Format Radio Siaran


* Catatan dari “Inhouse Training” Fajri FM Bogor

SABTU lalu (10/5) saya “absen” siaran pagi di Shinta 97,2 FM Bandung. Pasalnya, saya harus ke Bogor untuk memenuhi undangan manajemen Radio Fajri 91,4 FM Bogor. Saya dipercaya menjadi “instruktur tunggal” dalam “in house training” crew Fajri FM, dari jam 09.00 hingga 17.00 WIB. Saya meluncur dari Bandung jam 6 am. Masuk Tol Cipularang, nembus Tol Jagorawi, lalu masuk Kota Bogor.

Saya ingin berbagi cerita di sini, sekaligus membuka peluang bagi kritik-saran, barangkali saya salah dalam menyampaikan materi pelatihan yang meliputi teknik siaran, format acara radio, scriptreading, de el el.

Materi pembicaraan saya buka dengan memberi masukan soal format siaran radio tersebut yang sangat minim musik. Ternyata, setelah saya minta jadwal siarannya, radio tersebut menggunakan format rekaman, 70% siaran rekaman ceramah, narasi, atau renungan. Live program hanya 30% . Jadwal siaran yang “aneh” bagi saya, juga mungkin bagi kebanyakan broadcaster. Saya bilang, radio tersebut “belum menjadi radio broadcasting”. Sebuah kritikan “pedas” tentunya… (Maaf jika kurang/tidak berkenan…).

Karena membawa misi dakwah, mayoritas siaran berisi ceramah atau “pelajaran agama”. Masukan saya, radio dakwah tidak mesti eksplisit layaknya ceramah ustadz di mimbar khotbah jumat atau mimbar majelis ta’lim. Radio adalah medium hiburan. Mayoritas pendengar radio nyetel radio ingin mendengarkan musik/lagu.

Rupanya, kebijakan dari “atas” radio tersebut memang dibuat begitu, full dakwah dalam arti mayoritas berupa narasi ceramah atau renungan. Saya bilang, jika format itu dipertahankan, saya khawatir pendengarnya sedikit, maka sasaran dakwah juga sempit. Saya pun memberi masukan tentang format radio dakwah yang menurut saya pas! Yakni, …. (Rahasia dong ah… he he ).

Soal teknik siaran, standar aja. Intinya, kekuatan siaran itu adalah visualisasi penyiar tentang pendengar. Penyiar harus membayangkan pendengarnya satu orang, teman baik, dan ada di depannya. Siaran itu hakikatnya “ngobrol”, menggunakan “suara perut”, lalu jangan lupa senyum. Penyiar mesti menganggap pendengarnya adalah teman baik, maka harus ramah, hangat, friendly!

Penyiar juga adalah entertainer, so.. harus cheerful! Ceria! Humoris! Ketika harus baca naskah, sampaikan dengan spoken reaing, bukan “membaca naskah”. Penyiar juga harus “tahu banyak dan banyak tahu”, harus berwawasan luas, biar siarannya “bernas” dan memberi wawasan/pengetahuan baru bagi pendengar.

Wah, ada tamu… udah dulu ah ceritanya. Thanks to Fajri FM Bogor yang sudah undang saya, semoga silaturahmi kita membawa manfaat dan berkah bagi kita semua. Amin… ! Siapa nyusul ngundang saya neeh…? he he… Wasalam. (*)

4 thoughts on “Format Radio Siaran

  1. Assalamu’alaykum.wr.wb. Pertama-tama sy ingin mngucapkan terimakasih ats kesediaan anda utk menghadiri undangan manajemen Radio Fajri FM. Kalau boleh cerita-cerita sedikit, sy salah seorang dr begitu banyak pendengar setia Radio Ahlussunnah WalJama’ah ini. Wajar memang jk ada yg beranggapan seperti anda. Dikarenakan Islam yg murni,kini sedikit-demi sedikit mulai ditinggalkan dn digantikan posisinya oleh kebathilan.Sekedar Informasi saja, hidup sy berubah total ke arah yg jauh lebih baik selelah rutin mendengarkan Radio ini, begitu pula dg saudara2 kami yg lain. Alhamdulillah Hidayah Allah mengalir deras kpd sy dg mudahnya melalui perantara Radio ini. Dan satu lg, sy jg ingin menanggapi perkataan anda “…saya khawatir pendengarnya sedikit, maka sasaran dakwah juga sempit…” anda tidak perlu khawatir, krn pendengar setia Radio ini,kini telah menjamah hingga ke Bandung,Lampung,Sumatera,dsb terlebihlagi setelah adanya fasilitas Radio Streaming. Tak lupa sy ucapakan mohon maaf ats comment sy,sy sama sekali tidak bermaksud utk menyinggung,apalagi menghina siapapun jg. Hanya utk meluruskan pemahaman yg tdk tepat. Skali lg sy mohon maaf. Berjuang terus Fajri FM….. Suara Kebangkitan Islam !!! Allahu Akbar !!! Wassalamu’alaykum.wr.wb

  2. ka sya adalah seorang penyiar baru yang ingin mencoba dunia broadcast, tapi dalam hal ini saya mengalami kendala yaitu kurang percaya diri dan mudah gugup,minta saran dan petunjuknya, terima kasih

  3. assalammualaikum…..!!! pak dosenku yang ku sayang dan enjoy selalu…aku anak didik bapak di UIN SGD bandung,jurusan jurnalistik “A” smester 3.
    pak saya mau nanya,nanti klo ngajar nyanyi lagi ya…hehehe…!!! gini pak,saya pengen nulis novel tp gimana kalau bahasanya itu bahasanya saya sendiri dan cara penulisanya juga.atau harus sama seperti bahasa jurnalistik??
    sebenarnya saya bukan pengen nulis tp cuma pingin tau aja.hehehe…!!trus apakah judul dalam novel penting banget ga? BLS gpl,klo ga ada pulsa CM aja…hehehe…!!! miss u pak…!!!wasalam.

  4. kang romel…kalo kami undang kesangatta, kaltim…bisa gak? trus kira2 butuh budget berapa yah? abis dari mulai angkatan 1 dulu saya pengen ikutan eh…belum bisa2, jadi kalo ngundang trainernya langsung kesini kan manfaatnya untuk semua 🙂

    (*) Bisa bangeettsss… budgetnya: 1. Transport/tiket pesawat PP (?) 2. Akomodasi hotel/penginapan semalam di sana (?). 3. Uang saku (?). Gimana, murah ‘kan? Kita adain pelatihan full daya + malam jika perlu. Ditunggu… nanti saya email budget lengkapnya + no hp saya. Thanks…

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s