Berita ‘Langka Pupuk’ di Republika


paperSAYA bukan ahli bahasa. Mungkin, hanya karena saya sedang “membina” perkuliahan bahasa jurnalistik di jurusan jurnalistik UIN Bandung –sebagai “dosen luar biasa” alias honorer, saya agak sering nulis soal bahasa jurnalistik.

Kali ini saya “terusik” sebuah berita di Republika, edisi 29 November 2008. Biasanya, saya menjadi “head reader” untuk berita-berita seperti soal kelangkaan pupuk. Namun, kali ini saya baca “agak dalam”, bukan karena isinya, tapi karena “logika bahasa”-nya yang menurut saya “pabaliut”. Saya jadi ingat “rule of the game” penulisan berita dari PWI: penulisan kalimat harus logis dan konsisten.

Berita yang saya bicarakan berjudul “Petani Langka Pupuk, PTPN Kelebihan Stok”. Saya akan “kritisi” soal lead aja –bagian terpenting sebuah berita:

Petani Langka Pupuk, PTPN Kelebihan Stok

JAKARTA — Kelangkaan pupuk dialami kalangan petani di berbagai daerah. Selain akibat ulah kaum spekulan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diingatkan untuk benar-benar mengawasi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) agar tidak memperburuk keadaan dengan ‘menimbun’ pupuk.

Judul, “Petani Langka Pupuk”, bagus karena memenuhi unsur “hemat kata” dalam bahasa jurnalistik. Judul itu ringkasan dari kalimat “petani mengalami kelangkan pupuk”. Sayangnya, inkonsisten muncul pada lead karena menggunakan kalimat pasif: “Kelangkaan pupuk dialami kalangan petani di berbagai daerah.” Mestinya berupa kalimat aktif, “Kalangan petani di berbagai daerah mengalami kelangkaan pupuk”. Lebih ok kan?

Trus, kalimat berikutnya bermasalah soal “logika bahasa”. Coba perhatikan: “Selain akibat ulah kaum spekulan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diingatkan untuk benar-benar mengawasi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) agar tidak memperburuk keadaan dengan ‘menimbun’ pupuk.” Ini unsur “why” yang menjelaskan kenapa pupuk langka, sayang “direcoki” oleh kalimat “Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diingatkan…”.

Mestinya, atau menurut saya lebih baik begini: “Selain akibat ulah kaum spekulan, kelangkaan itu juga terjadi karena PT Perkebunan Nusantara (PTPN) ‘menimbun’ pupuk. Karenanya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diingatkan untuk benar-benar mengawasi PTPN agar tidak memperburuk keadaan”.

Ah, itu saja pendapat saya. Maaf lho bung redaktur Republika, bukan maksud hatiku menggurui, ngajari bebek berenang, cuma mengingatkan aja. Bukankah ciri teman sejati itu “mengingatkan kekeliruan kita”?

Satu lagi, saya juga masih sering lihat penggunaan kata mubazir “Sementara itu” di banyak berita, bukan hanya di Republika, tapi juga di Kompas, “PR”, dan lainnya. Kenapa ya? Gak tau ato gak nyadar. Padahal, sebelum jadi wartawan, ikut diklat dulu dong, bahkan kuliah 4-5 tahun di jurusan jurnalitik!

Aha, menurut Parni Hadi (mantan Pemred Republika, kini Dirut RRI), kalau wartawan salah nulis (redaksional), itu terjadi karena satu dari dua faktor: bodoh dan/atau malas; bodoh alias tidak tahu, malas cek dan ricek ejaan. Yang jelas, wartawan sering terburu-buru dalam menulis berita. Kejar tayang atau dikejar deadline.

Sekali lagi, maaf, saya kok jadi “sok tahu” begini ya. Saya juga mungkin masih suka salah-salah jika nulis berita. Kalo nulis di blog kayak gene seh bebas aja, kan blog namanya juga, medium “komunikasi personal” dengan gaya bicara “personal” juga. Sekadar “berbagi” boleh kan?

O ya, tulisan ini kayaknya bisa juga dijadikan “sampel” dalam perkuliahan bahasa jurnalistik, materi bahasan “Analisis Penggunaan Bahasa Jurnalistik dalam Karya Jurnalistik”. Wasalam.*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s