Sebesar Dosa PKI-kah Dosa FPI?


H Usep Romli HM* Kenangan Masa Lalu, Terkait Peristiwa Masa Kini

Oleh H.Usep Romli HM

TAHUN 1964. Saya berusia 17 tahun. Alhamdulillah sudah banyak membaca, yang menjadi kegemaran sejak usia 10 tahun. Hingga akhirnya membaca menjadi kewajiban yang tak dapat ditinggalkan.

Karena itu, pengetahuan mengenai berbagai msalah yang aktual, sudah dapat diikuti dengan faham dan kritis. Termasuk masalah politik. Sambil mondok di sebuah pesantren dan sekolah di SPG Negeri (Garut), saya aktip mengikuti kegiatan-kegiatan politik. Mulai dari “kursus politik” di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) di rumah KH Prof. Anwar Musaddad, Jl.Ciledug yang selalu dihadiri para tokoh NU tingkat akar rumput hingga tingkat wilayah dan pusat. Di situ saya mengenal seluk beluk perpolitikan nasional yang bertumpu pada poros “Nasakom” (Nasional, Agama, Komunis).

Tapi saya juga sering hadir di tempat-temat diskusi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), di Dayeuhhandap, yang kadang-kadang dihadiri Pak Arudji Kartawinata, Ketua Umum DPP PSII yang menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR). Atau di pesantren Darussalam, Wanaraja, pimpinan KH Yusuf Taujiri. Atau mendengarkan obrolan politik di rumah Pak Burhan Mustapa, Jl.Bank. Di situ banyak hadir kader-kader berhaluan sosialis-nasionalis yang kelak aktip di PNI/PDI dan Golkar Putra Pak Burhan sendiri, Awan Karmawan Burhan, terkenal sebagai tokoh DPP Golkar tahun 70-an.

Karena saya menggemari sastra, tempat paling cocok membicarakan di lingkungan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang menginduk ke Partai Komunis Indonesia (PKI). Saya merasa dihargai di sana, sebab para seniman Lekra tahu, beberapa tulisan saya berupa sajak dan cerpen remaja pernah dimuat di media milik PNI Jabar (Harian Banteng) dan PKI Jabar (Warta Bandung). Anehnya, sajak dan cerpen saya tak satupun pernah dimuat di suratkabar milik NU Jabar (Harian Karya). Padahal pada setiap naskah yang dikirimkan selalu disertai keterangan resmi pimpinan NU Garut, yang menyatakan saya sebagai kader GP Ansor atau IPNU.

Maka saya merasa lebih akrab dengan tokoh-tokoh sastra Lekra/PKI. Termasuk dari pusat yang pernah datang ke Garut, seperti Agam Wispi, Hr.Bandaharo, Hesri Setiawan, dll. Mereka menyapa saya, ramah dan terbuka, dengan sebutan “kawan”.  Sedangkan tokoh-tokoh sastra dari Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) yang menginduk ke NU, jika datang ke Garut memosisikan diri sebagai elit PBNU. Sehingga saya tak berani berkenalan atau menyapa Usmar Ismail, Asrul Sani, Mahbub Junaidi, dll. karena merasa diri hanya sekedar “anak bawang” di tengah keluarga besar NU.

Terjadilah tragedi “Gerakan 30 September”, tahun 1965. Pembunuhan enam jendral dan satu perwira pertama TNI-AD. PKI dianggap sebagai dalang utama.

Tokoh-tokoh PKI di pusat, segera ditangkapi. Yang sempat kabur, lolos mencari keselamatan. Ketua Umum Comite Central (CC) PKI, DN Aidit kabur ke Jawa Tengah. Tapi terkepug di Solo. Ditembak mati di tempat. Yang tertangkap hidup-hidup dimasukkan ke penjara.

Bukan tokoh-tokoh pusat saja yang diuber. Tokoh-tokoh di daerah, mulai dari tingkat provinsi (Comite Daerah Besar – CDB), kabupaten (Comite Distrik), hingga kecamatan dan desa, ditangkapi. Orang-orang yang disinyalir aktivis, simpatisan, apalagi anggota PKI, diciduk. Dibawa ke Koramil dan Kodim. Diamankan. Rumah-rumah mereka dibakari.

Saya ikut menyaksikan langsung huru-hara itu. Tentu dengan hati menjerit. Pernah saya bertanya kepada seorang senior di GP Ansor, mengapa orang-orang yang diduga PKI, yang tinggal di desa-desa, ikut diganyang. Padahal mereka tak tahu apa-apa. Sebab yang berbuat makar orang-orang PKI di pusat.

