Pilwalkot Bandung 2008: ‘Biarkan Dada Rosada Sendirian!’


USAI siaran pagi, Selasa (20/5), saya langsung meluncur ke rumah seorang tokoh Kota Bandung. Sebut saja namanya AS, soalnya beliau minta namanya dirahasiakan. Sebelumnya, AS ternyata salah satu pendengar yang on air, menggunakan nama samaran. Ia berkomentar tentang rencana kunjungan Walikota Bandung Dada Rosada ke sebuah permukiman. Komentarnya cukup pedas. “Bilang ke walikota supaya berkunjung tiap hari, biar jalan-jalan di Kota Bandung diperbaiki,” katanya. “Rakyat selama ini hanya memakai bekas pejabat, muntahannya. Jalan bagus karena bekas pejabar lewat, teu baleg pisan…,” ujarnya pedas.

Saat siaran itu memang saya informasikan bahwa ada suatu kawasan di Kota Bandung yang jalannya sedang diperbaiki. Ternyata, walikota mau melewati jalan tersebut. “Pejabat kita memang dimanja, dibuat enak terus, tidak merasakan jalan berlubang dan sebagainya… Pantas saja mereka kadang tidak merasakan penderitaan rakyat,” kata saya saat siaran, sekadar “memancing” pendengar masuk berkomentar via telepon interaktif.

Di rumah AS, saya ngobrol sekitar setengah jam. Fokus obrolan soal Pilwalkot. Menurut AS, fenomena Pilgub Jabar lalu kemungkinan terulang pada Pilwalkot. Saat Pilgub, incumbent Dani Setiawan dan Golkar sangat percara diri (PD) akan menang, ternyata kalah oleh “new comer” Hade (Ahmad Heryawan-Dede Yusuf). Fenomena Pilwalkot Bandung pun demikian. “Dada sangat percaya diri,” kata AS. “Publikasikan aja Kang Romel,” kata AS, “Di antara bakal calon walikota, Dada Rosada yang paling PD bakal menang…”

Menurut AS, beberapa “orang dekat” Dada yang kini menjauh karena melihatnya terlalu PD. Kini Dada bingung mencari figur calon wakilnya. Tapi, menurut AS, sebenarnya Dada tidak membutuhkan wakil. Buktinya, ketika wakil walikota Bandung meninggal dunia dulu, ia tidak meminta penggantinya. Jadilah ia “penguasa tunggal” di Kota Bandung. “Makanya, sebaiknya jangan ada yang mau jadi wakil walikota karena Dada sebenarnya tidak butuh wakil…!” kata AS. “Bila perlu biarkan saja dia sendirian, jangan ada yang mau jadi wakilnya, parpol selain Golkar juga sebaiknya jalan sendiri aja,” saran AS bersemangat. Ia menyerukan PPP, PKS, Demokrat, PDIP jalan sendiri, atau berkoalisi menghadapi Golkar. “Keun we Golkar sina sorangan…” katanya. Biarkan saja Golkar berjalan sendiri.

Sebuah gagasan bagus, menurut saya. Jika parpol dan tokoh Bandung kompak membiarkan incumbent jalan sendirian, yakin, dia tidak akan terpilih lagi. Ini jika warga Bandung ingin punya pemimpin baru yang lebih muda, fresh, dan kredibel. Masak gubernurnya aja usianya 40 tahunan.. tapi… ah sudahlah, terserah warga Bandung. Kalau memang incumbent berprestasi, pilihlah dia. “Tapi ingat, jangan lupa, kasus PLTSa, Hotel Planet, Megatron, Perda K3, Saritem, de el el… dapat diatasinya?” kata AS. (*) 

One thought on “Pilwalkot Bandung 2008: ‘Biarkan Dada Rosada Sendirian!’

  1. Emangnya walikota harus yang umurnya berapa kang?? Kasihan Kang Dada kalau harus sendiri mah..ngke mun lilir hoyong kahampangan kumaha teu aya nu ngarencangan?? Halah…naon sih !!!!!!! gpp lah jalan mah, prioritaskan aja dulu pendidikan dan kesejahteraan rakyat! suka ngenes deh kalo liat yg disekitar masjid raya bandung itu!! atw liat sekolah adik q yang pernah ambruk (skr dah bagus lg). Pendidikan makin mahal, tapi kualitas ga nambah2!! Tp bener deng,q liat Kang Dada koq ky yg sombong gtu ya? kira2apa penyebabnya y? da ari ninggali jabatan mah, di atas dia teh masih ada gubernur…..

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s