General · Politik

Membubarkan FPI, Lagu Lama!


fpi_masaDesakan agar Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan kembali muncul, pasca ”insiden” Banyuwangi. Pro-kontra muncul, apalagi memang tidak mudah membubarkan sebuah organisasi yang ideologinya tidak terlarang di Indonesia.

Seruan pembubabaran FPI ini ”lagu lama” yang belum tentu ”easy listening”. Kalo lagu-lagu nostalgia, utamanya Koes Plus, saya suka banget.

Saya kira, pembubaran FPI –yang dikenal dengan aksi-aksi ”sweeping”-nya– tidak semudah yang diperkirakan para penyerunya. Lagi pula, kalau bisa dan jadi dibubarkan, para aktivisnya pastinya membentuk organisasi baru. Ibaratnya, ”new bottle old wind”, kayak parpol-parpol peserta pemilu itu lho…! Selain itu, ada pula pihak –seperti PBNU– yang tidak setuju pembubaran FPI dengan alasan “ dikhawatirkan bisa digunakan untuk menjadi pola pembubaran ormas lain” (tribunnews.com, 1/7).

Banyak pihak menentang FPI “hanya” karena keberanian mereka memberantas kemaksiatan secara frontal –cenderung anarkis jika terjadi bentrokan. Nah, jika anarkisme atau kekerasan berhasil dihindari FPI, tidak ada alasan lagi buat membubarkannya.

Saya kira, lebih banyak pihak yang membutuhkan dan mendukung FPI. Orang-orang beriman tentu sependapat dengan FPI bahwa kemunkaran, kemaksiatan, atau hal-hal yang merusak moralitas tidak boleh tumbuh-kembang di bumi pertiwi ini. Dalam konteks ini, banyak umat Islam dan lembaga dakwah, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, mendukung FPI. Ibaratnya, kalo dalam sepakbola, FPI ini ”striker”, penjebol gawang, eksekutor. Maka, wajar jika banyak yang ”mentakling”-nya.

”Pihak tertentu” juga pastinya butuh eksistensi FPI, yaitu (1) pihak yang merasa bisa memanfaatkan ”semangat juang” FPI untuk kepentingan tertentu dan (2) ”pihak tertentu” yang ingin mempertahankan stigma, stereotipe, cap, atau label ”Muslim radikal”. Mereka yang berpandangan ”umat Islam identik dengan kekerasan”, tentu senang jika FPI melakukan aksi anarkis.

Lepas dari semua itu, saya yakin, FPI tidak akan bertindak apa pun, jika polisi atau pihak berwenang ”action”, tidak tinggal diam, jika terjadi suatu pelanggaran hukum. Pasalnya, setahu saya, sebelum melakukan aksinya, FPI melakukan tahapan-tahapan dulu, yaitu, pertama, mengirim surat permohonan kepada polisi atau pihak berwenang agar menindak suatu pelanggaran. Jika surat mereka diabaikan, langkah kedua, mereka kembali mengirimkan surat permintaan disertai kesiapan memberikan bantuan. Jika masih tidak dihiraukan juga, mereka kirimkan surat ketiga yang berisi: mereka siap bergerak sendiri jika memang polisi tinggal diam. Setelah surat ketiga itulah FPI ”action”. Betul begitu, FPI? Wasalam.*

Advertisements

3 thoughts on “Membubarkan FPI, Lagu Lama!

  1. saya jadii ingat lagunya slank yang judulnya gosip jalanan,:
    “pernah ga lo dengar triakan Allahuakbar,pake peci tapi kelakuan bar-bar,,
    ngerusakin bar,orang ditampar-tampar,,”
    pas banget buat FPI.

  2. tapi tidak harus bertindak anarkis kan??
    memang FPI itu Allah yg berhak menghakimi??
    apa itu yang diajarkan islam??
    menurut saya,FPI itu bukan front pembela islam,,tapi front PEMBANTAI indonesia.

  3. iya betul.itu… makanya jadi polisi tuh yang benerrrrrrrrr….gaji nya aja yang banyak kerja cuman nakut2 ti masyarakat awam saja..itu pun kalau make baju seragam coba kalau ngaj pake baju ……….ditinju ngak bakalan ngelawan dehhhh.TAKUT gituhh..

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s