Cicak vs Buaya: Pers Tunjukan Kuasanya!


journalism2Parlemen dan parpol boleh “dibungkam” dan “dijinakkan” dengan “power sharing”, tapi pers –insya Allah— takkan terbungkam dan tetap mengusung kebenaran. “Journalism”s first obligation is to the truth,” kata Bill Kovach and Tom Rosensteil dalam The Elements of Journalism.

DALAM posting saya terdahulu, “Tenang, Ada Pers!”, saya “memotret” kecemasan berbagai kalangan tentang kemungkinan lahirnya neo-Orba dalam pemerintahan sekarang. Kekhawatiran itu terjadi karena begitu kuatnya posisi politik presiden. Selain karena dipilih langsung rakyat dan meraih suara “spektakuler”, 60%, nyaris seluruh parpol pemenang pemilu merapat ke eksekutif dan mendapatkan “jatah” kursi menteri.

Kekhawatirannya, tiada penyeimbang pemerintah karena tidak ada “oposisi”. Saya katakan, tenang… ada pers! Otoriterianisme akan muncul, Neo-Orba bisa terjadi, jika kebebasan pers turut dibungkam. Ya, jika pers ikut terseret arus, merapat ke pusat kekuasaan. Ya, jika idealisme pers mati. Ya, jika insan pers tidak lagi menjalankan perannya sebagai “watch dog”, social control.

Maka, selama ada kebebasan pers dan sepanjang idealisme insan pers terjaga, jangan khawatir. Jika kekuatan pertama, kedua, dan ketiga tidak dapat diandalkan untuk membela rakyat, mengurusi masalah rakyat, bahkan “abuse of power”, korup, tenang… masih ada pers sebagai “kekuatan keempat” (the forth estate). Tenang, rakyat masih punya andalan untuk memantau dan meluruskan penguasa yang zhalim dan korup. Tenang, saya yakin, kawan-kawan wartawan bekerja secara profesional dan proporsional.

Di bagian akhir posting saya tegaskan, “Tapi ingat, masih ada kekuatan keempat yang terus mengawasi, mengingatkan, jika perlu menggugat jika terjadi “abuse of power”, abai aspirasi, abai kepentingan dan hak rakyat. Ingat, pers mampu menciptakan opini publik, bahkan “people power” atau parlemen jalanan.”

Kini, “kekuatan keempat” itu menunjukkan kuasanya dalam kasus “Cicak vs. Buaya”, KPK vs Polri. Berkat pers, “kejanggalan” kasus pimpinan KPK non-aktif Bibit dan Chandra, terekspose ke publik. Berkat pemberitaan pers, penahahanan Bibit & Candra tampak sebagai sebuah “kezhaliman” dan “arogansi” kekuasaan. Berkat pers, berbagai gerakan pro-KPK muncul ke permukaan. Bergelombang! Facebooker pun tidak sekadar ajang “caper” (cari perhatian), “curhat”, dan narsisme, tapi ikut arus gelombang pro-KPK.

Bahkan ada kesan, penahanan Bibit-Chandra gara-gara keduanya sering berbicara di depan pers dan membentuk opini publik. Benar, opini publik terbentuk. Sialnya bagi Polri, alih-alih “mengamankan” keduanya dari pers, posisi Polri justru kian terdesak oleh opini publik yang terbentuk oleh pemberitaan pers. Penahanan keduanya kian menguatkan dugaan adanya “kriminalisasi” KPK demi “mengamankan” Kabareskrim dan kasus Bank Century.

Pers, jelas, sudah menunjukkan kuasanya. Pers adalah mata, telinga, bahkan “nurani” publik. Kini citra Polri dipertaruhkan, “hanya” demi membela petingginya, Kabareskrim. Demikian kesan yang muncul. Kapolri pun mulai “mengalah”, minta maaf atas “selip lidah” petingginya yang memunculkan istilah cicak vs buaya, bahkan meminta istilah itu tidak dipakai lagi oleh pers.

Ternyata, cicak banyak penggemarnya. Terima kasih cicak, kau bukan sekadar membantu membasmi nyamuk-nyamuk nakal, tapi juga kini menjadi simbol perlawanan terjadap arogansi. Kini cicak menjadi ikon anti-korupsi! Hidup cicak….!

Jika gelombang massa dan opini publik tidak berhenti, “people power” atau parlemen jalanan” akan kian membesar. Sejarah mencatat, kesewenang-wenangan dan sebuah rezim seringkali mampu ditumbangkan oleh kekuatan massa, massa pro-cicak sekalipun, jika rezim itu tidak peka dan mengubah kebijakannya.

Maka, sekali lagi, tenang… masih ada pers! Jika kekuatan kesatu, kedua, dan ketiga bersatu sekalipun, jika mengusung arogansi dan kesewenang-wenangan, “kekuatan keempat” masih siap membela dan mengusung kebenaran.

Kasus cicak vs buaya memberi pelajaran berharga bagi rezim di negeri ini, agar “istiqomah” dalam pemberantasan korupsi, dan jangan main-main dengan aspirasi rakyat. Tampaknya, isu kenaikan gaji menteri atau pejabat menjadi “agenda setting” pers berikutnya. Let’s see…!

Parlemen dan parpol boleh “dibungkam” dan “dijinakkan” dengan “power sharing”, tapi pers –insya Allah— takkan terbungkam dan tetap mengusung kebenaran. “Journalism””””””””s first obligation is to the truth,” kata Bill Kovach and Tom Rosensteil dalam The Elements of Journalism. Kewajiban jurnalisme yang pertama adalah membela kebanaran. Its first loyalty is to the citizens.” Loyalitas pertamanya adalah kepada warga negara, rakyat, atau publik. Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).

One thought on “Cicak vs Buaya: Pers Tunjukan Kuasanya!

  1. Memang Buaya Darat yang satu ini harus diberantas bantai sampai habis…. dari dulu sampai sekarang citra buaya darat ini tak pernah baik. Coz Buaya sendiri yang bikin ulah berbuat sewenang-wenang.. dari kecil saya dah benci sama buaya jenis seperti ini.. Bantai Buaya Darat Pemakan Rakyat…

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s