Radio ’Kan Tetap Jaya di Udara


RadioMahasiswa jurnalistik Fikom Unpad, Icha Marisa, mewawancarai saya tentang radio di Bandung, khususnya radio jurnalistik. Wawancara dilakukan untuk kepentingan penyusunan skripsi.

Usai wawancara, saya minta ia mengirimkan transkripnya, sekadar ingin tahu saja bagaimana hasil wawancara itu. Ternyata, great! Nona Icha menuliskan transkrip wawancara itu dengan baik:

Untuk mengetahui pekembangan media radio di kota Bandung, khususnya radio jurnalistik, saya mewawancarai Asep Syamsul M. Romli, seorang akademisi sekaligus praktisi radio, di ruang kerjanya, Gedung K.I.K lantai 2, Pusdai Bandung, Rabu (2/6) pagi.

Berikut ini petikan wawancara dengan praktisi media yang akrab disapa Kang Romel itu.

Menurut Anda, bagaimana perkembangan radio di Bandung?

Pada umumnya, perkembangan radio di Bandung stagnan. Bahkan di antaranya ada yang kehilangan pendengar (bangkrut). Hal ini bisa dikarenakan perubahan manajemen dalam tubuh media (radio), diberikan kepada yang kurang ahli. Orang-orang yang sok tahu malah menangani radio. Contohnya, ada seorang PD yang kurang ahli. Ia akan menganggap acaranya bagus, padahal menurut pendengarnya tidak. Jadinya tidak nyambung antara keinginan PD dan pendengar.

Kita tahu bahwa Mara sebagai pelopor radio jurnalistik telah mengganti format acaranya menjadi radio hiburan dan bersegmentasi menjadi lebih muda. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Salah satu alasan mengapa stasiun radio berita bisa kurang peminatnya karena pada umumnya radio itu identik dengan hiburan bukan informasi yang berkesan serius. Banyak orang yang mendengarkan radio untuk mencari hiburan (musik), bukan mendengarkan berita. Sebab, berita itu domainnya pada surat kabar, televisi, atau internet.

Kembali lagi ke persoalan Mara, apa yang harus Mara lakukan setelah mengganti formatnya?

Mara sampai merubah segmentasinya berarti Mara harus mengganti namanya. Seolah-olah buat yang baru dan harus lebih muda. Memang, sebuah radio itu lebih baik hiburan aja. Kalaupun ada berita sebaiknya hanya sisipan saja.

Lalu, faktor-faktor internal apa saja yang menyebabkan sebuah radio bisa collapse?

Pertama, harus diketahui bahwa persoalan radio yang berkurang pendengar disebabkan acaranya kurang menarik. Hal ini tentu saja dapat mempengaruhi perolehan jumlah iklan yang didapat dalam stasiun radio. Banyak pengiklan yang akan mempromosikan barangnya di radio melihat dari jumlah pendengar di radio tersebut.

Kedua, manajemen program kurang bagus. Kita harus melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada termasuk para penyiarnya. Acara yang diminati pendengar itu adalah acara yang banyak lagu dan penyiarnya sedikit bicara.

Kalau faktor eksternalnya?

Ada pengaruh dari media on-line walau persentasenya sedikit. Media radio tidak akan mati karena radio itu media yang paling murah, meriah, akrab, bersahabat, dan teman personal. Pokoknya gak ada yang bisa ngalahin. Sedangkan penyiar diibaratkan seorang entertainer. Ia harus bisa menghibur pendengarnya. Tak lupa, radio juga mediun paling praktis, yang bisa dibawa kemana-mana. Biasanya permasalahan radio datangnya dari internal. “Bukan musuh yang kuat, tapi pertahanan kita yang lemah.”

Seberapa besar pengaruh iklan terhadap radio?

Iklan nyawanya radio. Tanpa iklan, sebuah media akan lumpuh kecuali yang memiliki radio punya usaha yang lain. Mayoritas orang menjadi penyiar adalah menyalurkan hobi bukan mencari keuntungan.

Media massa apa pun termasuk radio harus mengembangkan antara bisnis dan idealisme. Bisnis diperlukan untuk mendorong bidang pembiayaan. Tapi, kalau bisnis terus, itu tidak mungkin. Sebab, orang yang bekerja di media pada umumnya idealis. Mereka terjun ke media karena ada tuntutan hati. Mereka masuk ke media karena ada sesuatu yang ingin mereka lakukan. Jadi, kalau semata-mata cari duit, jangan dari media, lebih baik jadi pengusaha saja. Bisnis di media merupakan bisnis kesabaran dan hobi.

Program yang baik di radio itu, yang seperti apa?

Program yang baik adalah program yang menghibur. Orang mendengarkan radio karena tiga hal, yaitu:

1.                  Penyiar (suara, kepribadian)

2.                  Lagu (kualitas audio)

3.                  Informasi

Untuk itu, perpaduan antara keinginan pendengar dengan kreasi programmer itu harus selalu dijaga.

Apa saran Anda bagi mereka yang ingin mendirikan perusahaan radio?

Harus kuat di modal operasionalnya, seperti bayar listrik, telepon dan sebagainya. Yang penting harus mendapat perizinan. Sebab, sekarang mendirikan radio cukup susah saking padatnya. Lebih baik, beli yang sudah ada saja.

Kalau mendirikan radio jurnalistik?

Selain modal, SDM-nya juga harus yang ahli merancang produk-produk jurnalistik seperti news flash, feature, bulletin, majalah udara, dokumen, insert, dan lain-lain. Belum lagi harus ada wartawan yang meliput di lapangan. Itu semua  membutuhkan biaya besar.*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s