Catatan · General

Catatan dari Hong Kong (10) : Sensasi Shalat Tarawih di Taman Victoria


* Indahnya Toleransi Warga Hong Kong

Bagi yang penasaran, tulisan di belakang kaos saya "Bandung Koes Community".*Usai Diklat Penyiar Radio RPI Session III (22/8), sekitar jam 14.30, saya “kabur” meninggalkan lokasi pelatihan –Studio RPI. Lihat-lihat barang di Family Store samping studio, lalu meluncur ke sebuah taman di King’s Road, Tinhau. Melepas lelah sendiri. “Cari angin,” jawab saya ketika seorang panitia bertanya. Capek bangedh rasanya hari itu. Entah mengapa nyaris semua peserta minta foto bareng. Macam selebritas saja saya niy… Nggak deng, sekadar buat foto kenangan, betul betul betul?

Tadinya sih mo ke Kowloon, ditemani BMI yang ada di Kowloon, juga untuk “cari angin”, sekadar “hang out” di Kowloon Park, namun yang ditunggu tak kunjung tiba. Rupanya ia tak bisa meninggalkan tugasnya. Syukurlah, seorang peserta diklat –namanya siapa ya… sebut saja siti deh– “mergoki” saat saya lagi “ngelamun” di dekat halte bus. Siti pun saya minta untuk antar saya menuju kantor Dompet Dhuafa.

Rupanya rencana berubah. Kami malah jalan-jalan ke Victoria Park. Saya mengamati “kelakuan” para perantau Indonesia yang memadati taman terpopuler di HK itu. Aktivitas pada perantau yang sedang menikmati hari liburnya itu sangat beragam, ada yang “menyendiri”, sekadar duduk-duduk dan ngobrol dengan dua-tiga kawannya, banyak juga yang beraktivitas bersama kelompoknya.

Kelompok-kelompok perantau itu –konon mencapai ratusan jumlahnya– juga beragam, mulai dari kelompok pengajian atau majelis ta’lim –seperti Kelompok Pengajian Victoria, kelompok “free dancer” dengan pakaian yang “alakadarnya” namun “bad looking banget” untuk mata orang Indonesia, ada kelompok “tomboy”, bahkan –istighfar nih– ada klub lesbian. Uniknya, semoa kelompok itu beraktivitas dalam taman yang sama, Victoria, atau di tempat lainnya dan tidak saling ganggu. Semua kelompok menerapkan sikap toleransi tinggi, setinggi toleransi warga dan pemerintah Hong Kong terhadap eksistensi para perantau dengan beragam aktivitasnya itu.

Puluhan mungkin ratusan aktivitas perantau Indonesia berlangsung di Victoria Park setiap minggu. Maunya sih “mengamati” dari dekat satu per satu aktivitas mereka dan melakukan wawancara, namun belum sempat. May be next Sunday…

Di Victoria Park itu pula saya berkesempatan memenuhi “undangan” kawan-kawan dari kelompok Teater Angin, kelompok teater yang didirikan oleh perantau Indonesia di HK. Mereka sudah menerbitkan beberapa buku seperti Kolecer & Hari Raya Hantu: 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal dan Yam Cha: Kumpulan Karya Buruh Migran. Usai ngobrol ringan seputar teater dan kepenyiaran, saya menerima “cinderamata” berupa buku Yam Cha lengkap dengan tanda tangan sejumlah penulisnya. Thanks ya… kawan-kawan!

“Petualangan” berakhir di pertemuan kelompok perantau lainnya, Forum Lingkar Pena (FLP) Hong Kong. Rupanya, yang antar saya mengabarkan kepada FLP bahwa dirinya berhasil “menculik” saya. Lokasinya di “Pendopo” Victoria Park. Kami ngobrol seputar kepenulisan. Bayangkan, betapa saya “ceramah” nonstop: mulai jam 10 s.d. 14.00 dalam diklat penyiar di Studio RPI, dilanjut di kelompok Teater Angin di Victoria Park sekitar 30 menit, dan di FLP HK sekitar 1 jam –dihentikan oleh “bedug magrib” alias saat berbuka.

Sensasi pun dimulai. Kami berkumpul di Pendopo Victoria Park, berdampingan dengan warga HK yang lagi “hang out” main Mahjong. Seperti tampak dalam foto, betapa saya –kami– merasakan sensasi shalat Maghrib berjamaah di samping warga HK. Mereka “cueks”, toleransi yang begitu tinggi. Semoga mereka mendapatkan hidayah. Amin…!

Sensasi berlanjut saat kami, saya dan beberapa perantau “tersisa”, bersepakat shalat isya dan tarawih di sana. Kami memilih di taman, di bawah pepohonan rindang, agar anginnya kenceng. Soale, wuih… udara HK panasnya minta ampun bagi saya yang terbiasa dengan kesejukan kota Bandung. Saat kami shalat, warga HK lalu lalang di samping kami. Yang main Mahjong pun terus asyik dan “mengabaikan” kami. Hmmm… Indahnya toleransi warga Hong Kong.

“Lakum dinukum waliya din…” Untukmu agamamu, untukku agamaku, berlaku di HK. Subhanallah, walhamdulillah. Wasalam.*

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s