NU Jangan Kembali Terjebak


Oleh H.Usep Romli HM

Penasihat Lajnah Ta’lif wan Nasr PWNU Jabar (1996-2006); Ketua Biro Humas DPW PKB Jabar (1998-1999).

         Pascatragedi Monas 1 Juni, Front Pembela Islam (FPI) menjadi bulan-bulanan massal. Selain tokoh FPI Rizik Shihab dan beberapa anggotanya ditahan Polda Metro Jaya dengan tuduhan penyerangan terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beagama dan Berkeyakinan (AKKBB), keberadaan FPI di mana-mana, terancam. Didatangi  para demonstran yang meminta FPI agar dibubarkan.

     Motor penggerak demo menuntut pembubaran FPI, adalah ormas sayap Nahdlatul Ulama, seperti Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Juga Garda Bangsa, ormas pemuda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang merupakan (salah satu) partai “milik” warga NU.

     Bahkan Yenny Zanuba Wahid, Sekjen PKB yang juga putri KH Abdurahan Wahid, menyatakan kepada media massa (6/6), sekitar 30 elemen pendukung Gus Dur, akan bergerak serempak di berbagai daerah, untuk menuntut pembubaran FPI. Yenny tidak menjelaskan elemen-elemen mana saja pendukung Gus Dur itu. Namun hingga saat ini, tidak ada elemen lain yang punya dan mudah menghimpun massa, selain dari elemen-elemen NU. Mungkin saja ada elemen PKB. Namun mengingat PKB sedang terpecah antara PKB Parung (Ali Masykur Musa yang pro Gus Dur) dan PKB Ancol (Muhaimini Iskandar yang disingkirkan Gus Dur), agak mustahil kalau PKB kompak. Kecuali kalau kasus Monas 1 Juni  berpengaruh langsung terhadap penyatuan kembali dua PKB itu Tapi apa hubungannya ?

    Sebab Gus Dur, bersama 200-an para penandatangan deklarasi  “Mari Pertahankan Indonesia Kita” AKKBB (termasuk Sinta Nuriyah dan Yenny Wahid), jelas-jelas mengatasnamakan pribadi. Tidak sebagai orang ormas (NU) atau orang parpol (PKB). Sama seperti para penandatangan lain, misalnya Amien Rais, dan Syafii Maarif, yang tentu tidak mengibarkan bendera kemuhammadiyahan mereka.

    Hanya saja, Gus Dur memang paling menonjol. Begitu kejadian menimpa, langsung bicara di media elektronik. Mengeluarkan pernyataan pedas tanpa tedeng aling-aling khas Gus Dur. Antara lain, akan “membubarkan FPI”. Ketika ditanya oleh para wartawan, bagaimana cara membubarkannya, mantan Presiden RI keempat ini, enteng saja menjawab “ya dibubarkan saja”.

    Gaya “ledekan” Gus Dur terhadap FPI, di tengah suasana panas, tentu saja mendapat reaksi spontan dari orang-orang FPI. Ketua Umum FPI, Riziq Shihab, tanpa tedeng aling-aling pula, balik membalas dengan menyatakan “jangankan satu Gus Dur. Sejuta Gus Dur akan saya hadapi”. Tidak kepalang “ngunghak campelak”, Riziq Shihab melontarkan ucapan pedas. Bahwa ketika menjadi presiden, Gus Dur telah berusaha membubarkan FPI. Tapi kenyataannya, bukan FPI yang bubar. Melainkan Gus Dur sendiri yang bubar dari tahta kepresidenan.

    Setelah Riziq Shihab ditangkap polisi, Gus Dur kembali tampil di televisi. Seraya mengucapkan terimakasih kepada pemerintah c.q Polri yang telah mulai menangani kasus Monas, Gus Dur menyatakan akan sangat berterimakasih jika pemerintah membubarkan FPI. Jika tidak saja FPI dibubarkan, ia akan membubarkannya dengan cara tersendiri.

    Ucapan Gus Dur seperti itu, pasti akan ditanggapi serius dan sangat distortif oleh elemen-elemen pendukungnya. Apalagi mendapat sinyal persetujuan dari Yenny Wahid yang notabene Sekjen DPP PKB.

    Menyikapi fenomena ini, sebaiknya PBNU bergerak sigap. Melakukan pengamanan dan pencegahan, agar kondisi tidak semakin meruyak terkoyak. Kekerasan Monas 1 Juni adalah aib bagi negara dan bangsa. Jika dilanjutkan oleh elemen-elemen lain untuk “membalas” perlakuan FPI – walaupun elemen-elemen itu sebatas pendukung Gus Dur – tentu akan menambah huru-hara. Sebagai tokoh kharismatis, Gus Dur seharusnya menjadi penyejuk. Bukan membuka peluang untuk “diunghak” oleh figur semacam Riziq Shihab. Dan elemen-elemen pendukung Gus Dur di berbagai tingkatan, harus ikut memelihara posisi terhormat Gus Dur. Sehingga jangan sampai menjadi tameng dan corong kelompok-kelompok yang ingin mengambil keuntungan dari kasus Monas. Sekalipun kelompok itu AKKBB. Seharusnya Gus Dur diam untuk mendinginkan suasana. Sebagaimana diamnya Amien Rais, Syafii Ma’arif, Adnan Buyung Nasution, WS Rendra, dan hampir semua pendukung AKKBB. Kecuali para korban penderita kekerasan.

