Catatan dari Hongkong (5): Saya Penyiar, Bukan Ustadz…!


Me and Ust. Qudrat dari Al-Azhar Jakarta di Mushola Al-Falah KJRI HK.*

Me and Ust. Qudrat dari Al-Azhar Jakarta di Mushola Al-Falah KJRI HK.*

“Maaf, Bu, jangan panggil saya uztadz, saya mah penyiar radio dari Bandung”

“Tidak apa-apa, ‘kan sambil siaran di radio bisa sambil dakwah”

Begitu kira-kira, sms-an saya dengan Bu Bella, staf KJRI Hong Kong yuang juga “owner” kamar tempat saya menginap di HK, Bella House dan Penginapan Defamille di Poo Foo Building, Foo Ming Street, Causeway Bay, HK. Bu Bella selalu panggil saya “pak ustadz”, rupanya dikasih tau ama Ustadz Qudrat (dari Al-Azhar Jakarta), bahwa saya ini ustadz juga. Iya seeh, kalo yang dimaksud ustadz (guru) adalah trainer atau guru siaran radio. Tapi kalo ustadz dalam konteks agama ‘kan berat, gak sembarang lho orang jadi ustadz!

Ya sih juga, saya suka diminta atau dipercaya orang berceramah agama. Tidak saya tolak, takut dosa, karena dakwah ‘kan wajib. “Sampaikan dariku walaupun satu ayat,” begitu ‘kan sabda Nabi Saw? Maka, jika tidak bentrok dengan jadwal siaran, jadwal ngajar, jadwal rapat, atau jadwal males, biasanya saya sanggupi undangan ceramah, sekadar “share” ilmu agama, saya gak jago-jago banget deh soal ilmu agama, meski pernah mesantren.

Selama di HK pun, selain jadwal tetap ngisi Diklat Penyiar & Reporter Radio tiap Minggu, saya sesekali ngisi ceramah, lagi-lagi… sekadar berbagi pengetahuan dan pengalaman keagamaan, bukan mo ngajarin… Tapi, jangan panggil saya ustadz ya, panggil saja Kang Romel. ‘Kan Ustadz yang diundang ke Hong Kong selama Ramadhan ini kalo gak salah ada lima, satu di antaranya ustadzah. Nah, saya mah “ustadz” bidang keterampilan komunikasi saja: penyiaran, jurnalistik, public speaking, mc, gitu deh…

SMS-an dengan Ibu Bella saya lakukan beberapa menit sebelum pelaksanaan Shalat Tarawih, malam pertama Ramadhan, di Mushola Al-Falah, Konsulat Jenderal RI (KJRI) Hong Kong, di Lantai 4 Indonesia Building, Leiton Road, Causeway Bay. Deket markas Dompet Dhuafa Hongkong, sekitar 200 meter deh, jalan kaki 2-3 menit nyampe.

Tarawih pertama, mushola penuh sesak. Diperkirakan mencapai 250 orang –50 pria,200 wanita. Yang ceramah tarawih, Ust. Izzuddin Abd. Manaf dari Lamongan (hehe… jadi inget pecel lele Lamongan yang adadeket rumah di Bandung euy…). Pak ustadz nerangkan soal hikmah dan pahala puasa.

Mushola Al-Falah rupanya terlalu sempit buat nampung jamaah. Banyak yang gak kebagian tempat. Jamaah yang di dalam juga desak-desakan. Tapi, tidak mengurangi kesyahduan dan insya Allah kekhusyu’an ibadah…betul betul betul?

Bagaimana dengan suasana tarawih malam kedua di Mushola Al-Falah KJRI ini? I don’t know… soale, saya “dijadwal jadi ustadz” di shelter. Bayangin aja deh, kalo penyiar jadi ustadz, rame gak ya?! Wasalam.*

Advertisements

2 thoughts on “Catatan dari Hongkong (5): Saya Penyiar, Bukan Ustadz…!

  1. aku panggil ustadz aja ya pak…
    kan vivi dpt pahala…..selamat menunaikan ibadah puasa…..maaf lahir &batin….??????

  2. subhanallah…makin melebarkan sayap nih Pak….sukses terus y Pak

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s