Karakter Radio Kampus, Radio Komunitas Mahasiswa


BANYAK radio kampus atau radio komunitas mahasiswa gagal, mandeg, atau tidak mampu merebut simpati target audiensnya karena mismanajemen dan lupa (atau tidak tahu?) akan “khittah” radio kampus.

Karakter radio kampus tidak sama dengan radio publik atau komersil. Karenanya, radio kampus harus dikelola secara berbeda dengan lembaga penyiaran lainnya. Ironisnya, tidak sedikit aktivis radio kampus yang “asal bunyi” di ruang siaran, tidak mau belajar, bahkan sudah merasa “ok” sebagai penyiar.

Radio Mahasiswa

1. Bagian dari “Gerakan Mahasiswa” – gerakan baru yang berbeda dari pola konvensional –pers mahasiswa, diskusi, dan demonstrasi.
2. “Penyambung lidah” kepentingan kampus dan idealisme pengelola –agen perubahan.
3. Berpeluang besar untuk berkembang menjadi “ruang publik” yang sebenarnya.
4. Radio alternatif atau radio komunitas yang mencairkan monopoli stasiun radio komersial.
5. Kawah pengkaderan mahasiswa, terutama jurusan broadcasting untuk menjadi aktivis media yang profesional –lab pelatihan praktik penyiaran.
6. Sparring partner radio komersial dan radio publik (RRI) dalam pelayanan kepentingan publik.
7. Idealnya, program jurnalisme menjadi ujung tombak –memenuhi kebutuhan informasi aktual & komunikasi dialogis.
8. Penyaluran hobi dan aktualisasi diri.

Ciri Khas Radio Kampus

1. Idealisme yang tercermin dalam setiap program acara siaran, salah satu cara untuk mewujudkannya adalah siaran jurnalisme.
2. Independen dan nonprofit. Sumber dana opersional berasal dari kantong mahasiswa, iuran pendengar, dan donatur/lembaga akademis.
3. Target siaran untuk kalangan mahasiswa.

Problematika: Personal & Institusional

Kesalahan awal radio-mahasiswa adalah diformat mengacu pada mainstream radio komersial, baik dalam positioning pendengar, jangkauan wilayah, maupun programming.

1. Personal
· Waktu luang pengelola tidak pasti, di luar jam kuliah.
· Wawasan radio pengelola mimim (program-teknis) e.q. kurang terlatih, bicara kaku dan bertele-tele.
· Pola hubungan personal-lembaga tidak mengikat, sukarela.
· Kepentingan pribadi pengelola heterogen (hobi, akademik).
· Masa aktif-produktif pengelola maksimal 2-3 tahun.
· Sikap primitif sebagian aktivis untuk menjadi bagian dari dunia glamour tanpa kerja keras –ironisnya radio swasta komersial mulai meninggalkannya.

2. Institusional
· Visi dan misi tidak sinkron dan solid antara pengelola, mahasiswa-pendengar, dan pimpinan kampus.
· Perizinan bersifat transisional (proses izin) dan mengandalkan perlindungan “akademis” kampus.
· Teknologi penyiaran amatir dan “seadanya”.
· Mengikuti pola & gaya radio komersial atau mengambil “wilayah tradisional” radio komersial –programming mestinya berbeda dengan radio komersial.
· Networking belum maksimal –dengan para dosen, pengelola akademik, UKM, pers kampus lain, dan media massa lokal.
Manajemen
1. Manajemen produksi siaran (programming).
2. Manajemen SDM dan tata usaha (career and skill developmnet).
3. Manajemen promosi, pemasaran, dan kerja sama (marketing and networking).
4. Manajemen peralatan siaran (hardware maintenance).
SDM

Pengembangan karier: pergeseran tugas & divisi
 Fase I (6 bulan) – front operator, seperti penyiar full time.
 Fase II (6 bulan) – koordinator siaran dan masih tetap siaran.
 Fase III (6 bulan) – pemasaran atau SDM.
 Fase IV (6 bulan) – kepala atau manajer radio.
 Fase V (pensiun) – menjadi konsultan atau adviser.
Kualifikasi SDM Broadcast:
1. Announcing Skill – kemampuan siaran.
2. Operating Skill – kemampuan memakai peralatan.
3. Attitude Skill – kemampuan membangun perilaku positif.*

Tips
“Try and get as much experience as possible in local radio, local papers, hospital radio, wherever, before you approach the professional broadcasters. Also, develop an interest or expertise outside of the media – financial news, sport etc – so you can offer an employer something extra. Do make sure you listen to/or watch the programmes you’re interested in working for – I’m always amazed at the people who turn up and appear to never have see the programme before.” (Martha Kearney, Reporter/Presenter for BBC 2’s Newsnight and Presenter on BBC Radio 4’s Woman’s Hour).

Reference: Asep Syamsul M. Romli, Broadcast Journalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, dan Scriptwriter, Nuansa, Bandung, 2003. Masduki, Radio Siaran dan Demokratisasi, Jendela, Yogyakarya, 2003. (More about broadcasing, public speaking, and journalisme, just click http://www.romeltea.com).*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s