Tak Ada PLTSa di Hong Kong


me1

* Sejumlah PLTSa di China Ditutup karena Masalah Kesehatan

”Kang, ada PLTSa ’gak di Hong Kong?” Itu pertanyaan seorang warga Griya Cempaka Arum, Gedebage, Bandung, yang mengetahui keberadaan saya di Hong Kong (5-31 Agustus 2010) untuk acara Diklat Penyiar Radio Perantau Indonesia Hong Kong.

Ia mewakili keresahan sekaligus ”kegeraman” segenap warga GCA dan sekitarnya terkait kengototan Pemkot Bandung untuk mendirikan Pabrik Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di dekat permukiman, di wilayah Bandung Timur.

Resah karena para pakar lingkungan yang bersih dan independen menyatakan penolakan atas PLTSa. Pabrik itu dinilai berbahaya; mengancam lingkungan hidup dan nyawa manusia karena kandungan dioksin atau gas beracunnya, seperti gas mercury. Geram karena Pemkot Bandung ”buta mata dan hati”, tidak melihat dan mendengar penolakan warga dan pakar lingkungan.

Setelah tanya sana-sini –termasuk kepada beberapa warga Hong Kong, plus browsing di situs pemerintahan Hong Kong, jelas tidak ada PLTSa di Hong Kong. Pemerinah Hong Kong menerapkan konsep 3R dan Landfill untuk mengelola sampah.

Setahu saya, tidak ada, karena HK menerapkan pengolahan sampah dengan 3R dan Landfill. Hong Kong bercermin kepada Cina yang menjadi kota paling polutif di dunia, salah satunya karena memiliki PLTSa. Bahkan, Beijing diguncang aksi demo warga yang menentang pabrik sampah di dekat permukiman mereka. Pemerintah pun menutup pabrik sampah tersebut.

Pada Oktober 2009, seperti diberitakan Epochtimes.com (28/10/2009), puluhan ribu penduduk Kota Pingwang, Provinsi Jiangsu, China selatan, protes terhadap pabrik pembakaran sampah (PLTSa) yang sedang dibangun karena terlalu dekat dengan tempat tinggal mereka pada 21 Oktober. Pihak berwenang setempat mengirimkan 3.000 polisi anti huru-hara untuk membubarkan kerumunan.

Pabrik pembakaran sampah, yang dimiliki oleh Perusahaan pembakaran Sampah Wujiang, yang hanya 0,6 kilometer dari Kota Pingwang dan 160 meter dari daerah pemukiman terdekat. Ada tempat penitipan anak, SD dan SMP dalam radius 0,6 kilometer, dengan pusat penitipan anak terdekat hanya 0,3 kilometer dari pabrik.

Khawatir tentang pencemaran lingkungan dan masalah-masalah kesehatan terkait, penduduk setempat turun ke jalan untuk melakukan protes pada hari yang sama. Menurut penduduk setempat, selama masa percobaan berjalan pada 19 Oktober pabrik sudah mengeluarkan bau busuk dan asap ke seluruh kota Pingwang.

Koran lokal Yangtse Evening News, yang dijalankan oleh negara, menerbitkan pemberitahuan dari pejabat setempat pada 22 Oktober mengatakan bahwa karena kekhawatiran publik, pabrik pun ditutup.

Penduduk setempat mengatakan pemerintah tidak meminta pendapat mereka sebelum membangun pabrik.

Penduduk lain dihubungi oleh The Epoch Times, seorang wanita bernama Chu, berkata, “Saya pasti menolak pabrik itu. Rumah saya hanya tiga mil jauhnya dari pabrik. Polusi sangat buruk dan berbahaya bagi kesehatan kami. Asap dari pembakaran sampah mengandung zat-zat beracun yang dapat menyebabkan kanker. Pemerintah tidak mencari komentar publik sebelum mereka memutuskan untuk membangun pabrik. Ada banyak orang yang memprotes ketika pabrik sedang dibangun. ”

“Para pejabat pemerintah daerah semua tinggal di Kota Wujiang. Mereka sama sekali tidak peduli tentang kehidupan kami. Mereka mulai meminta pendapat kami hanya tujuh hari sebelum pabrik mulai beroperasi,” kata Chu.

Protes massa serupa terhadap pabrik pembakaran sampah telah terjadi di Beijing, Nanjing, Guangzhou dan tempat lain sebagai akibat dari masalah kesehatan.

Pabrik pembakaran sampah memainkan peran paling penting dalam emisi dioxin yang dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius seperti kanker.

Sebuah laporan tahun 2005 dari Bank Dunia memperingatkan, jika China membangun pabrik pembakaran sampah (PLTSa) dengan cepat dan tidak membatasi emisi mereka, tingkat dioksin atmosfer di seluruh dunia bisa berlipat ganda.

Ahli lingkungan China juga menunjukkan, pencemaran lingkungan di China saat ini adalah serius; masyarakat dengan banyak limbah dan pabrik pembakaran sampah merupakan daerah berisiko tinggi untuk masalah kesehatan. (EpochTimes).

Maka, China saja menutup PLTSa karena masalah kesehatan, mengapa Bandung malah ngotot mendirikannya?

Hong Kong Terapkan 3R & Landfill

Pemerintah Hong Kong sangat mencintai warganya. Karenanya, mereka tidak akan mencelakakan warganya dengan mendirikan PLTSa. Hong Kong memilih sistem 3R dan Landfill.

Konsep 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) sampai sekarang masih menjadi cara terbaik dalam mengelola dan menangani sampah dengan berbagai permasalahannya. Penerapan sistem 3R menjadi salah satu solusi di samping komposting. Sistem 3R bahkan dapat dilaksanakan oleh setiap orang dalam kegiatan sehari-hari.

3R terdiri atas reuse, reduce, dan recycle. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Konsep landfill adalah sistem pengolahan produk buangan yang baik. Landfill ialah pengelolaan sampah dengan cara menimbunnya di dalam tanah. Di dalam lahan landfill, limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam tanah menjadi senyawa-senyawa gas dan cair. Senyawa-senyawa ini berinteraksi dengan air yang dikandung oleh limbah dan air hujan yang masuk ke dalam tanah dan membentuk bahan cair yang disebut lindi (leachate).

Jika landfill tidak didesain dengan baik, leachate akan mencemari tanah dan masuk ke dalam badan-badan air di dalam tanah. Karena itu, tanah di landfill harus mempunya permeabilitas yang rendah. Aktifias mikroba dalam landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2 (pada tahap awal – proses aerobik) dan menghasilkan gas methane (pada proses anaerobiknya).

Gas landfill tersebut mempunyai nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. Sistem pengambilan gas hasil biasanya terdiri dari sejumlah sumur-sumur dalam pipa-pipa yang dipasang lateral dan dihubungkan dengan pompa vakum sentral. Selain itu terdapat juga sistem pengambilan gas dengan pompa desentralisasi.

Sampah di Hong Kong mencapai 6,4 juta ton per tahun. Menurut wesite resmi pemerintah Hong Kong, tahun 2015 lahan-lahan landfill HK akan penuh, namun mereka tidak akan mendirikan PLTSa.

Sejumlah arena landfill tersbar di HK, seperti West New Territories Landfill (WENT) Nim Wan, Tuen Mun, South East New Territories Landfill (SENT) Tai Chik Sha, Tseung Kwan O, North East New Territories Landfill (NENT) Ta Kwu Ling.*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s