Maaf, Saya Bukan Sarjana Komunikasi…


Romel_on_dutyMau “curhat” neeh, boleh ya. Ya boleh lah, ni ‘kan blog saya…! Ketika saya menulis buku terbaru saya, Kamus Jurnalistik: Daftar Istilah Penting Jurnalistik Cetak, Radio, dan Televisi (Simbiosa Bandung , 2008), seorang sarjana komunikasi berkomentar singkat –namun bermakna sangat dalam. Katanya, ”wawanianan nyeun kamus jurnalistik” (kok berani-beraninya membuat kamus jurnalistik). Bukan komentar sinis, tapi heran, mungkin juga kagum, karena setelah bertemu saya, sang sarjana menyatakan salut dan ”dapat memahami” mengapa saya menyusun kamus tersebut.

Komentar tersebut muncul mengingat jurnalistik, lebih luas lagi komunikasi, memang bukan bidang keahlian saya secara akademis. Saya sarjana ilmu hubungan internasional Fisip Unpad. Gelarnya pun S.IP (Sarjana Ilmu Politik). Lucunya, beberapa kampus tempat saya mengajar, menjadi dosen luar biasa, mencantumkan gelar S.Sos (Sarjana Sosial) di belakang nama saya. Beberapa saya biarkan, toh penulisan nama sayanya pun sering salah.

Sang sarjana komunikasi tadi ”dapat memahami” setelah membaca buku tersebut, mengetahui daftar buku yang sudah saya tulis sebelumnya –kebanyakan buku komunikasi praktis (jurnalistik, broadcasting, dan public speaking), serta membaca biodata saya sebagai ”komunikator profesional” –wartawan, penyiar, dan ”public speaker” sejak belasan tahun yang lalu (jadi wartawan sejak 1993, saat masih kuliah; penyiar sejak 2000). Jabatan (baca: amanah) tertinggi di dunia wartawan, Pemimpin Redaksi, sudah dan sedang saya sandang. Jabatan tertinggi di dunia penyiar, Program Director, juga pernah saya jalankan. Uniknya, saya juga berani menjadi konsultan jurnalistik selama 2-3 tahun di sebuah situs; berlanjut kini di warnaislam.com. Semoga ’gak ada yang komentar lagi ”berani-beraninya ya…”.

Saya adalah praktisi komunikasi, bukan akademisi, apalagi S2 dan S3 ilmu komunikasi. Di bangku SLTP saya sering menulis di media massa, berlanjut hingga SMA dan bangku kuliah. Saat di SMA saya menerbitkan majalah sekolah, selain mengelola mading. Nah, saat itulah ”nama pena” panggilan saya diusulkan seorang teman. ”Romel aja, dari Romli, kalau Asep terlalu pasaran,” katanya. Maka, muncullah nama Romel di majalah sekolah dan mading. Risikonya, nama panggilan pun berubah jadi Romel, hingga sekarang.

Saat jadi penyiar, sebagai ”nama udara” (on air name), saya tambahkan kata ”tea” (ungkapan Sunda: artinya kira-kira ”yang itu”), jadi ”Romel Tea” = Romel yang itu. Mengapa? Biar ”etnosentrisme” saya sebagai orang Sunda tetap ada.

Konsekuensi lain dari nama Romel, ketika saya mulai aktif di ICMI Jabar, jadi Ketua Divisi Pengembangan Media dan Komunikasi sekaligus mendirikan dan jadi Ketua Balai Jurnalisti ICMI Jabar (BATIC), kawan-kawan di sekretariat, bahkan sejumlah pengurus, memanggil saya dengan ”Jenderal” karena nama Romel mengingatkan mereka pada Jenderal Erwin Eugene Rommel –seorang jenderal masa kejayaan Nazi Jerman (Hitler). Weiss… eh, wah…!

Apa yang saya alami selama menjadi wartawan, penyiar, dan piblic speaker, dipadukan dengan sejumlah literatur komunikasi yang saya pelajari secara otodidak, melahirkan sejumlah ”rumus” dan ”jurus” yang kemudian saya tuangkan dalam sejumlah buku komuniksi praktis.

Tidak ada ”sidang tesis” bagi penelitian dan karya-karya  tulis saya selama ini. Juga tidak ada bimbingan seorang gurubesar. Tentu, saya pun tidak berhak menyandang gelar S2 semacam M.Si. Pembimbing dan penguji saya adalah pengalaman, semata-mata pengalaman. Untuk ”menguji” rumus dan jurus yang sudah saya tulis, selain menunggu masukan dari pembaca, juga saya terus, tanpa henti, membaca beragam literatur seputar ilmu komunikasi. Benar, terus belajar, otodidak! Sekarang saya bisa desain grafis (layout), ’gak jago banget seeh, juga otodidak kok. Alhamdu… lillah….!

