Catatan dari Hong Kong (6): Tulisan Perantau


aliyah

Aliyah Purwati, Aktivis Teater Angin Hong Kong.*

Usai Diklat Session II, Ahad (15/8), saya ngobrol2 dengan seorang perantau, masih muda, namanya Aliyah. Istilah kerennya, saya diwawancara gitu deh… Nah, ini hasil wawancara dan kesannya. Dia tulis di Note Facebooknya berjudul :

“BMI di mata Romel Tea dan ketidakseriusan pemerintah dalam melindungi BMI”

Oleh Aliyah Purwati

SUASANA hiruk piruk ketika saya tiba di sekretariat Perantau Indonesia (PERI) yang berlokasi di Tin Hau, pada Minggu (15/8) lalu. Saya sempat tercengang, karena itu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di situ. Saya datang bersama beberapa kawan yang juga tergabung dengan komunitas sastra Teater Angin(TA). Saya sendiri bermaksud untuk mengikuti acara workshop kepenyiaran dan radio, yang dipandu oleh penyiar radio Shinta Buana 97,2 FM, Bandung, Asep Syamsul M. Romli, atau yang akrab disapa kang Romel.

Sekitar 60 kawan- kawan buruh migran Indonesia (BMI) nampak asyik mengikuti jalannya workshop. Suasana nampak begitu hidup, lantaran interaksi antara kang Romel dengan peserta sungguh terasa. Kang Romel menyampaikan materi kepenyiaran dengan sangat santai, namun sarat dengan isi dan juga disertai guyonan-guyonan yang mampu mengocok perut peserta.

Saya sendiri duduk di deretan paling depan, karena saya berfikir akan lebih mudah menangkap materi apa yang disampaikan kang Romel. Maklum, minggu lalu saya tidak mengikuti dan saya tidak ingin ketinggalan materi kepenyiaran tersebut.

Pada kesempatan tersebut, kang Romel menjelaskan tentang bagaimana tehnik vokal seorang penyiar radio, kemudian intonasi dalam siaran juga penulisan naskah siaran. Yang lebih menarik lagi adalah, usai pemberian materi, diadakan simulasi siaran radio. Kontan, suasana bertambah ramai. Hampir semua peserta beradu cepat untuk mendapat kesempatan uji coba siaran, tidak ketinggalan saya sendiri. Wajah-wajah yang begitu bersemangat, benar-benar nampak pada kesempatan tersebut, apalagi humor-humor segar tetap mewarnai sepanjang jalannya acara, dari jam 11 hingga jam 3 sore. Ini menunjukkan adanya antusias yang sangat besar dari para peserta dalam mengikuti acara.

Acara usai dan dilanjutkan dengan sairan langsung Radio Perantau Indonesia (RPI), yang dihubungkan langsung dengan siaran Radio Republiik Indonesia. Kang Romel tampil selama satu jam, dengan ditemani oleh seorang kawan dari RPI, Nadia Cahyani. Hadir juga beberapa kawan dari Sanggar BUdaya KJRI sebagai tamu, yang sempat diajak ngobrol bersama, menceritakan tentang kiprah Sanggar Budaya sendiri dalam melestarikan, sekaligus mengenalkan budaya Indonesia kepada dunia, khususnya kepada masyarakat Hong Kong sendiri. Kemudian, tampil juga beberapa kawan yang melakukan simulasi menjadi reporter radio dan menyampaikan hasil liputannya di lapangan, yang kebetulan pada hari itu ada acara pengajian di lapangan Victoria Park. Dua orang kawan nampak begitu lincah dalam menyampaikan hasil liputannya secara live. Kemudian tampil juga kawan Anik dari Indonesian Migran Workers Union (IMWU), yang memaparkan kondisi kawan-kawan BMI di Hong Kong. Dari mulai pemberian gaji di bawah standar, biaya agen yang sangat tinggi, ketidakseriusan pemerintah Indonesai dalam menangani masalah buruh migran dan sebagainya.

Menanggapi hal tersebut, kang Romel mengatakan, bahwa kasus-kasus pemberian gaji di bawah standar, merupakan akibat ketidaktahuan dari BMI itu sendiri. Mengingat, kasus ini mayoritas hanya terjadi pada BMI yang baru pertama kali datang bekerja di Hong Kong sebagai buruh migran.

