General · Komunikasi

Intermezo Rapat Dosen Unfari Bandung


* Tiga Penyakit Menular: Malas, Ngantuk, Kikir.

HARI ini, Kamis (03/07/2008) saya mengikuti rapat dosen Fisip Universitas Al-Ghifari (Unfari) Bandung. Kapasitas saya hadir sebagai salah satu dosen luar biasa (baca: dosen honorer). Kali ini mata kuliah yang saya bina cukup keren, Komunikasi Internasional. Pernah saya bina sebelumnya, selain mata kuliah lain seperti Komunikasi Politik, Sistem Politik Indonesia, Pemjkiran Politik Islam, Sejarah dan Diplomasi Islam, dsb. Eh iya, saya ngajar di Jurusan Hubungan Internasional.

Yang mau saya share atau bagi dengan Anda di sini adalah bukan hasil rapat yang memang masalah internal Fisip Unfari eta mah atuh, tapi intermezo-intermezo selama rapat berlangsung yang disampaikan oleh Rektor Unfari, Drs. Deden Suhendar, M.Si. Mungkin berguna bagi kita.

Menurut Pak Rektor, di sela-sela pembicaraan seriusnya tentang sertifikasi dosen, jabatan akademik, masa depan Unfari, sistem dan proses perkuliahan, dll., penyakit menular itu ada tiga:

Pertama, malas. Katanya, kalau kita melihat orang lain malas, kita suka tertular rasa malas. Ia mencontohkan, jika ada teman kuliah malas, maka kita pun bisa tertular, sama malas jadinya, meskipun mungkin tadinya kita rajin. “Maka jauh-jauh aja sama teman yang malas,” katanya. Ia lalu menyindir beberapa dosen yang terkesan malas kuliah S2. Saya mah tidak tersindir atuh da tidak kuliah S2. Kata Pak Rektor juga ‘kan saya mah “orang profesional” alias praktisi.

Kedua, ngantuk. Rasa kantuk biasa menular. Dalam sebuah ruangan, ketika rapat misalnya, kita melihat orang ngantuk, maka kemungkinan kita ikutan ngantuk. “Apalagi di masjid saat Jumatan,” kata Pak Rektor, “kalau orang di sebelah kita nundutan, ngantuk, apalagi dia haji, wah… kita bisa ikutan ngantuk… Haji aja ngantuk, apalagi yang belum haji,” katanya sambil terkekeh bersama peserta rapat.

Ketiga, kikir. Sifat ini bisa menular juga. Pak Rektor mencontohkan, kita biasanya, kalau mau nyumbang, melihat dulu daftar sumbangan yang sudah ada, orang lain nyumbang berapa, dan itu biasanya jadi acuan kita dalam menyumbang. “Orang lain misalnya nyumbang lima ribu, maka kita pun biasanya ikutan nyumbang segitu, padahal mungkin tadinya mau nyumbang seratus ribu,” katanya, terkekeh.

Cuma tiga? Ternyata tidak. Seorang rekan dosen peserta rapat nambahin. “Satu lagi, Pak!” katanya. “Ngutang….!” imbuhnya, disambut ger hadirin. “Orang lain ngutang, biasanya kita juga ikutan ngutang,” katanya menjelaskan.

Ah, suasana meriah tercipta di tengah keseriusan rapat masalah berat soal perkuliahan. Seakan memberi gambaran, suasana kuliah juga harus ada intermezo yang bikin meriah suasana. Dalam Tatib perkuliahan memang disebutkan, dosen harus mampu menunjukkan antusiasme sekaligus memberi “bumbu” humor biar perkuliahan tidak boringin mahasiswa. (Eh mahasiswaku… kalu daku ngajar ngeboringin gak…?)

Intermezo lain adalah soal Pilwalkot Bandung. Pak Rektor menyatakan “bingung” kudu memilih calon mana, karena ketiga pasangan calon walikota Bandung 2008 “ada hubungan erat” dengan Al-Ghifari. Baik Hudaya-Nahadi, Taufikurahman-Abu Syauqi, maupun Dada-Ayi Vivananda.  “Apalagi Ayi Vivananda adalah salah satu dosen di Fisip Unfari,” kata Pak Rektor. “Mangga we lah, pilih mana, tapi meureun minimal milih nu sesama dosen…,” katanya bercanda. Ayi Vivananda memang tercantum dalam daftar dosen Fisip Unfari. Kalo di brosur ada di urutan 18. Saya sendiri ada di urutan 16. Bukan lebih unggul, tapi tu daftar memang disusun alfabetis.

Ada juga intermezo “agak serius”. Yaitu soal seorang wartawan yang menghubungi dia. “Pak Romel pasti kenal wartawan ini, tapi tidak akan saya sebutkan,” katanya. Sang wartawan ini menghubungi Pak Rektor, guna meminta Pak Rektor agar membuatkan ijazah (baca: ijazah palsu) bagi seorang anggota dewan yang sangat membutuhkannya. “Kalo saya mau, mudah saja saya buatkan, apalagi urusan biaya sang anggota dewan ini berani bayar gede,” kata Pak Rektor seraya mengingatkan, jangan sampai godaan semacam itu membuat para dosen terlena. Ia menegaskan, hal-hal seperti itu harus ditolak, dijauhi, kita harus mencari rezeki yang halal. “Jangan sampai, misalnya, ada dosen yang menukar nilai dengan HP,” katanya disambut gerr peserta.

Intermezo juga dikemukakan Dekan Fisip Unfari, Cecep Dudi MS, SH. yang juga Ketua Panwaslu Kota Bandung. Di sela pembicaraan serius soal tatib perkuliahan di fakultas yang dipimpinnya, dorongan kepada para dosen agar kuliah lagi, Pak Dekan setengah bergurau mengatakan: “Kalau ada pelanggaran kampanye oleh calon walikota Bandung, akses langsung kepada saya, langsung beritahukan kepada saya, nanti saya tindak lanjuti…”

Itulah oleh-oleh rapat dosen Fisip Unfari. Kini saya segera siapkan kembali SAP dan materi perkuliahan Komunikasi Internasional, nanti juga di-publish di weblog ini. O, ya, perkuliahan non-reguler ini, alias kelas karyawan, mahasiswanya ada dari pemkot Bandung, TNI, Polri, dan sebagainya. Seru lho ngajar di kelas karyawan begini….

Anda yang mau kuliah kelas karyawan, ayo gabung di Fisip Unfari. Ada dua jurusan: Administrasi Negara dan Hubungan Internaional. Mudah, murah, gedung sendiri, de el el. Alamat Kampus Unfari: Jln. Cisaranten Kulon No. 140 Soekarno-Hatta Bandung Tlp. 911 23573, 911 44855.(*)

Advertisements

2 thoughts on “Intermezo Rapat Dosen Unfari Bandung

  1. pak..
    boleh minta masukan saran
    dosen HI bandung khususnya yang kompeten untuk kawasan asia tengah untuk seminar
    terima kasih

  2. Intermezo nya bagus pak, sangat menggelitik. SAP Komunikasi Internasional nya ditunggu. Selamat bertemu kembali di kelas HI Unfari.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s