Tenang, Ada Pers!


persERA Orde Baru akan terulang. Begitu kira-kira opini yang dibangun dan berkembang saat ini, usai Pileg dan Pilpres 2009 dan jelang pemerintahan baru. “Neo Orba di depan mata,” kata pengamat. “Presiden yang begitu berkuasa dan kuat akan kembali hadir,” kata mahasiswa. Faktanya, memang semua parpol kini merapat kepada SBY sebagai pusat utama kekuasaan (eksekutif). “PDIP sudah jadi anak manis,” kata Taufik Kiemas yang jadi Ketua MPR atas “petunjuk dan restu” SBY. Golkar pun lebih memilih Aburizal Bakrie, “orang SBY”, yang siap merapat ke SBY ketimbang memilik Surya Paloh yang cenderung “beroposisi”.

Jadi, semua parpol pemenang pemilu –PD, PG, PDIP, PKS, PPP, PAN—merapat ke SBY. Hanya menyisakan dua parpol baru: Hanura dan Gerindra. Dua parpol ini pun bisa saja turut merapat daripada hanya menjadi kekuatan kecil di parlemen.

Para pengamat menyuarakan hal yang sama: “Bahaya. Demokrasi terancam!”. Kalau semua merapat ke SBY, lalu siapa yang mengawasi pemerintahan? Jika semua menikmati kue kekuasaan, lalu siapa yang berani mengeritik dan meluruskan sang penguasa?

Ada pendapat, periode rezim SBY jilid dua ini mungkin satu-satunya periode setelah reformasi yang nyaris akan tanpa friksi atau gesekan politik. Hal ini karena hampir tidak ada satu pun partai yang menyatakan atau akan bersikap oposisi. Semuanya merapat ke SBY.

Diprediksi, sejumlah kasus yang melibatkan pusat kekuasaan akan menguap, hanya dicatat malaikat Rakib-Atid, untuk dibuka di akhirat kelak atau ada pergantian rezim yang bertekad menguak rekam jejak pemerintahan saat ini. Sebut saja kasus Bank Century yang hingga kini tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian dan disebut-sebut melibatkan Boediono dan Sri Mulyani. “Suuzhan”-nya, “isu” pengebirian dan pengendalian KPK juga terkait kasus Century –biar tidak diusut!

Lalu, akankah neo-Orba benar-benar terjadi. Ya, jika kebebasan pers turut dibungkam. Ya, jika pers ikut terseret arus, merapat ke pusat kekuasaan. Ya, jika idealisme pers mati. Ya, jika insan pers tidak lagi menjalankan perannya sebagai “watch dog”, social control.

Maka, selama ada kebebasan pers dan sepanjang idealisme insan pers terjaga, jangan khawatir. Jika kekuatan pertama, kedua, dan ketiga tidak dapat diandalkan untuk membela rakyat, mengurusi masalah rakyat, bahkan “abuse of power”, korup, tenang… masih ada pers sebagai “kekuatan keempat” (the forth estate). Tenang, rakyat masih punya andalan untuk memantau dan meluruskan penguasa yang zhalim dan korup. Tenang, saya yakin, kawan-kawan wartawan bekerja secara profesional dan proporsional.

Pers, kata para ahli, adalah “natural enemy” penguasa, di negara mana pun. Pasalnya, insan pers adalah manusia-manusia “lurus” yang memiliki idealisme dan mendengarkan nurani. Insan pers lazimnya menjalani profesi wartawan sesuai dengan panggilan jiwa. Wartawan adalah profesional yang memiliki kebebasan dalam bekerja, keterampilan khusus, menaati kode etik, dan memenuhi panggilan jiwa.

Bagaimana jika pers juga merapat ke pusat kekuasaan? Saya yakin, mayoritas insan pers akan menjaga jarak dengan kekuasaan. Pers adalah teman rakyat. Insan pers harus berpihak pada kebenaran dan keadilan.

Jadi, silakan deh merapat ke Cikeas. Silakan berebut kue kekuasaan. Tapi ingat, masih ada kekuatan keempat yang terus mengawasi, mengingatkan, jika perlu menggugat jika terjadi “abuse of power”, abai aspirasi, abai kepentingan dan hak rakyat. Ingat, pers mampu menciptakan opini publik, bahkan “people power” atau parlemen jalanan. Maka, jangan korup ya…! Bangun bangsa ini. Sejahterakan negeri ini. Bukan malah menyejahterakan pribadi dan kelompok doang… ! Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s