    Tokoh-tokoh NU juga harus ingat kepada peristiwa G-30-S tahun 1965. Tragedi yang mengorbankan 7 jendral dan satu letnan TNI-AD di Jakarta itu, ternyata diikuti jutaan korban di pihak Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituduh mendalangi G-30-S. Orang-orang yang tak terlibat langsung G-30-S, hanya karena aktivis atau simpatisan PKI, terutama di desa-desa, ikut menjadi korban. Terbantai mati atau menjadi tahanan bertahun-tahun tanpa pengadilan. Mereka meringkuk di LP Salemba, Cipinang, Nusakambangan, Pulau Buru dan sebagainya, hanya karena menjadi anggota atau simpatisan PKI. Tidak tahu menahu tentang pembunuhan para jendral, tentang kudeta berdarah di Jakarta.

     Diakui atau tidak, NU ikut terlibat dalam peristiwa kelam itu. Bersama militer, para anggota Anshor dan Banser, dan ormas-ormas Islam serta “Pancasilais” lain, terjun mengganyang PKI beserta antek-anteknya. Menggalang kesatuan dan persatuan melalui aksi-aksi menuntut pembubaran PKI dari pusat hingga ke daerah.

    Setelah keadaan pulih, rezim Orde Baru ditopang kekuatan militer, balas jasa apa  yang diterima NU dalam jerih payah menumpas PKI ? Tidak ada. Untuk sekedar membersihkan nama dari tudingan ikut membantai anggota PKI pun, tidak ada. Ketua Umum PBNU, KH Dr.Idham Chalid memang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada kabinet yang dikomandani Pj. Presiden Soeharto (1967). Kemudian menjadi Menko Kesra pada Kabinet Pembangunan I (1968-1971). Dan menjadi Ketua DPR/MPR 1972-1978. Tapi posisi politik NU secara menyeluruh, sangat dirugikan. Kursi Menteri Agama yang merupakan “milik” NU sejak 1955, lepas ke tangan orang non-NU, mulai dari Mukti Ali (1973-1978), Alamsyah Prawiranegara (1978-1983), Munawir Sadzali (1983-1993), Tarmidzi Taher (1993-1998), Quraish Shihab (1988). Baru kembali ke tangan NU setelah masa Presiden Gus Dur (Tolhah Hasan) dan Megawati (Said Aqil al Munawar). Maftuh Basyuni walaupun NU, namun bukan struktural NU.

    Artinya, keterlibatan mendalam dan sungguh-sungguh NU membasmi PKI dan antek-anteknya, diabaikan  sama sekali. Apalagi setelah konstelasi politik berubah pada masa fusi parpol. Th.1973 NU bergabung bersama Parmusi, PSII, Perti menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Perjalanan PPP terus-menerus dilanda konflik internal. a NU yang paling besar (58 kursi DPR hasil pemilu 1971), digerogoti oleh partai-partai sesama fusi yang lebih kecil. Pemerintah ikut bermain mengerdilkan peran politik NU di PPP, dengan menjunjung posisi HJ Naro sebagai Ketua Umum PPP (1975). Bersama Sudarji, HJ Naro berhasil melakukan de-NU-nisasi di tubuh PPP. Hingga akhirnya NU hengkang dari perpolitikan praktis. Kembali ke khittah 1926 sebagai jam’iyah (1984).

    Peristiwa itu seharusnya menjadi cermin. Jangan sampai warga NU, baik sebagai elemen-elemen pendukung Gus Dur, maupun sebagai ormas resmi (GP Anshor, Banser, Garda Bangsa) dikorbankan untuk sesuatu hal yang lebih kecil daripada peristiwa G 30-S. Sesuatu hal yang diinformasikan tanpa opsi opini yang berimbang, namun akan berdampak panjang dan merepotkan kelak.

    Warga NU yang tersebar di daerah-daerah, di pedesaan-pedesaan terpencil lebih memerlukan perhatian di bidang perbaikan kesejateraan sosial dan ekonomi saat ini. Mereka lebih sengsara dan merana dibandingkan para anggota AKKBB, yang secara material-finansial dan moral-ideologi, lebih kuat, lebih mapan daripada mayoritas warga NU yang didorong-dorong untuk membubarkan FPI dan membela Gus Dur. Biarlah AKKBB dengan segala kelebihan dan kekuatannya yang berhadapan dengan FPI, baik secara massa, maupun secara hukum. Warga NU dan ormas-ormas di bawah NU, sebaiknya tidak ikut campur. Ingat, jerih payah membasmi PKI tahun 1965, justru ibarat air susu dibalas air tuba oleh pemerintah Orde Baru. Apalagi sekarang tatkala NU tidak punya apa-apa dan yang dibela mati-matian juga bukan apa-apa.***

One thought on “NU Jangan Kembali Terjebak

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s