Mencari Pahlawan Indonesia


TULISAN ringkas ini sekadar pengantar yang saya sampaikan dalam Diskusi ‘Bedah Film’ bertema “Mencari Pahlawan Indonesia”. Penyelenggaranya Forum Alumni Bimtest KAMMI UIN SGD Bandung, di Masjid Iqomah, Sabtu, 16 Agustus 2008.

Saya memulai dengan makna istilah “pahlawan”. Sebelum membuka literatur, dalam persepsi saya, pahlawan itu gabungan dari kata “pahala” dan “wan”. Artinya, “orang yang berpahala”, merujuk pada makna istilah berakhiran “wan” seperti “wartawan” (orang yang meliput dan menulis berita), “hartawan” (orang yang berharta banyak), “dermawan” (orang yang berderma), dan sebagainya.

Lalu apa itu pahala? Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pahala artinya “buah (ganjaran) perbuatan baik”; berpahala = berbuat kebaikan; berbuat jasa. Sedangkan “pahlawan” diartikan sebagai “(orang yang) sangat gagah berani; pejuang yang gagah berani atau yang terkemuka”.

Menurut Kamus Besar Indonesia, pahlawan adalah “pejuang yang gagah berani, atau orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran”.

Dengan demikian, kalau disimpulkan, pahlawan adalah orang yang berjuang menegakkan kebaikan dan membela kebenaran. Namun demikian, makna pahlawan sekarang meluas, sangat luas, yakni setiap orang yang berbuat baik atau berjasa bagi kebaikan orang lain. Guru disebut pahlawan (tanpa tanda jasa) karena kebaikannya mendidik; pencetak gol dalam pertandingan sepakbola disebut pahlawan karena menjadikan timnya menang; TKI/TKW disebut pahlawan devisa karena mendatangkan uang dari luar negeri; dan sebagainya.

Merujuk pada hadits Nabi Saw (wah, jadi kayak ustadz nih…), pahlawan adalah “manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (khoirunnas ‘anfa’uhum linnaas). Siapa yang mendatangkan kebaikan, manfaat, bagi orang lain, dialah “manusia terbaik”. Dialah pahlawan!

Jelas, para pejuang kemerdekaan, sebagai contoh Diponegoro, Soedirman, Moh. Natsir, dan sederet nama besar lainnya adalah pahlawan. Mereka berjuang demi kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan. Mereka adalah pahlawan yang muncul pada masa perjuangan melawan penjajahan dan memerdekakan bangsa-negara ini.

Pahlawan muncul dalam situasi perjuangan, situasi krisis. Mereka berada di barisan depan (kadang juga di belakang) dalam perjuangan itu atau dalam mengatasi krisis. Sekarang, Indonesia dalam krisis multidimensi. Jelas, butuh perjuangan mengatasi krisis ini. Para pejuangnya bisa disebut pahlawan –dengan syarat mereka ikhlas, tanpa pamrih, sebagaimana para pejuang kemerdekaan dulu.

Pejuang yang memerangi kemiskinan adalah pahlawan. Orang yang berjuang memberantas korupsi adalah pahlawan. Orang yang berjuang untuk mengubah negeri ini menjadi sejahtera lahir-batin, makmur, aman, dan damai adalah pahlawan. Demikian juga yang menegakkan keadilan. Pendek kata, pejuang penegak kebenaran dan kebaikan adalah pahlawan.

Masalahnya, kebenaran dan kebaikan itu ukurannya apa? Wah, panjang nih kalau dibahas. Tapi intinya, sebagai Muslim (insya Allah), parameter kebenaran dan kebaikan itu adalah wahyu Ilahi yang sudah menjelaskan hal-hal mubah, halal, haram, dan makruh. Nah, penegak halal dan mubah itu juga pahlawan. Tapi bisa jadi, pembela haram dan makruh juga disebut pahlawan oleh para pendukung kemunkaran. Jadi, bingung…! Sudahlah, kita diskusikan saja sekarang.

Sebagai penutup kata pengantar ini, saya setuju dengan Ust. Anis Matta dalam bukunya, Mencari Pahlawan Indonesia:

“Pahlawan bukanlah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakuakan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama. Wasalam.*

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s