Ada Kejutan di Pilgub Jabar, Pilwalkot Bandung Kumaha?


TIDAK ada satu pihak pun yang memprediksi pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) akan memenangi pemilihan gubernur Jawa Barat 2008. Pasalnya, di atas kertas, pasangan Hade bukanlah tandingan dua pasangan lainnya, Danny Setiawan-Iwan Sulandjana (Dai) dan Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim (Aman). Hade hanya diusung dua parpol “menengah” (PKS dan PAN). Sedangkan dua pasangan lain diusung gabungan parpol besar-menengah-kecil –Dai (Golkar-Demokrat) dan Aman (PDIP, PPP, PDS, PBB, PBR). Dari segi dana kampanye pun Hade kalah jauh dibandingkan Dai dan Aman. Wajar, jika sejumlah pengamat dan hasil survei hanya mengunggulkan Aman dan Dai. Tidak ada satu pun hasil survei yang menunjukkan keunggulan Hade.

Fakta bicara lain. Hade unggul di hampir semua kabupaten/kota. Semua pihak merasa kaget, mungkin termasuk Hade dan tim suksesnya. Tampaknya, masyarakat Jawa Barat sudah “melek politik” dan menggeliat dari posisi sebagai pemilih tradisional menjadi pemilih rasional.

Pemilih menunjukkan kedaulatannya. Mereka “bosan” dengan “tokoh tua” dan ingin mencoba dengan memberi kesempatan kepada “tokoh muda” yang fresh dan menjanjikan perubahan ke arah yang lebih baik.

Kunci kemenangan Hade, tampaknya, pertama adalah kareka kemudaan usia mereka. Faktor usia itu kemungkinan menyedot pemilih muda dan pemula. Kedua, janji dan semangat perubahan pada pasangan Hade merupakan obat penawar dari kepenatan sosial-ekonomi-politik.

Keberanian Hade menandatangani “kontrak politik” dengan mahasiswa merupakan daya tarik tersendiri bagi pemilih. Ketiga, faktor Dede Yusuf. Aktor kondang ini, tidak bisa dipungkiri, mendongkrak popularitas Ahmad Heryawan yang merupakan new comer di jagad politik Jabar. Dede pula yang menyedot pemilih wanita.

Pilgub Jabar memberikan pelajaran berharga bagi parpol-parpol besar dan incumbent. Golkar, PDIP, dan PPP jelas tidak berhasil diandalkan sebagai mesin politik dan vote getter dalam Pilgub kali ini. Artinya, parpol tidak menjadi parameter besarnya raihan suara kandidat. Sebelumnya hal itu dibuktikan dengan kemenangan SBY yang diusung Partai Demokrat yang nota bene partai baru dalam Pilpres 2004. Perkiraan incumbent sangat kuat juga terpatahkan. Dany dan Nu’man adalah incumbent, nyatanya kalah.

SETELAH Pilgub, parpol di Kota Bandung akan disibukkan dengan Pemilihan Walikota Bandung –rencananya– Agustus 2008. Partai-partai besar seperti Golkar, PDIP, dan PPP tentu “panik” dengan hasil Pilgub Jabar 2008. Raihan suara besar dalam pemilu legislatif ternyata bukan jaminan raihan suara besar juga dalam pilkada.

Walikota Bandung H. Dada Rosada kemungkinan juga mulai panik, melihat “kakak”-nya, Gubernur incumbent, kalah. Dada sudah diusung puluhan parpol gurem, juga kemungkinan diusung oleh partai besar, Golkar. Namun, Pilgub memberi pelajaran, dukungan parpol saja tidak cukup. Buktinya, Dai (koalisi Golkar-Demokrat) dan Aman (koalisi PDIP, PPP, PDS, PBB, PBR) kalah oleh Hade yang “hanya” diusung dua partai menengah, PKS-PAN.

Lebih panik lagi, menurut para pengamat, kemenangan Hade adalah karena mereka tokoh muda. Dada sudah cukup tua. Usia pensiun. Sedangkan dalam pilgub terbukti, warga Bandung ingin tokoh muda, bosan dengan tokoh tua, apalagi jika tidak punya prestasi dan tidak menunjukkan kinerja yang baik.

Dada juga punya banyak masalah dalam kepemimpinannya. Ini bisa menjadi batu sandungan baginya. Ada masalah sampah yang pernah membuat Bandung dijuluki “kota sampah” bahkan “kota terkotor” di Indonesia. “Perseteruannya” dengan warga sekitar bakal lokasi PLTSa, arogansinya yang keukeuh akan mendirikan PLTSa meski ditentang warga sekitar dan para pakar lingkungan independen, memberi kesan dia jauh dari warga, tidak sayang kepada rakyat, mementingkan diri sendiri.

Di Amerika, satu warga saja terancam nyawanya, Presidennya bisa turun tangan menyelamatkan. Dalam kasus PLTSa, sekitar 6.000 nyawa manusia, bahkan lebih, terancam, jika dioksin dan gas beracun PLTSa bocor dan menyebar dari pabrik. Apakah Walikotanya peduli?

Dada juga bermasalah dengan Hotel Planet (kini Vue Valace). Hotel ini jelas-jelas melanggar aturan, namun dibiarkan, bahkan kemudian mengalahkan Walikota di pengadilan. Pun soal pelanggaran pendirian Megatron di Jln. Dago dan Asia Afrika. Ini memberi kesan, Walikota tidak berkutik menghadapi pengusaha atau “orang berduit”.

Belum lagi soal kemacetan dan keserawutan kota yang terus menggila, soal PKL, lokalisasi pelacuran Saritem, Perda K3 yang tidak konsisten dijalankan dan ditegakkan, dan sebagainya. The Dark Side of Dada Rosada’s Regime atau “Raport Merah” ini setidaknya akan menjadi sasaran empuk black campaigne kompetitor Dada nanti.

Dengan track record seperti itu, rasionalitas dan integritas parpol pengusungnya pun nanti bisa dipertanyakan. Warga bisa berteriak kencang: “Sebutkan satu saja, satu saja dulu, alasan kuat bahwa Pak Dada masih layak memimpin Kota Bandung!” dan bertanya: “Tidak ada figur lain dari sekitar 3 juta penduduk Bandung?”.

Pesaing Dada hanya tinggal mengusung tema kampanye perubahan, bersih, jujur, tegas, dan “muda”. Sebut saja, “saatnya yang muda yang bicara”; “saatnya yang muda yang memimpin”; “jangan ada lagi kasus Megatron dan Planet yang membuktikan pengusaha (uang) bisa mengalahkan peraturan!”.

Warga Bandung memang tampak “jenuh” dengan tokoh lama. Mereka ingin yang baru, yang fresh!. Setidaknya, itulah yang kerap disuarakan para pendengar radio di acara Good Morning Bandung Raya (GMBR) Radio Shinta 97,2 FM Bandung, tiap Senin s.d. Sabtu, Pkl. 06.00-08.00 WIB. Pendengar aktif yang on air dikenal sangat kritis, bahkan “galak”.

Ah, “Pak tua, sudahlah, kami mampu untuk bekerja…!” kata Elpamas dalam lagunya, Pak Tua. “Pak tua, istirahatlah, di luar banyak angin…!” Ya, yang tua, istirahatlah, nikmati masa tuamu… Jadilah saja penasihat yang bijak bagi kaum muda. (www.romeltea.co.nr).*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s