HINDARI RISIKO BENCANA KEMANUSIAAN, DUKUNG PLTSa JAUH DARI PERMUKIMAN!


HINDARI RISIKO BENCANA KEMANUSIAAN, DUKUNG PLTSa JAUH DARI PERMUKIMAN!

Eta mah aya nu pang mayarkeun, tingal we spandukna sami. Saena konsisten sareng sabar, kumargi bakal seueur cocobi” (Itu ada yang bayarin, lihat saja spanduknya sama. Baiknya konsisten dan sabar, sebab bakal banyak cobaan).

Biasa rekayasa walkot.”

Itulah dua buah SMS yang saya terima dari dua orang anggota DPRD Kota Bandung, dari komisi yang berbeda (B & C), sebagai reply atas SMS saya tentang bermunculannya spanduk berisi dukungan kepada PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) yang dipasang di berbagai sudut kota Bandung. Anehnya, spanduk-spanduk pro-PLTSa itu atas nama berbagai organisasi yang tampaknya “dadakan dibentuk”, guna mendukung rencana pemerintah Kota Bandung mendirikan PLTSa di kawasan gedebage, dekat permukiman penduduk (berjarak sekitar 300 meter).

Saya yakin, spanduk-spanduk itu bukan buatan warga Pungkur, Cibiru, Tegallega, Dago, atau warga kawasan Bandung lainnya yang jauh dari Gedebage. Masalahnya, jika warga non-Gedebage/non-GCA yag membuat spanduk tersebut, itu berarti “memusuhi” warga GCA (Griya Cempaka Arum) dan sekitarnya yang menentang PLTSa.

Saya yakin, warga Bandung memiliki solidaritas tinggi atas keadaan yang menimpa sesama warga Bandung, dalam hal ini warga GCA dan sekitarnya. Paling tidak, warga non-GCA/non-Gedebage akan bersikap diam atas pro-kontra PLTSa ini. Karena kalau mereka mendukung, mengapa tidak minta saja PLTSa dibangun di dekat permukiman mereka? Di kawasan Pungkur misalnya? Atau di kawasan bunderan Cibiru?

Kini warga GCA dan sekitarnya yang menentang PLTSa, seolah-olah “dikepung” dan “dikeroyok” oleh seluruh warga Kota Bandung lainnya. Warga GCA kontra-PLTSa seolah berjuang sendirian. Melawan kampanye pemkot dengan membuat spanduk-spanduk tandingan, rasanya tidak mungkin. Selain tidak akan diberi izin oleh pemkot untuk pemasangannya, juga warga GCA tidak punya dana sebanyak dana pemkot yang notabene uang negara/uang rakyat!

Membaca satu per satu spanduk dukungan terhadap PLTSa, ada rasa sedih sekaligus geram di hati saya. Saya membayangkan, jika warga GCA (kontra PLTSa) mencabuti spanduk-spanduk tersebut, akan dinilai “melanggar hukum”, bahkan mungkin “bentrok” dengan orang-orang atau “kelompok bayaran” walikota.

Trenyuh hati saya, ketika memasuki pangkalan ojek yang menuju permukiman GCA, ada spanduk di sana: “Kami menolak PLTSa dibangun dekat permukiman pelanggan kami!”. Ya, solidaritas telah ditunjukkan para tukang ojek, bagaiman warga kota Bandung lainnya? Apakah tega mengorbankan warga yang bermukim dekat PLTSa demi mengatasi masalah sampah kota Bandung? Apakah tega melihat warga GCA dan sekitarnya hidup terancam, kena risiko “bencana kemanusiaan” yang bisa terjadi jika pabrik itu mengalami apa yang disebut Prof. Otto Soemarwoto sebagai “gagal teknologi” atau gangguan teknis, misalnya bocor, hingga gas beracunnya menyebar kepada warga sekitar, hingga terjadi “pembantaian massal” di Gedebage? Tega? Hanya manusia “berhati iblis” barangkali, yang tega menyaksikan manusia lain harus meregang nyawa, akibat menyebarnya racun/dioksin atau gas berbahaya hasil pembakaran sampah di PLTSa!

HINDARI RISIKO BENCANA KEMANUSIAAN, DUKUNG PLTSa JAUH DARI PERMUKIMAN!

Laa haula walaa quwwata illah billah… Wallahu a’lam.*

Advertisements

2 thoughts on “HINDARI RISIKO BENCANA KEMANUSIAAN, DUKUNG PLTSa JAUH DARI PERMUKIMAN!

  1. “Tashroful imam manuuthun ‘ala maslahaturraiyyah”. Klo yang saya tau mah kayak Gt kang. “Kbijakan Imam teh harus berdasarkan kemaslahatan umat”.tp lamun PLTSa mah duka umat yang mana??Sya jg satuju klo para BirokrAt yg bersangkutan bkin Spanduk SenDiRi dipasang depan KAntornya yang isinya “Terima Buang Sampah,Bwat Nambah Kuota Storan K Mr.Bril, Kalo G Kami didenda,ntar Pajak jadi Naek”.
    Terud yang saya tau mah “Daf’ul Mafashid Muqaddamun ‘ala Jalbil Mashalih”, nyaeta “menghindari kemafsadatan teh lebih didahulukan daripada membuat kemaslahatan” knapa g dpake atuh KAng nya ari Ngarasa urg Islam mah.

  2. Wallahu’alam kalo sayah mah … aja he..he.. jadi warga bandung yang pro itu sama2 membuat Spanduk itu disatu atap misal di Toko A di daerah Suci. