Catatan dari Hongkong (1): Telantar di Bandara


arrivals_hall_aSejak tiba di Hong Kong, Kamis, 5 Agustus 2010, tangan ni udah gatel pingin nulis, cerita soal Hong Kong, utamanya soal para perantaunya. Apalagi, perantau pertama yang saya temui di hari pertama “bermasalah” ketika menjemput saya di Bandara Internasional Hong Kong. Bayangin aja, saya “out” dari Bandara jam 12.30, baru meluncur ke tempat tujuan, kantor DD Hong Kong di Haven Street, Causeway Bay, jam 14.30 WHK (Waktu Hong Kong). So, selama 2 jam tuh “telantar” di Bandara. Apa sebab?

Setelah 5 jam terbang dari Jakarta dengan pesawat China Airline, saya –dan penumpang lain tentunya– tiba di Bandara Internasional Hong Kong sekitar jam 12.10 WHK. Keluar pesawat, lewati imigrasi, trus cari bagasi –nemuin dua tas yang tadinya mo dibawa ke kursi pesawat malah “dikilo” ama counter di Bandara Jakarta ‘tuk masuk bagasi. Saat “culang-cileng” cari arah tempat bagasi, sempet “ditegur” ama petugas: lepas topimu! Saya pun melepas topi bertuliskan “Viva Macao” –oleh-oleh waktu pertama ke HK, Desember 2009.

Tas ditemukan. Meluncur keluar bandara. Eh, orang-orang lolos begitu saja, saya mah dicegat apa petugas. “Kadieu… maneh ti mana…?” begitu kira-kira mereka tanya. “Aing ti Jakarta, Indonesi! Aya naon kitu…?” begitu kira-kira jawab saya. “Yeuh, ti Jakarta tah, pariksa tasna…!” kata salah seorang dari mereka. Saya pun memeriksakan tas saya.

Beres, saya tanya, sambil guyon… “Atos pak…? Teu aya nanaon? Bersih ‘kan…?” Jawab petugas: “Ok, sok candak da tos beres, aman…”. Saya pun melenggang keluar, sambil menggerutu dikit, aing wungkul anu dipariksa teh, pedah kasep meuereun…!

Keluar dari Hall A, saya tlp panitia. “Ada yang jemput,” kata Ust. Ghofur, General Manager Dompet Dhuafa (DD) Hong Kong yang gelar Pelatihan Penyiar & Reporter RPI (Radio Perantau Indonesia, www.radioperantau.com), dan undang saya jadi trainernya.

“Akang tunggu di dekat Starbuck ya, jangan jauh dari situ, nanti ada yang jemput,” katanya. Saya pun menuju taman kecil depan stand Starbuck Coffee, ngadem, soale ada aliran airnya. Cuaca panas bangedh, katanya 33 derajat celcius. Peluh pun keluar dari sekujur tubuh. Saya duduk, tiduran, gular-goler, sambil nunggu. Udah 10 menit, 20, 30, 1 jam, dan 2 jam….! Yang jemput blom ada juga! Mo pergi sendiri, gak tau ke mana arahnya, soalnya tanya alamat DD HK, tidak ada jawaban. Maksudnya, tunggu aja deh, Kang, jangan jalan sendiri… Begitu kira2 kata panitia. Ok deh, ana tunggu.

Rupanya, yang jemput, Mbak Umi namanya, nunggu saya di Hall B. Sedangkan saya nunggu di pintu keluar Hall A. “Walah… sampe Hong Kong jadi ibu kota Indonesia juga, ‘gak bakalan ketemu-ketemu…!” saya bilang. Parahnya, HP Mbak Umi gak bisa dihubungi, low bat!

Saya ketemu dengan penjemput berkat SMS terusan dari Mr. Bambang, ketua panitia acara di HK. Isinya menjelaskan posisi Mbak Umi lengkap dengan gambaran busana yang dikenakan: pake baju hijau jilbab snada.

Kami pun meluncur ke kantor DD HK, dari Bandara menggunakan MTR. Alhamdulillah, selamat sampai tujuan.

MTR (Mass Transit Railway) adalah “rapid transit railway system” di HK. Kereta bawah tanah, cepat banget! Menurut data, MTR pertama kali dioperasikan tahun 1979. Ada sekitar 150 stasiun MTR di HK. Indonesia, kapan punya MTR ya…?*

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s