General

Maka Maafkanlah…


maafSaling bermaafan adalah tradisi luhur paling populer dalam suasana Idulfitri. Semua orang (hendaknya) membuka pintu maaf dan tanpa ragu meminta maaf. Ungkapan khasnya adalah “Mohon maaf lahir dan batin”.

Meminta maaf dan memaafkan adalah perintah Allah Swt agar terjalin kehidupan yang tenang dan harmonis antarsesama manusia. Menurut pakar tafsir M. Quraish Shihab, Al-Quran antara lain menggunakan kata insân untuk menunjuk kepada manusia. Kata insan, secara etimologis, terambil dari kata uns yang berarti “senang”  atau “hubungan harmonis”. Dapat dipahami, manusia pada dasarnya selalu merasa senang atau seharusnya demikian saat bertemu dengan sesama serta memiliki potensi untuk menjalin hubungan harmonis antara sesama.

Populer juga pandangan yang menyatakan bahwa kata insân terambil dari akar kata nisyân yang berarti lupa. Allah menganugerahi manusia sifat lupa, antara lain, agar dia dapat melupakan kesalahan orang lain atau kesedihan yang dialaminya.

Terganggunya hubungan harmonis terjadi akibat dosa atau kesalahpahaman. Akan tetapi, manusia akan kembali ke harmonisan pada saat manusia menyadari kesalahannya,  dan berusaha mendekat kepada orang yang pernah dia lukai hatinya. Dari sini, Islam mensyariatkan upaya maaf-memaafkan.

Memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas kekesalan yang ada di dada, atau mengeluarkan apa yang terdapat dalam dada dari kesalahan orang lain, sehingga hilang dari ingatan.

Bahkan, menurut M. Quraish Shihab, dalam Al-Quran tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan kata yang menunjuk kepada permintaan maaf kepada sesama manusia. Yang ada hanyalah perintah untuk memberi maaf, Hendaklah mereka  memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS. An-Nuur  [24]: 22).

Kesan yang ditimbulkan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk tidak menanti  permohonan maaf dari orang yang bersalah, tetapi hendaknya memberinya sebelum diminta. Ketika Misthah yang diberi bantuan oleh Abubakar r.a. menyebarluaskan isu negatif terhadap Aisyah, istri Nabi Saw dan putri Abubakar, sang ayah bersumpah untuk tidak  membantunya lagi. Sikapnya ini ditegur oleh firman Allah QS. Al-Nûr: 22 tersebut.

Memaafkan berarti mengundang ampunan Allah Swt. Karena itu, mereka yang enggan memberi maaf, pada hakikatnya, enggan memperoleh pengampunan dari Allah Swt. dan karena itu pula dalam kamus Islam tidak dikenal ungkapan “Tiada maaf bagimu”.

Ada juga kata yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada ”maaf plus”, yakni kata Al-shafh. Kata ini, dalam berbagai bentuknya, terulang di dalam Al-Quran sebanyak delapan kali. Ia, pada mulanya, berarti “lapang”. Halaman dalam sebuah buku atau ruangan, dinamai shafhah karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini, al-shafh diartikan “kelapangan dada”. Berjabat tangan dinamai mushâfahah karena dia merupakan perlambang kelapangan dada orang-orang yang berjabatan tangan itu.

Dari delapan kali bentuk kata al-shafh yang dikemukakan Al-Quran itu, empat di antaranya didahulu oleh perintah memberi maaf. Perhatikan ayat-ayat berikut:

Apabila kamu memaafkan, melapangkan dada serta melindungi, maka sesungguhnya Allah Maha  Pengampun  lagi Maha Penyayang” (QS Al-Taqhâbun [64]: 14).

Maafkanlah mereka dan lapangkan dada, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya)” (QS. Al-Ma‘idah [5]: 13). Baca juga QS Al-Baqarah (2): 109, dan Al-Nûr (24): 22.

Dengan al-shafh seseorang dituntut untuk membuka lembaran baru  sehingga hubungan  tidak ternodai sedikit pun, tidak kusut, dan tidak seperti halaman yang  telah dihapus kesalahannya itu. Mushafahah (jabat tangan) adalah lambang kesediaan  seseorang untuk membuka lembaran baru dan tidak mengingat atau menggunakan lagi lembaran lama yang, walaupun telah dihapus kesalahannya, mungkin sedikit kekusutannya masih ada.

Memaafkan adalah salah satu ciri orang bertakwa. Yang mampu menahan amarah dan memaafkan manusia (yang bersalah). Allah menyenangi orang-orang muhsin (yang berbuat baik)” (QS Âli ‘Imrân:134).

Rasullulah Saw memberikan bimbingan, “Carilah alasan untuk memaafkan saudaramu walau hingga 70 alasan.” Seorang murid bertanya kepada gurunya, Imam Hasan Al-Basri, “Mengapa Rasullah menyuruh kita mencari 70 alasan untuk memaafkan?”. Jawab Hasan Basri, “Itu menunjukkan pentingnya memaafkan. Sebelum kita sampai pada 70 alasan kita belum bisa memaafkan, kita harus bersedih karena memiliki hati sekeras batu.”

Maaf-memaafkan hakikatnya adalah silaturahmi atau silaturrahim (shilah al-rahim). Silaturahim terdiri dari kata shilah –yang terambil dari akar kata washala yang berarti menyambung– dan ar-rahim yang pada mulanya berasal dari nama Allah, lalu diberikannya kepada makhluk untuk menunjuk pada sesuatu yang  menjadi penyebab kasih-sayang, yakni “rahim/peranakan”.

Walaupun dalam Al-Quran tidak terdapat istilah shilaturrahim, namun ada sekian ayat yang mengisyaratkan pentingnya memelihara shilaturrahim, seperti QS Al-Nisâ’ (4): 1.

Bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain (dan peliharalah hubungan) rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Di samping perintah di atas, ada juga ayat yang mengecam orang-orang yang  memutuskannya, seperti:

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya pula mata mereka” (QS Muhammad [47]: 22-23).

Wa’fu washfahu…. Maka maafkan dan berjabat tanganlah. Selamat Idul Fitri 1430 H. Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal ibadah kita). Allahummaj’alna Minal ‘aidin wal faizin (Ya Allah jadikanlah kami golongan yang kembali [kepada kesucian] dan menang). Mohon maaf lahir dan batin. Hampura ka sadayana…. Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s