Hapus Akun Jihad, Facebook Tidak Salah


facebookJudul posting ini tampak membela pemilik Facebook. Saya tidak bermaksud demikian, tapi hanya menegaskan realitas yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus diterima: pemilik media adalah pemilik kebebasan pers.

Belakangan ini kalangan aktivis dakwah “marah” atas dihapusnya sejumlah akun Facebook bernuansa jihad dan Islam. Kemungkinan, FB juga akan menghapus akun sejenis di antara 250 juta lebih akun dan “user” FB saat ini.

Diberitakan eramuslim dan arrahmah, Facebook menunjukkan watak aslinya, yakni anti atau fobi terhadap hal-hal yang berhubungan dengan jihad dan Islam. Situs jejaring sosial besutan Mark Zuckenberg ini menghapus beberapa account yang selalu gencar menyuarakan Islam dan Jihad. Salah satunya adalah grup Cyber Jihad Community yang dibuat oleh Muhammad Jibriel Abdul Rahman (nick name Prince of Jihad), pimpinan Ar-Rahmah Media. Account FB grup Arrahmah juga dihapus.

Salahkan Facebook? Dalam perspektif kebebasan pers atau kebebasan berbicara yang selalu diagungkan Barat itu, jelas FB salah, tidak fair. FB bertindak diskriminatif! Tapi, dalam kaca mata manajemen media, FB “sah” melakukan hal itu. Pasalnya, realitas dan “hukum media” sekarang menunjukkan, pemilik media (owner) sangat berkuasa atas media yang dimodali, dibiayai, atau didirikannya.

Saya pernah posting tulisan di kolom ini soal “kebebasan pers sejatinya dinikmati oleh para pemilik media atau pemodal (kapitalis).”

Di belahan dunia mana pun, bahkan di Amerika Serikat sendiri, pihak yang secara leluasa menikmati kebebasan pers itu adalah “kelompok tertentu”, yakni para pemilik medi massa atau pemodal (kapitalis). Akibatnya, kebebasan pers yang berlaku sebenarnya adalah “kebebasan pemilik pers” (freedom for media owner).

“Pemilik masih bisa menempatkan berita yang penting untuknya –meskipun tidak terlalu penting untuk umum—di halaman pertama atau pada jam tayang utama (prime time). Sebaliknya, berita tertentu bisa saja ditahan atau batal dimuat. Ini membuktikan, pemilik masih berkuasa,” tulis William L. Rivers dkk. dalam Media Massa dan Masyarakat Modern (Prenada Media Jakarta, 2003).

Pengamat media, Jerome Barron, menyatakan, kebebasan pers itu, sekali lagi, nyatanya hanya dimonopoli oleh para pemilik media atau memiliki akses langsung dan bebas kepada publik (Jerome Barron dalam William L. Rivers dkk., 2003:4).

Yuk tanya kepada manajemen WI, eramuslim, arrahmah, atau situs dan media Islam lainnya: mau ‘gak memberitakan hal yang menguntungkan kaum anti-Islam? My point is… FB yang notabene milik Yahudi, pastinya, secara gitu, tidak mau dong situsnya diisi hal yang mereka tidak sukai? Bukankah sudah jelas mereka “Lan Tardho”?

Ah, sekalian aja deh, ana ingatkan soal “madorat” FB seperti sudah di-posting sebelumnya: FB bisa timbulkan penyakit kanker dan pikun, juga “membunuh” minat, budaya, dan kreativitas menulis, termasuk “mematikan” blog. Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

Posting Terkait:

http://www.romeltea.com/?p=215

http://www.romeltea.com/?p=165

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s