Catatan dari Hong Kong(9): 'Ngobrol' dengan Pejabat KJRI


Mushala Al-Falah, KJRI Hong Kong.*

Mushala Al-Falah, KJRI Hong Kong.*

Usai shalat Jumat (20/8),saya mewawancarai pejabat Konsulat Jenderal RI (KJRI), Drs. Hari Budiarto. PakHari ini bisa dibilang “kepala kantor” KJRI. Jabatan resminya”HOC”, Head of Chancery/Consul (Consular and Protocol).

Saya mewawancarainyakarena tertarik dengan obrolan sebelumnya, obrolan “tak sengaja” saatnunggu waktu Isya di Mushola Al-Falah KJRI Hong Kong, tentang BMI/TKW di HK.Waktu itu dia bilang, banyak perantau alias BMI (Buruh Migran Indonesia) alias TKW yang “bermasalah”dan ditangani KJRI.

“Jangan direkam,” katanya,begitu saya ngeluarin HP untuk merekam. Saya pun tak jadi merekamnya. Jadilah”obrolan biasa”, bukan wawancaranya, tapi intinya sih wawancara juga!

Menurut Pak Hari, KJRI–bahasa Inggrisnya: Consulate General of the Republicof Indonesia— yang beralamat di 127-129Leighton Road, Causeway Bay, agak kewalahan jugamelayani sekitar 136.000 BMI di HK. “Tapi syukurlah, pemerintah Hong Kong punya’political will’ untuk melindungi BMI sehingga tidak terlalu banyak masalahdibandingkan dengan TKI di Malaysia atau Saudi misalnya,” ujarnya.

Dikemukakan, kasus BMIbermasalah di HK hanya kurang dari 1%. Itu pun lebih banyak disebabkan olehketidaksiapan BMI sendiri bekerja di HK. “Khususnya masalah komunikasi,”tegasnya. “Banyak BMI yang baru datang, bekerja, mengalami hambatan dalam masalah komunikasidengan majikan, jadinya terjadi miskomunikasi, salah paham,” jelasnya.

Selain itu, lanjut PakHari, faktor ketidaksiapan mental dan skill. “Mereka jadi bermasalah karenabelum siap bekerja. Belum lagi yang pihak keluarganya, seperti suami, yangbelum siap juga ditinggal istrinya bekerja di HK,” ujarnya seraya mencontohkansang suami di Indonesiajustru enak-enakan menikmati kiriman uang sang istri. “Bahkan pernah sampaibunuh diri karena tak tahan suaminya selingkuh,” terangnya.

Pak Hari menekankan jugapentingnya agama bagi BMI yang bekerja di HK. Ia mengaku gembira banyak BMIberjilbab, religius, taat beragama. “Kami sangat senang dengan mereka, tidakada masalah, bahkan kami fasilitasi kegiatan keagamaan mereka, seperti diMushola (Al-Falah, KJRI) ini,” jelasnya.

Kelemahan dalam hal agamamembuat munculnya kasus-kasus seperti hamil di luar nikah dan kawin campur(beda agama). “Alhamdulillah, banyak juga yang berhasil menarik suaminya jadiMuslim. Orang Hong Kong ‘kanbanyak yang kurang pedulikan agama,” ujarnya.

Staf KJRI ada 18 orangplus sekitar 36 pegawai lokal. Secara umum, tugas KJRI adalah melindungi danmelayani warga Indonesiayang ada atau bekerja di HK. Dijelaskan, tidak semua orang Indonesia di HK ituBMI atau TKI/TKW. “Adasekitar 20.000 non-BMI. Mereka adalah pengusaha dan sebagainya.” Ia merasagembira dengan kebijakan pemerintah HK yang menyamakan BMI/TKW dengan pekerjalokal (warga HK), seperti soal standar gaji (minimal HKD 3,583) dan hari libur.

Menurutnya, negara palingbaik perlakuannya kepada BMI/TKI/TKW adalah Hong Kong, lalu Taiwan, Singapura, dan Korea. KJRI sendiri memberikanpembinaan kepada BMI di HK ini dengan mengadakan kursus-kursus keterampilangratis. Pendanaannya dibantu oleh bank-bank Indonesia yang membuka kantorcabang di HK, seperti BNI, BRI, dan Bank Mandiri.

“Kita mengadakan program’welcoming’ bagi BMI yang baru datang, berupa pemberitaan informasi danbimbingan. Bagi BMI yang sudah bekerja 4-5 tahun, kita berikan program ‘ExitProgram’, berupa pembekalan agar pulang ke tanah air dan bisa mandiri di Indonesia.

Menurut Pak Hari, tidaksemua BMI beruntung. Adajuga yang tidak beruntung, misalnya mendapatkan majikan yang galak atau tidaktaat hukum. KJRI sendiri menyediakan shelter atau tempat penampunganberkapasitas 20 orang.

Dikemukakan, sekitar 50%BMI/TKW di HK berasal dari Jawa Timur, 31% Jawa Tengah, dan sisanya dari JawaBarat, Lampung, Kalimantan, dan lain-lain. “Dari Jawa Barat sekitar 8%,”jelasnya saat menyadari saya berasal dari Bandung,Jabar. “Kalo Jabar ‘kanumumnya ke Saudi atau Timur Tengah,” tandasnya.

Ada saran Pak Hari buat calon BMI atau warga Indonesiayang berminat bekerja menjadi TKW di Hongkong. Pertama, siapkan mental dirisendiri, juga mental keluarga. Keluarga di Indonesia harus pandai mengelolauang kiriman dari HK, misalnya dengan membuka usaha, warung, atau lainnya.

“Jangan lupakan bekaliman, agama yang kuat,” tegasnya karena di HK tidak sedikit juga yang merasabebas, jauh dari pengawasan keluarga dan tetangga. “Jangan lupakan jugaketerampilan, khususnya dalam mengurus rumah, seperti nyalain listrik dansebagainya, terutama keterampilan komunikasi. Harus menguasai bahasa setempat (Hong Kong),” pungkasnya.*

Advertisements

One thought on “Catatan dari Hong Kong(9): 'Ngobrol' dengan Pejabat KJRI

  1. by jabon

    wah enak ya bisa go t hongkong …

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s