Hati-Hati, Selip Lidah!


don__t_speak__by_is2boogleyfish

GARA-GARA selip lidah (slip of the tongue), dua jurukampanye nasional pasangan SBY-Boediono, Ruhut Sitompul dan Ahmad Mubarok, dipecat sebagai jurukampanye. Alasannya, Partai Demokrat khawatir keduanya mudah selip lidah yang dikhawatirkan berakibat fatal (Detikcom, 9/6).

Ruhut Sitompul sempat “selip lidah” dengan mengatakan Arab tidak pernah membantu Indonesia; hanya Amerika yang membantu Indonesia. Selip lidah yang menuai gelombang protes dan kecaman. Sebelumnya, Ahmad Mubarok, selip lidah dengan memprediksi perolehan suara Partai Golkar yang hanya 2,5 persen dalam Pileg 2009. Selip lidah yang membuat gusar elite Golkar, termasuk Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla.

Akibat “selip lidah” pula, Ketua Umum DPP PKS Tifatul Sembiring menuai badai protes dari kalangan kader PKS dan kaum Muslimin pada umumnya, termasuk ulama (MUI). Ia “selip lidah” ketika mengatakan jilbab sebagai “selembar kain di atas kepala wanita”

Pernyataan tersebut dimuat dalam Majalah Tempo edisi 1-7 Juni 2009 Hlm. 29. “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?” katanya. “Soal selembar kain saja kok dirisaukan,” seperti dikutip dari Majalah Tempo (www.berita8.com).

Tifatul sendiri tidak membantah materi wawancaranya yang dimuat Tempo. Namun, ia menegaskan, hasil wawancaranya “banyak dipotong sehingga menghilangkan esensi wawancara”.

Mungkin, suhu politik yang amat panas jelang Pilpres ini, membuat elite politik juga “gerah”, selain capeknya bukan main. Kondisi tubuh pun jadi agak tidak stabil, pikiran jadi kurang jernih, dan terjadilah selip lidah itu.

Selip lidah bisa membawa petaka. Pepatah mengatakan, “a slip of the foot you may soon recover, a slip of the tongue you never will“. Selip kaki bisa segera disembuhkan, namun selip lidah takkan bisa disembuhkan.  “God gave us two ears and one mouth so that we may listen twice as much as we speak.” Tuhan memberi kita dua teliga dan satu mulut agar kita mendengarkan dua kali dan bicara satu kali.

Dalam bahasa Sunda ada pepatah, “Hade ku omong goreng ku omong”. Baik-buruk seseorang tercermin dari –bahkan ditentukan oleh– ucapannya. Maka, wahai elite politik yang memang tugasnya berbicara, menyuarakan aspirasi rakyat/umat, sekaligus menarik simpati rakyat, please be careful with my heart… eh your tounge…! (Kalo… “Please be careful with my heart”… mah lagu jadul, lagunya Jose Mari Chan: If you love me like you tell me/ Please be careful with my heart/ You can take it just don’t break it/ Or my world will fall apart…). Ah… suka ngaco. Lanjut! Eh, lebih cepat lebih baik!

Dalam perspektif komunikasi, selip lidah merupakan salah satu jenis penyimpangan atau kesalahan berbahasa lisan. Penulis buku Language Learners and Theirs Errors (London: The Macmillan Press, 1983), John  Norissh, mengistilahkannya sebagai lapse. Dikatakan, lapse atau selip lidah itu merupakan bentuk penyimpangan yang diakibatkan kurang konsentrasi, rendahnya daya ingat, atau sebab-sebab lain yang dapat terjadi kapan saja dan pada siapa pun.

Bisa jadi, panasnya suhu politik, perang kata-kata, negative campaign bahkan black campaign bermunculan, membuat banyak elite jadi kurang konsentrasi dan rendah daya ingat sehingga selip lidah. Celakanya, selip lidah itu pun menjadi bahan kampanye negatif pihak lawan. Nah lho!

“Controlling your toungue is the most serious investment”. Kendali lidah adalah investasi paling serius. Demikian kata pakar komunikasi. Terlebih bagi para politisi. Isi dan cara berbicara mereka dinilai oleh publik, kader, pemilih, rakyat, dan kawan-lawan politik. Kata yang terucap, statemen yang terlontar, apa pun itu, menjadi investasi politik dan disimpan dalam nurani publik. “Hade ku omong goreng ku omong”. (Kalo Hade = Heryawan Dede Yusuf, udah jadi ‘penguasa’ Jabar!).

nengathiaBelajar ilmu komunikasi, termasuk komunikasi politik dan ilmu politik itu sendiri (utamanya politik Islam), tampaknya menjadi keniscayaan, biar jadi politisi yang “profesional”. Al-‘ilmu imamul amal, bukan?

Memang, lidah tidak bertulang… namun jika yang tak bertulang itu selip, keseleo, ‘gak ada tukang pijatnya…! A slip of the foot you may soon recover, a slip of the tongue you never will. Mudah-mudahan saya tidak selip lidah nih dengan menulis soal “slip of tounge” ini…Amin! Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

Advertisements

3 thoughts on “Hati-Hati, Selip Lidah!

  1. males gw lihat org2 DPR, tonk kosong semua!! ga pade bisa kerja, bisanya cuma ngoceh!!

  2. saya jadi pengen instropeksi diri oge,,,,masi banyak selip tah,,,niatna mah hereuy,,tapi kadang sok leuwih,,,,berarti ayeuna mah,,,perlu ANTI SELIP,,,,betul gak pa dosen,,,hehehhehe,,,,DEMO AH ” ANTI SELIP”…………HIDUP UK,,,,,HAHAH

  3. Kalau menurut orang Sunda mah “basa teh teu meuli,” jadi bagi sebagian para politikus itu segala ucapan dan pembicaraan mereka biarkan saja meluncur dari lisan, pertimbangan efek dari omongan mereka menjadi nomor sekian. Anu penting mah “ngocoblak” saja biar keliatan pinter. Meureun eta mah, kang.

    (*) He he… politisi “instan” mah ngocoblakna oge instan, teu ngeunah nu istant teh lah… Nuhun brother. Good Luck!

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s