Jawaban dari senior itu, adalah :

 “Pertanyaan kamu amat berbahaya jika kedengaran oleh intel Kodim. Kamu dapat dianggap bersimpati pada PKI. Apalagi kamu pernah dekat dengan para seniman Lekra yang sekarang mendekam di tahanan-tahanan. Menjadi tahanan politik.”

Setelah reformasi 1998, misteri “penangkapan berantai” tanpa pandang bulu terhadap anggota PKI, mulai dipertanyakan, baik oleh para korban yang masih hidup,maupun para sejarawan. Tokoh-tokoh PKI seperti Pramudya Ananta Toer, Hasan Raid, Martin Aleida, Hesri Setiawan, Amarzan Lubis, Sulasmi, A.Latif, dan banyak lagi, menulis buku mengenai derita yang harus mereka tanggung di kamp-kamp tahanan Salemba, Nusa Kambangan, Pulau Buru, dll. akibat “G-30-S” yang tidak mereka ketahui detail seluk-beluknya. Hanya karena ulah sekelompok elit PKI melakukan makar, seluruh jajaran PKI dan anggotanya hingga ke pelosok-pelosok terkena “dosa turunan”. Dicap tahanan politik (tapol), tidak diperbolehkan mejadi PNS atau alat negara lain. Bahkan terkena “bersih lingkungan”. Jika ada saudara menjadi tapol, ikut mendapat stigma sebagai “keluarga tapol”.

Tindakan rezim Orde Baru yang telah melakukan “cacar bolang” kepada PKI, mulai dari membubarkan PKI di segenap tingkatan, hingga penangkapan anggota atau simpatisannya yang cuma ikut-ikutan,  mendapat kecaman keras setelah Orde Baru tumbang.  Sejarawan senior dari LIPI, Asvi Adnan Warman, paling santer menyuarakan koreksi atas tindakan tak berperikemanusiaan itu.

Tapi sejarah suka berulang. L’historie se repete, kata orang Prancis. Mungkinkah konidisi serupa akan terjadi terhadap Fron Pembela Islam (FPI) ? Hanya karena sekelompok anggotanya menyerang orang-orang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), maka FPI di seluruh wilayah Indonesia diminta dibubarkan. Keroyokan dan tuntutan pembubaran FPI muncul di mana-mana.

Tiba-tiba saya teringat pada suasana 43 tahun yl., ketika ikut bersama-sama rekan seorganisasi menyerbu sebuah desa yang dianggap basis PKI. Penduduk tunggang langgang. Tapi kami tak peduli. Entah berapa rumah kami rusak. Entah berapa orang kami pukuli. Plang Comite Ranting (CR) PKI di mulut jalan, kami cabut dan kami bakar.

Guruh api dan teriakan kalut, tak kami pedulikan. Yang penting, PKI bubar ! Bubar !

Karena mereka telah membunuh jendral-jendral di Jakarta. Padahal kami tahu, penduduk desa itu,jangankan tahu Jakarta. Berkunjung ke kota Garut pun belum pernah. Mereka hanya ikut-ikutan menjadi anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) yang berkiblat ke PKI, karena….ya hanya ikut-ikutan saja. “Elmu sapi” kata orang Sunda.

Sekarang saya kembali bersedih. Menyaksikan gambar berita di TV. Orang-orang menuntut FPI bubar. Di Bandung, Bekasi, Solo, Yogya, Malang, Kediri, Surabaya, hingga Bali dan NTB nun jauh di sana. Hanya karena alasan menyerang AKKBB di Monas. Persis seperti menuntut PKI yang membunuhi para Jendral di Lubang Buaya.

Benar-benar “l’histore se repete” mengerikan bagi saya. Tapi tentu dalam posisi yang berbeda sama sekali. Hanya kesannya saja yang sama sebangun. Sebesar dosa PKI-kah, dosa FPI ?* (Untuk Bung Romel, dari H. Usep Romli HM – 6/6/08).*

3 thoughts on “Sebesar Dosa PKI-kah Dosa FPI?

  1. Saya menghargai pendapat anda.Mhn advis anda untuk dapat kiranya berkomunikasi dengan Herasri S. karena banyak yang akan saya tanya tentang isi buku MEMOAR PULAU BURU terutama menyangkut keluarga saya. trimakasih

  2. Menurut suharto, orang yang paling berdosa itu pki,oleh karenanya harus dihabisin. Tapi untuk suharto FPI adalah alat untuk untuk menghabisin pki.\Jadi FPI tidak berdosa.PKI yang berdosa.
    Jadi yang paling benar,dan hebat adalah Suharto pemimbin besar kita. Kita adalah ternyata orang yang masih buta akan kebenaran. Masja Allah.

  3. bukankah kita sdh diajari ilmu tumpas kelor,khususnya para penguasa,baik jaman majapahit,demak,mataram,orde lama,orde baru, dan orde orde selanjutnya…………….????

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s