Menteri Naik Gaji, Keserakahan Penguasa


smTadinya saya positive thinking, husnuzhan, berprasangka baik. Saya kira, isu kenaikan gaji menteri atau pejabat negara lain hanya sekadar “lempar isu” rezim SBY ini untuk melihat respon publik. Tujuan utamanya melecut kinerja para menteri yang baru dilantik. Pasalnya, betapa “tidak bermoralnya”, betapa tidak berperasaannya, naik gaji kok di tengah kesengsaraan rakyat. Begitu ‘kan, Pak dan Bu Menteri?

Betapa tamak, serakah, “mata duitan” pejabat negeri ini, naik gaji di tengah keterpurukan dan kesengsaraan jutaan rakyatnya! Gaji mereka sudah berlebih, plus tunjangan sana-sini, berlebih!

Ternyata, kata Menkeu Sri Mulyani, rencana kenaikan gaji pejabat tinggi negara itu sudah dirancang sejak akhir 2005. Kita tidak habis pikir, entah apa yang ada di benak para petinggi negeri ini. Belum juga menunjukkan kinerja, sudah memunculkan “wacana” kenaikan gaji menteri. Ironisnya, itu terjadi di tengah kesengsaraan rakyat yang masih belum diatasi; di tengah jeritan para pedagang kaki lima yang terus digusur; di tengah derita-nestapa para korban bencana gempa Jabar dan Sumbar.

Wacana kenaikan gaji menteri ini, sungguh menyakitkan rakyat! Jika benar nanti gaji mereka naik, mereka jelas tidak punya sense of crisis! Mereka hanya memikirkan diri dan kelompok. Mereka tidak peduli dan empati kepada jutaan rakyat yang masih melarat.

Gaji puluhan juta dianggap belum cukup. Masya Allah! Apakah rangakain bencana gempa tidak cukup membuka mata-hati para pejabat di negeri ini? Apakah Allah perlu menurunkan adzab yang lebih dahsyat lagi, hanya untuk mengingatkan para petinggi negeri yang masih saja “buta hati” dengan kesengsaraan rakyatnya? Na’udzubillah astaghfirullah…

Anggota Komisi XI DPR Harry Azhar Azis mengatakan, kenaikan gaji pejabat negara memang harus segera dipikirkan. Khususnya, bagi mereka yang langsung dipilih oleh rakyat seperti presiden, gubernur, bupati, wali kota, dan anggota DPR, MPR. Menurut dia, DPR sebelumnya telah menyetujui penggunaan anggaran tahun 2010 untuk keperluan ini.

Andaikata, para penentu kebijakan itu bijak, bukankah sangat bijak jika uang negara itu digunakan untuk mengentaskan kemiskinan, memodal rakyat melarat, membuka lowongan kerja, atau hal lain demi kesejahteraan rakyat?

Ternyata, negara ini kaya raya, banyak uang, namun tampak miskin jika berurusan dengan dana peningkatan kesejahteraan rakyat dan tampak “berlebih” jika dikaitkan dengan anggaran gaji pejabat atau PNS.

Kekuasaan cenderung korup. Setidaknya, demikian menurut sejarawan yang dikenal moralis, John Emerich Edward Acton –lebih dikenal sebagai Lord Acton (1834–1902): Power tend to corrupt and absolute power tends to corrupt absolutely.

Hasil penelitian Acton menunjukkan, “A person’s sense of morality lessens as his or her power increases” (New Dictionary of Cultural Literacy). Moralitas seseorang berkurang ketika kekuasaanya meningkat. Bahkan, kata Acton: “Great men are almost always bad men.”

Semoga hal itu hanya terjadi di negara yang diteliti Acton, tidak di negeri kita. Uh, betapa “tidak bermoralnya”, betapa tidak berperasaannya, naik gaji kok di tengah kesengsaraan rakyat. Begitu ‘kan, Pak dan Bu Menteri?

Bangsa ini, tampaknya, memang tengah mengalami depresi berat. Para petinggi negeri depresi karena harus “balik modal” dan memodali karier politiknya. Rakyat depresi dan “muak” menyaksikan perilaku elite yang “tidak berperasaan” dan terus menyakiti rakyat kecil. Wajar, kriminalitas, kasus bunuh diri, aksi-aksi demo anarkis, kemunculan aliran-aliran sesat, gank-gank motor, “beringasisme”, anarkisme, vandalisme, dan bencana terus terjadi. Bahkan, terbuka lebar potensi “pembangkangan nasional” menuju “people power”. (Waduh, provokasi neeh…?). Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s