Naha teu kuliah S2 komunikasi aja? Teu aya duitna, titik! Naha teu neangan beasiswa? Can hasil! Udah ah…! Apa penting gelar itu bagi saya? Kayaknya ’gak begitu deh…. Ah, jadi alergi and minder neeh kalo bicarain gelar akademis. Maaf, bos! Saya bukan sarjana komunikasi. Saya juga cuma S1. Gelar saya S.IP, bukan S.Sos….!

Masih mau belajar skill komunikasi sama saya? Masih mau mahasiswanya saya ajar? Adakan saja fit and proper test dosen komunikasi, uji kompetensi dan kapabilitas, insya Allah saya siap! Kalau sertifikasi dosen, impossible bagi saya! ‘Kan harus S2… Astagfirullah… jadi ‘uzub-takabur nih saya.

Oh, gak bisa neeh, harus ada gelar S2 aja neeh? S1 mah hanya boleh ngajar di SD aja? Ya, sudahlah, good bye dunia kampus, good bye profesi dosen luar biasa alias hononer. Lagian, saya ’kan cuma ingin share pengetahuan dan pengalaman di bidang komunikasi praktis dengan para mahasiswa. Ya sudah, nulis aja di blog deh…  ”mahasiswanya” bisa se-Indonesia, bahkan lebih luas lagi, tul gak? Ayo, kuasai keterampilan berkomunikasi dan sebarkan al-haq, kebenaran Ilahi…!!! Wasalam.

NB:
1. Rasa-rasanya tulisan di atas sangat personal dan emosional ya…?
2. Next theme (duka iraha) : ”Penerapan Ilmu Hubungan Internasional di Media Massa ”.

Advertisements

6 thoughts on “Maaf, Saya Bukan Sarjana Komunikasi…

  1. Sukses selalu kank … ! eh ngomong-ngomong ilmu komunikasi saya jadi tertarik soalnya saya sendiri mahasiswa komunikasi UT, dan masih cari-cari kira-kira apa yah yang harus saya perdalam nanti jika sudah beres kuliah , ilmu jurnalistik atau public relation ? kalau di UT ilmu komunikasinya terlalu global jadi ngak focus. jika gak keberatan kasih tahu dong judul buku and harganya saya ada keinginan beli.. !!!

  2. sangat emosional pak!
    hehehe…
    ari kamus jurnal eta teh sabaraha pak? diskon teu?

  3. Kisah yang sangat inspiratif! Saya sarjana ilmu komunikasi UNPAD, jurusan jurnalistik, sekarang peneliti politik… jadi maluuuuu… saya belum pede nih, belum menghasilkan karya yang “benar-benar dari hati”. Selama ini saya merasa menulis hanya karena kewajiban profesi semata. Lama-kelamaan malah jadi jenuh.
    Setelah saya baya baca tulisan mas, mungkin sudah saatnya saya juga menemukan lentera jiwa itu (kayak Nugie ajah!): mengerjakan apa yang benar-benar saya sukai agar saya kuasai, agar karya yang saya buat lebih bermakna dan bermanfaat terutama bagi saya sendiri… pun bagi semua. Terima kasih sudah menginspirasi saya.

  4. Kang Romel, Saya tertarik untuk membeli satu paket buku Broadcast, jurnalistik, dan public speaking karya kang romel, tapi saya pengen harga miring, bisa ga yaaah …mohon dibalas

  5. Tentang kamus itu, sudah saya baca sampai habis. Banyak kata yang sebelumnya asing atau salah saya pahami, tetapi akhirnya menjadi lebih jelas setelah baca buku kang Romel.

    Kemarin Sabtu saya lihat shalat dzuhur di masjid, tapi karena saya ditunggu mhs untuk kuliah, tak jadi saya sapa.

    Salam.

    Gede H. Cahyana

    *) Ya pak, terimakasih. Sukses selalu buat bapak…

  6. Saya memiliki beberapa teman maupun saudara yang menjadi praktisi pada sejumlah bidang, tapi pemahaman dan penguasaan terhadap bidang tersebut bagus. Boleh jadi potensi bidang tersebut telah terasah sejak masa Sekolah Dasar atau mungkin masa kanak-kanak. Biasanya diawali oleh hobi atau bakat (bakat ku butuh, hehe). Meminjam istilah Mas Amri hal semacam itu disebut membuka gembok potensi, Jangan karena kuliah jurusan A lalu karir pun di bidang A. Semua pengalaman pendidikan formal maupun non formal selalu ada manfaatnya di dunia kerja.

    Saya juga kadang bingung Jendral, orang sipil perencanaan tapi jadi technical writer 😀 Meskipun ilmu tekniknya nya kapake lah sedikit-sedikit mah.

    Sukses Selalu Bos 🙂

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s