Catatan Diklat Jurnalistik di DU Center Jakarta


images4DEMI memenuhi “kepercayaan khusus”, saya sering terpaksa mengabaikan “kepercayaan reguler”. Pada Sabtu (23/5) lalu, misalnya, saya harus meluncur ke Jakarta guna melaksanakan “amanah khusus” sebagai pemateri tunggal Diklat Jurnalistik WI (Warna Islam) di Darul Ulum Center Jakarta. Dari sekitar jam 09.00 hingga 16.00 WIB, saya berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar jurnalistik dengan para peserta dan jajaran manajemen WI.

“Kepercayaan reguler” yang terpaksa saya abaikan itu adalah mengajar. Sabtu itu ada dua kelas yang terpaksa yang “telantarkan”, yakni Kelas Perkuliahan “Pemikiran Kekuatan Politik Indonesia” Jurusan Hubungan Internasioal FISIP Universitas Al-Ghiffari Bandung dan Kelas “Penulisan Berita dan Arikel” di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Kebangsaan Bandung. Tentu, saya mohon maaf kepada para mahasiswa dan akan membayar lunas ”utang” saya itu pada Sabtu berikutnya. Insya Allah.

Di kantor redaksi WI DU Center, selama hampir seharian itu saya “berkicau” soal lima hal: etika penulisan berita, bahasa jurnalistik, teknik penulisan berita, penulisan artikel, dan sumbang saran bagi perbaikan website WI.

Soal etika penulisan berita, saya menekankan aspek independensi wartawan, balance (berimbang), fairness doctrine, pentingnya “menjaga kesucian fakta” (fact is sacre), dan “trik” menunjukkan keberpihakan. Benar, wartawan atau media mana pun tidak netral, tapi berpihak pada “ideologi media” berupa visi-misi bahkan kepentingan pemilik atau pengelola. Makanya, kalangan media “tidak mengenal” netralitas, tapi independensi, dengan acuan visi, misi, kepentingan media itu sendiri (terutama kepentingan pemodal dan pengiklan), kode etik, dan peraturan-perundangan yang berlaku. Selama kode etik ditaati, ketidaknetralan media “dapat dimaafkan”.

Tentang bahasa jurnalistik, saya menekankan aspek “economy of words”, hemat kata dan kalimat, agar naskah tersaji secara ringkas, jelas, dan lugas. “Permainan kata” atau penggunaan kata berona (colorful words) bisa diguakan dalam tulisan jenis feature yang memang mementingkan aspek keindahan kata dan “dramatisasi”.  Bahasa jurnalistik digunakan demi kepentingan media yang memiliki keterbatasan tempat (kolom) dan waktu (durasi), juga demi kepentingan pembaca yang ingin segera mengetahui informasi terbaru.

Buku terbaru saya, Bahasa Media: Panduan Praktis Bahasa Jurnalistik, saya siapkan di Kantor Redaksi WI bagi Anda yang berminat memilikinya. Silakan kontak redaksi WI. Saya juga sudah “pasok” buku lainnya, Jurnalistik Terapan: Panduan Kewartawanan dan Kepenulisan.

Mengenai penulisan berita, saya memaparkan antara lain soal anatomi berita, penulisan judul yang harus kalimat aktif dan lengkap, padat, dan mencerminkan isi. Saya juga sampaikan “rumus praktis” penulisan lead berita, yakni WHO DOES/SAYS WHAT WHEN WHERE WHY HOW plus praktik. Misalnya, “Redaksi WI (WHO) menggelar Diklat Jurnalistik (WHAT), Sabtu (23/5) (WHEN), di DU Center (WHERE) untuk kaderisasi SDM reporter dan redaktur WI (WHY). Sejumlah mahasiswa LIPIA Jakarta mengikuti acara yang menghadirkan sejumlah pembicara dengan berbagai tema seputar teknik jurnalistik tersebut (HOW).”

Soal penulisan artikel, saya diskusikan dengan peserta tentang karakter artikel (naskah opini), struktur dan tahap-tahap penulisannya. Saya menekankan, menulis itu sebuah proses dan karenanya membutuhkan kesabaran, selain butuh “amunisi” teknik, skill, dan wawasan luas soal tema yang akan dituliskan.  Semoga bermanfaat, brothers! Wasalam. (www.romeltea.com).*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s