelas.

Selain itu, pemerintah dinilai berbohong atas tidak adanya transparansi dalam menjalankan pemerintahan terkait mundurnya Sri Mulyani dari posisi Menkeu, kasus pelecehan dan kekerasan terhadap para TKI di luar negeri, tidak adanya reaksi atas masalah kedaulatan NKRI saat tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan ditangkap polisi Malaysia.

Kebohongan lainnya menyangkut penegakan hukum, kasus rekening gendut polisi, intimidasi terhadap antikorupsi, dan kasus “lawatan” terdakwa mafia pajak Gayus Tambunan ke sejumlah lokasi.

Presiden SBY bereaksi dengan mengundang para tokoh lintas agama itu tadi malam. Ada pendapat, pertemuan tadi malam untuk “membungkam” para tokoh itu. Namun, seperti diberitakan Wartanews (18/1), kedatangan tokoh agama ke Istana Negara seperti dimanipulasi Presiden SBY. Pasalnya, pertemuan tertutup selama empat jam itu tak menyentuh substansi persoalan.

Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengaku telah menyiapkan langkah agar tidak terjebak dalam politik pencitraan SBY. Tapi, sepertinya semua itu kandas. Din tak bisa menyembunyikan kekesalannya atas pertemuan tersebut. “Saya sangat meyakini kekuatan dialog dan dialog perlu kita lakukan. Alhamdulillah direspon dengan baik. Tadi belum sampai substansi,” ujarnya.

Aktivis PGI, Jerry Sumampouw, menilai SBY selalu berkelit dalam dialog dengan para agamawan. Bahkan, 18 kebohongan SBY yang dibaca ulang di Istana tak mendapat respon yang cukup baik. Pembahasan tidak masuk subtansi. Fakta kebohongan malah dibalas dengan keberhasilan yang dicapai pemerintah. Padahal, semua itu hanya dinikmati segelintir orang.

Berbohong dalam politik praktis dianggap biasa. Dalam konteks komunikasi dikenal sebagai “komunikasi manipulatif”.

Dalam perspektif Islam, istilah bohong itu sangat keras. Kata ustadz saya, bohong atau dusta termasuk ciri orang munafik yang tempatnya nanti di neraka paling bawah, fid darkil asfali minan naar.

Jika benar pemerintah berbohong, maka dalam perspektif Islam pemerintah munafik. Kita, rakyat, menilai dan merasakan, nyata-tidaknya kebohongan itu. Diam sajakah kita? “Revolusi rakyat” pekan lalu sukses di Tunisia. Sejumlah negara Arab lain pun was-was. Indonesia? Wallahu a’lam.* (www.romeltea.com).*

One thought on “Ketika Rezim Berbohong

  1. dalam kondisi apapun, SBY selalu memanfaatkan peluang untuk pencitraan. urusan pencitraan SBY jagonya – teuing timna ketang. kita bisa terlihat ketika acara dialog dimulai, SBY berpidato dengan sangat simpatik, disiarkan secara live. tetapi ketika bagian orang lain bicara, media langsung “diusir” dari ruangan pertemuan. padahal respon tokoh agama mungkin saja negatif terhadap pidato SBY.

    jadi memang sangat jelas SBY itu pantasnya jadi bintang iklan Citra, nu sok dipake ku awewe tea gening, lain presiden sebuah negara. hehe.. heureuy ketang.. tp kl dianggap serius yaaa… begitu lah

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s