Debat Capres, ''''Gak Ngaruh Tuch!


MASSA pemilih (voter) memiliki karakter obstinate, yakni kepala batu, bandel, atau keras kepala. Itulah “adagium” yang biasa berlaku pasa musim kampanye politik. Pada dasarnya, menurut “teori” tersebut, rakyat sudah memiliki pilihan, setidaknya sudah punyai kecenderungan memilih calon tertentu dan sulit berubah sampai hari H pemilihan di TPS (Tempat Pemungutan Suara). Dengan demikian, kampanye hanyalah upaya mengubah karakter itu atau hanya memperkuat kecenderungan yang sudah ada.

Kampanye diyakini hanya berpengaruh bagi orang yang belum menentukan pilihan, pemilih yang siap beralih (swing voter), dan massa mengambang (floating mass). Itulah pula sebabnya, umumnya kampanye –seperti pengerahan massa— lazimnya diikuti oleh kader atau massa fanatik yang memang sudah siap memberikan suara kepada kandidat yang berkampanye. Bahkan, tidak jarang, massa kampanye itu “orang-orang bayaran”.

Secara teoritis, dalam analisis prilaku pemilih (voter behavior) biasanya digunakan beberapa model, seperti model psikologis, sosiologis, rasional, dan ideologis.

Pertama, model psikologis –dikembangkan The Michigan Survey Research Center– memandang sosialisasi dan internalisasi merupakan determinasi dalam menentukan tingkah laku politik pemilih, bukan sekadar karakteristik sosiologis. Model ini menginterpretasikan bahwa sikap pemilih adalah refleksi dari kepribadian seseorang, yang menjadi variabel menentukan dalam menghipnotis perilaku politik pemilih. Model ini mengedepankan tiga pilar psikologis, yaitu pertalian emosional pada partai politik, orientasi terhadap program, dan orientasi terhadap kandidat.

Kedua, model sosiologis –dikembangkan The Columbia School of Electoral Behavior– menginterpretasikan karakteristik sosial dan pengelompokan-pengelompokan sosial mempunyai daya tarik signifikan dalam memastikan perilaku memilih seseorang. Model sosiologis didasari pemikiran, perilaku pemilih dalam statemen politiknya adalah status sosio-ekonomi dan afiliasi sosioreligius. Model ini mendasarkan personalia pada ikatan sosial pemilih dari segi ras, keluarga, etnis, dan hubungan emosional yang pernah atau sedang dialami pemilih secara historis.

Ketiga, model pilihan rasional yang melihat perilaku pemilih sebagai hasil perhitungan untung-rugi.

Keempat, pemilih ideologis. Mengutip pendapat pengamat politik dari Fisipol UGM, Dr. Pratikno, secara umum perilaku pemilih di Indonesia masih belum berubah dari pola yang berkembang sejak Pemilu 1955. Masyarakat akan tetap menyalurkan aspirasi politiknya dengan basis ideologi. Sedangkan kelompok masyarakat yang rasional hanya sekitar 20 persen.

Debat Capres: ‘Gak Ngaruh Banyak!

Karakter pemilih yang “keras kepala” menjadikan debat capres tidak berpengaruh secara signifikan. Debat capres mungkin hanya berhasil memengaruhi floating mass yang belum menentukan pilihan.

Pemilih emosional atau yang fanatik pada figur calon biasanya memiliki cara pandang tersendiri. Kelemahan sang kandidat pujaan akan dipandang “hal kecil” karena ia sudah telanjur “jatuh hati”. Bukankah cinta itu buta? Love is blind?

Debat capres bisa saja efektif mendongkrak citra sang kandidat bergantung pada kepiawaiannya memaparkan visi-misi baik secara substansial maupun redaksional. Penampilan kandidat akan dinilai bukan saja apa yang dikemukakannya (What) , tapi juga bagaimana cara menyampaikannya (How).

Komposisi pemilih pilpres yang didominasi masyarakat desa, turut mengakibatkan debat cepres tak terlalu memberi pengaruh signifikan terhadap elektabilitas capres secara umum. Jumlah pemilih perkotaan hanya sepertiga, sisanya (2/3) di perdesaan.

Karakter pemilih perdesaan yang cenderung memilih capres berdasarkan figur, karakter, dan ikatan emosional, diperkirakan sulit berubah hanya karena acara debat.

Debat juga kemungkinan hanya dinikmati kelompok masyarakat kelas menengah atas (middle-up class). Sedangkan masyarakat kelas bawah atau “akar rumput” (grassroot) mungkin lebih memilih sinetron atau acara musik dangdut. Jadi, debat capres ‘gak ngaruh tuch! Tunggu, koreksi, ‘gak ngaruh banyak! (Posting ini merupakan bahan wawancara saya, live on air by phone, dengan Trijaya 91,3 FM Bandung, Selasa [30/6], soal pengaruh Debat Capres).*

Advertisements

One thought on “Debat Capres, ''''Gak Ngaruh Tuch!

  1. sepertinya memang tidak memberikan pengaruh

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s