Catatan dari Yogya (2): Sensasi Kopi Jos!


kopi-jos1”Bung, dateng ke penginapanku ya, jam 10-an deh, ente mesti antar ane jalan-jalan, nikmati malamYogyakarta,” saya SMS Bung Dipo Andi, kawan lama yang dulu sama-sama di Majalah Kandidat Jakarta (2003-2004). ”Yoi mas bro…,” jawab seniman-pelukis Yogya yang kini sudah menjadi “international artist” dan punya studio sendiri ini (mantap, alhamdulillah brother…)

Jam 10-an, usai saya ngisi acara Workshop Media Online Litbang Deptan di Kampus MMTC Yogyakarta, Bung Dipo tiba, jemput saya. Kami meluncur, keliling kota Yogya.

Malioboro? Pastinya dong….! Wajib tuh, meski kata Bung Dipo, Malioboro kini agak berkurang pamornya. Penyebabnya, ”ketidakpastian harga makanan”. Wah, hati-hati tuh, mesti ditertibkan oleh pihak berwenang, ’kan yang rugi nanti wisata kuliner Yogya juga tuh…!

kopi-jos2Sebelum ke Malioboro dan tempat menarik lainnya, saya diajak nongkrong untuk menikmati sensasi Kopi Jos di ”angkringan” (bahasa Jawa ”angkring” = duduk santai), sebelah utara Stasiun Tugu.

Tidak ada yang ”aneh” dengan rasa kopi jos. Yang unik, namanya itu, kopi jos. Dinamakan kopi jos karena ada tambahan arang, ya… arang! Arang yang masih membara dimasukkan ke dalam kopi. Bunyinya ’kan ”josss…!” Jadilah namanya kopi jos!

Mungkin, tambahan bara arang itulah yang membuat orang penasaran. Apalagi, penjual memberi embel-embel jos (artinya ”memiliki kekuatan yang luar biasa”) sehingga menarik minat konsumen.

Para penikmat kopi jos mereka bisa ngobrol, lesehan beralas tikar di trotoar, sampai larut malam.

”Wah, kita minum air arang nih…!” kelakar saya sambil menujukkan sang arang dalam sendok gelas kopi jos. ”Baru kerasa arangnya pas air kopinya mau abis.”

"Musisi jalanan mulai beraksi... Saat kita sering luangkan waktu..."

"Musisi jalanan mulai beraksi... Saat kita sering luangkan waktu..."

Di sela-sela asyik menikmati kopi jos dan makanan ringan, perhatian saya teralihkan pawai sepeda dan becak hias di jalan raya. Oh, ternyata, merayakan HUT Yogya.

Saat ”musisi jalanan mulai beraksi”, menghibur kami dan ”para tetangga” yang larut dalam keasyikan kopi jos dan obrolan ngalor-ngidul, saya pun ikut bersenandung… ”Pulang ke kotamu…. ada setangkup haruku dalam rindu….”. Mantap, Yogya! Thanks Bung Dipo….! Wasalam. (www.romeltea.com).*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s