Jurnalistik · Komunikasi

Sang Plagiator


plagiarismSEORANG profesor (guru besar) universitas swasta terkemuka di Kota Bandung kesandung masalah plagiarisme atau plagiat. Ia “terbukti” melakukan plagiat terhadap tulisan orang lain. Diberitakan Tribunjabar (10/2), sang profesor mengakui tindakannya, meminta maaf, dan mengundurkan diri sebagai guru besar.

Saya pikir, sang profesor bukan tidak mampu menulis sendiri, tapi karena malas atau tidak mampu meluangkan waktu untuk menulis. Karena malas dan “tidak ada waktu” itu pula yang menjadikan sang profesor tidak sendirian. Artinya, banyak “orang kampus” yang melakukan aksi plagiat, termasuk “membeli” tulisan untuk diakui sebagai karyanya.

Tidak sedikit pula mahasiswa S1, S2, bahkan S3 yang tidak menulis sendiri skripsi, tesis, atau disertasinya. Mereka menggunakan tangan dan pikiran orang lain untuk meraih gelar akademis. Saya pikir, seperti sang profesor, mereka juga bukan tidak mampu menulis sendiri, tapi tidak mau, malas, atau tidak mampu meluangkan waktu untuk menulis sendiri.

Belum lagi, entah berapa persen mahasiswa yang terbiasa “copas” (copy paste) tulisan orang lain ketika memenuhu tugas makalah atau esai. Saya sendiri, sebagai dosen honorer, sekuat mungkin memberikan tugas membuat makalah kepada para mahasiswa karena “suuzhan” mereka tidak membuat sendiri alias “copas” setelah “berselancar” ke Mbah Google misalnya.

Ensiklopedia bebas atau kamus online Wikipedia mengartikan plagiarisme sebagai “penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator (www.id.wikipedia.org).

Kasus plagiarisme juga marak seiring maraknya blogging. Pemilik blog yang tidak mampu, tidak mau, atau tidak sempat menulis sendiri, dengan mudah bisa “copas” tulisan orang lain. Saya sendiri menjadi korban plagiarisme ini. Check this out!

Yang paling menjengkelkan, sering sekali saya menemukan buku yang sebagian isinya persis sama dengan buku yang saya tulis, tanpa jujur menyebutkan sumber bahwa sang penulis mengutip tulisan saya! Cek deh buku-buk tentang penyiaran (broadcasting) atau jurnalistik. Saya sendiri sering mengutip tulisan orang lain dalam buku atau artikel saya, tapi saya selalu menyebutkan sumbernya, dengan jujur, sebagai bagian dari ketaatan pada Kode Etik Jurnalistik.

Plagiarisme, plagiat, atau copy paste “membudaya” di kalangan kampus dan blogger, utamanya karena menulis belum membudaya atau tidak dibudayakan. Budaya menulis pun kian terdesak dengan kehadiran Facebook yang mengancam budaya blogging. Facebooker pun, seperti dikemukakan seorang dokter di Mail One, terancam pikun dan stroke karena kurang mengoptimalkan fungsi berpikir atau daya nalarnya.

“Anybody can make history. Only a great man can write it!” Maka, mari menjadi great man, bukan “plagiat man”! Wasalam. (www.romeltea.com).*

Advertisements

One thought on “Sang Plagiator

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s