“Nah, di buku kuning itu kan ada tuch, lengkap soal peraturan buruh. Saya aja dapet dan di situ lengkap. Harusnya pemerintah kita juga memberitahu soal hukum perburuhan dong,” jelas kang Romel ketika saya ajak ngobrol ringan usai siaran bersama RRI. Yang dimaksud dengan buku kuning adalah buku panduan buruh migran sektor rumah tangga, yang dikeluarkan oleh Department Imigrasi Hong Kong. Di dalam buku tersebut, dijelaskan secara gamblang aturan-aturannya, dari mulai gaji, hari libur, cuti tahunan, cuti sakit, long service, tata cara break kontrak dan sebagainya. Namun sayang sekali, sedikit sekali BMI yang mendapatkan, meskipun di bandara pihak imigrasi telah memberikannya. Lazimnya, agen akan menarik buku tersebut dari BMI dan membuangnya. Mereka takut, kalau BMI tahu hukum perburuhan yang sesungguhnya dan tidak bisa lagi dibohongi. Sedikit sekali BMI yang berani melawan agen, ketika agen dengan serta merta mengambil buku tersebut dan dimasukkan ke dalam tempat sampah.

Lebih lanjut, laki-laki yang mempunyai on air name, Romel Tea, mengungkapkan, bahwa ada kemungkinan KJRI merasa tidak begitu bertanggungjawab atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi BMI, lantaran ada agen yang tentu saja mengambil keuntungan dari BMI itu sendiri. Namun, bapak dari dua anak tersebut menegaskan, bahwa KJRI ditugaskan dan digaji di satu negara adalah untuk memberkan perlindungan bagi warganya, tidak terkecuali buruh migran.

“Kalau nggak bisa melindungi, ganti saja tuh konjen dan orang-orang konsulat. laporkan ke Deplu dengan berbagai bukti-buktinya, agar mendapat tindakan tegas,” tegas penulis buku dasar-dasar siaran radio ini.

Ia juga sangat menyayangkan, ketidakseriusan pemerintah Indonesia dalam menangani kasus-kasus BMI di seluruh penjuru dunia ini.

“KJRI harus menekan agen agar bener-bener serius ngurus BMI. Kalau perlu KJRI ngasih list ke pemerintah di Indonesia agar mem-blacklist agen-agen yang gak bener,” lanjut kang Romel yang merupakan alumnus Hubungan Internasional FISIP Unpad, Bandung ini.

Suasana santai masih mewarnai obrolan kami. Sementara saat disiinggung mengenai antusias peserta pelatihan tersebut, laki-laki yang telah menekuni dunia siaran radio selama 17 tahun ini mengatakan cukup puas. ” Kali ini pesertanya lebih banyak dan kelihatan lebih serius, ketimbang workshop saya yang pertama Desember lalu. Mungkin juga karena yang ini waktunya lebih panjang daripada yang dulu gitu,” paparnya. Ia juga yakin dengan kemampuan yang dimiliki oleh peserta pelatihan. “Saya optimis, mereka bisa,”ujarnya.

Disinggung mengenai pandangan umumnya tentang BMI di Hong Kong, kang Romel mengatakan kagum.

“Gimana nggak kagum, di waktu libur yang hanya hari Minggu, mereka mau meluangkan waktu untuk belajar. Saya yakin, jika mereka bisa memanfaatkan waktu dengan baik, mereka mampu bersaing di Indonesia nanti. Jadi jangan pernah ada kata minder,” tegas laki-laki berkulit sawo matang ini.

Ia juga menambahkan, faktor bekerja di negara maju jelas berpengaruh secara tidak langsung. Misalnya, di Hong Kong biasa bekerja dengan disipilin, sangat menghargai waktu dan sebagainya. Dari contoh-contoh kecil tersebut, ia yakin akan dapat membedakan kinerja BMI ketika bersaing di tanah air nantinya.

Sekedar catatan, kang Romel sendiri diundang oleh Perantau Indonesia (PERI) selama bulan ramadhan untuk memberikan workshop kepenyiaran dan reporter radio bagi BMI di Hong Kong, hingga tanggal 29 Agustus nanti. Workshopsendiri telah diadakan dua kali. Pertemuan selanjutnya dilaksanakan pada Minggu (22/8) di sekretariat PERI, Tin hau dan pertemuan terakhir diadakan pada Minggu (29/8), di Hong Kong Art Centre, Tin Hau. Semua peserta yang mengikuti workshop tersebut akan mendapatkan sertifikat dari Radio Perantau Indonesia (RPI). Dengan diadakan acara semacam ini, diharapkan bisa menjadi bekal bagi BMI ketika pulang ke tanah air nantinya. (Aliyah Purwati)

Tsz. Wan Shan, 16 August 2010

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s