Catatan dari Hong Kong (7): Mereka Bukan PRT Biasa!


romelteahk3Sebelumnya saya mohon maaf jika harus menggunakan istilah PRT (Pembantu Rumah Tangga). Terus terang, saya merasa kurang nyaman menggunakan istilah itu. Saya lebih suka menggunakan istilah “perantau”. Namun, agar mudah dimengerti dan “spesifik”, “terpaksa” saya gunakan kata PRT. BMI atau perantau yang “terpaksa” bekerja sebagai PRT sendiri lebih menyukai istilah “domestic helper” alias… PRT juga sih Indonesianya mah…

Istilah “resmi”-nya sih BMI, Buruh Migran Indonesia (BMI). Mayoritas bekerja di sektor rumah tangga, ya… jadi PRT itu. Tapi, jangan “underestimate” dengan mereka.

Paling tidak, BMI/PRT yang saya temui dan “akrabi” selama di Hong Kong sejak pertama kali ke Hong Kong pada Desember 2009 lalu dan kedua kalinya sejak 5 Agustus 2010 lalu, “bukan PRT biasa”.

Paling tidak ada sekitar 100-an PRT asal Indonesia di Hong Kong (HK) yang saya kenali atau mengenal saya via Diklat Penyiar Radio RPI (Radio Perantau Indonesia) –Radio Internet/Streaming Radio, http://www.radioperantau.com– yang digelar Dompet Dhuafa HK (Desember 2009 & Agustus 2010).

Belasan di antaranya nyaris tiap hari bertemu dengan saya karena mereka tinggal di Shelter DDHK di Haven Street, Causeway Bay, HK.

Shelter adalah istilah bagi sebuah kamar atau apartemen tempat tinggal para PRT/BMI yang bermasalah –mulai masalah visa, putus kontrak kerja, dan entah apa lagi. Di Shelter itu pula para PRT yang libur –sehari dalam seminggu, umumnya hari Minggu– berkumpul, bersilaturahmi, dan… belajar menimba ilmu, mulai ilmu agama (pengajian), hingga keterampilan (life skill) seperti kursus menjahit, memasak, bahasa Inggris, komputer, dll.

Saya katakan mereka bukan PRT biasa karena dua alasan utama. Pertama, mereka tidak semata-mata cari duit, tapi juga mengisi hari liburnya dangan beragam atau “bejibun” aktivitas tadi –pengajian, kursus, dll. Bagi mereka –at least BMI/PRT yang saya temui, HK bukan saja tempat mencari uang, namun juga tempat menempa diri menjadi manusia yang lebih berkualitas dan berilmu.

HK menjadi semacam “life university”, sekolah informal bagi mereka. Di negara maju bekas jajahan Inggris ini, mereka juga belajar menjadi bangsa yang maju. Mereka banyak belajar dari warga HK, mulai dari cara berjalan (cepat) hingga “taat asas” (disiplin, taat peraturan e.q. peraturan lalu lintas).

Kedua, gaji mereka sangat tinggi untuk ukuran gaji PRT bahkan karyawan di Indonesia. Gaji minimal atau standar gaji sebagai PRT di HK ini HK$3,580 per bulan (sekitar Rp 4 Juta).

“Semua PRT asing di Hong Kong, apa pun kewarganegaraannya, harus menerima gaji seperti yang tercantum dalam kontrak kerja standar yang tidak boleh kurang dari gaji minimum yang ditetapkan oleh pemerintah. Bagi kontrak kerja yang ditandatangani pada tanggal atau setelah tanggal 10 Juli 2008. Gaji minimum yang ditetapkan adalah HK$3,580 per bulan.” (Buku Layanan Hong Kong).

Gaji besar, ada hari libur minimal sehari dalam 7 hari, ada shelter jika ada masalah, dan kenyamanan lain membuat BMI/PRT sangat betah bekerja di HK. Sayangnya… (ah, yang ini nanti aja ditulisnya kalo udah pulang ke Indo).

Sekali lagi, PRT yang saya temui selama di HK “bukan PRT biasa”. Mereka tidak saja berpenghasilan besar, tapi juga rajin membina diri dengan pengajian dan life skill, terorganisasi dalam shelter, halaqoh (pengajian/pertemuan/klub), dan sebagainya.

Kalo boleh kasih saran: jangan lupa kampung halaman ya. Satu lagi, jangan pernah merasa “ujub” dan merasa bukan orang Indonesia lagi…. jangan bilang begini:  “Ah dasar orang Indonesia… Ah, dasar lidah Indonesia…!” dan semacamnya, ya, Anda juga ‘kan masih orang Indo?

Satu lagi deh, jadilah orang Indonesia, jangan “berusaha” jadi orang HK; jadilah seorang Muslimah –jika Anda beragama Islam. Beberapa BMI/PRT yang saya temui di jalan, di bus, atau MTR, berbusana ala cewek HK nan seksi, aha… kagak pantes deh…! Be Yourself, oke? (Sorry…). Wasalam.*

One thought on “Catatan dari Hong Kong (7): Mereka Bukan PRT Biasa!

  1. Menarik tulisannya. Citra PRT memang harus dirubah menjadi setara dengan pekerja lainnya, diantaranya gajinya besar dan bermartabat (eh kayak kota Bandung, hehe…).

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s