Siaran Suka ‘Ngejelekin’ Pemerintah


“KANG Romel, kenapa sih dari dulu, kalo lagi siaran, suka banget ngejelekin pemerintah? Emang seh pemerintah belum maksimal, tapi akankah kehidupan lebih baik kalo kita terus ngejelek-jelekin pemerintah?” Begitu salah satu isi SMS yang masuk saat saya siaran pagi tadi (Kamis, 10/7).

Pengirimnya Amei, seorang mahasiswa. Dengan berusaha “sebijak mungkin”, saya merespon pertanyaan tersebut. “Begini Amei… yang saya dan pendengar lain sampaikan itu bukan ngejelekin pemerintah, tapi mengoreksi kinerja pemerintah agar bekerja lebih keras dan bersih.”

Mengoreksi pemerintah itu, saya tambahkan, adalah bagian dari tugas media massa atau insan pers, termasuk penyiar, dan itu dijamin lho oleh UU No. 40/1999 tentang Pers. Yakni, salah satu fungsi pers adalah social control, mengawasi kinerja pemerintah, menjadi “watchdog”, agar pemerintah tidak korup. Juga mengawal perilaku masyarakat agar taat hukum dan norma. “Bahkan Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Djuaji pernah ‘menantang’ pers untuk terus mengeritik polisi,” kata saya.

Sebelumnya, saya membacakan SMS dari pendengar lain. Isinya tentang keluhan dia ketika menggunakan jembatan penyebrangan menuju ITC Kebon Kelapa. Disebutkan, di jembatan penyebrangan itu ditemukan banyak sampah, muntahan pemabuk, bahkan kotoran manusia! Lalu saya pura-pura muntah juga dan nyletuk sambil cengengesan: “Uo..! Ih, jorok banget tuh, siapa sih walikotanya?”

Kang, yang muntah itu karena mabok atau karena muak sama pemerintah?” kata Bung Safran, pendengar setia saya yang selalu kritis kalo berkomentar on air. “Dua-duanya kali…. he he…” saya respon.

 

TIAP pagi, Senin s.d. Sabtu jam 6-8 am, saya siaran “Good Morning Bandung Raya” (GMBR) di Radio Shinta 97,2 FM Bandung. Materi siaran adalah sajian informasi aktual seputar Bandung Raya, Jawa Barat, juga berita nasional. Lagu selingannya Pop Indonesia yang berirama dinamis, ngebeat, yang lagi hits sekarang dan pernah hit tahun 80 atau 90-an, seperti “Puspa” ST12, “Doy” Kangen Band, “Dia Harus Tahu” Jikustik, “Dia Miliku” Yovie-Nuno, “Sesaat Kau Hadir” Utha Likumahua, “Semua Jadi Satu” 2D-Malyda, juga lagu-lagu Iwan Fals seperti “Bongkar”, “Tikus-Tikus Kantor”, dan banyak lagi.

Setengah jam terakhir, pendengar dipersilakan komentari berita-berita yang sudah saya pilih dan sampaikan 1,5 jam sebelumnya. Jadilah suasana seperti digambarkan di atas –SMS dan telepon masuk silih berganti. Seru! Nah, kebetulan, belakangan ini kan pemberitaan media didominasi oleh kebobrokan pejabat, seperti korupsi, suap, konflik partai, dan sebagainya. Jadi aja, kesannya ngejelekin pemerintah, padahal udah jelek mah gak usah dijelek-jelekin kali… he he….!

Saya rasa, saya tidak menjelekkan pemerintah selama siaran. Kalo pun ada yang kesannya demikian, itu sekadar “pancingan” kepada pendengar agar mengeluarkan uneg-unegnya. Sayangnya, pancingan itu sering berhasil! Ah, jadi aja saya dituding “suka ngelekin pemerintah” dalam siaran. Tapi, ngapain pula ngejelekin yang udah jelek ya…! he he…

Pemerintahan sekarang jelek? Iya kalee…! Buktinya? La, itu hasil survei terbaru Indobarometer pimpinan M. Qodari (gimana kabarnya Bung, baik ya… ini temen saya juga, pernah sama-sama di Majalah Kandidat Jakarta dulu), PDIP yang mengklaim sebagai “partai oposisi”, menjadi parpol paling favorit jika pemilu digelar saat ini (Sindo, 10/7). Angkanya cukup jauh pula dengan parpol berikutnya. PDIP raih 23,8%, sedangkan urusan berikutnya parpol yang sedang berkuasa: Golkar 12% dan Demokrat 9,6%.

Maknanya? Jelas, pemerintah sekarang kinerjanya “tidak baik” (untuk menghindari istilah “jelek”), sehingga rakyat berpaling pada parpol oposisi. “Masyarakat yang tidak puas saat ini atas kinerja pemerintahan saat ini akhirnya berpaling kepada PDIP,” kata Bung Qodari seperti dikutip Sindo. Oh, ‘gitu Bung ya…? Wasalam.*

Advertisements

One thought on “Siaran Suka ‘Ngejelekin’ Pemerintah

  1. saya pada satu sisi setuju bahwa pemerintah perlu dikontrol dan rakyat harus dibikin tahu tentang bergulirnya roda pemerintahan. namun juga jika berputar-putar pada posisi menjelek-jelekkan tanpa diimbangi dengan pendidikan awareness kepada rakyat juga kurang bagus. contohnya saja, korupsi…disamping kutukan korupsi terus dialamatkan pada pemerintah, juga perlu edukasi bahwa rakyat juga harus hati-hati dengan tindakan nyuap atau nyogok..itukan bentuk lain dari korupsi juga. saya pikir sekian dulu.
    just move on.
    ahmad.tki asal bandung

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s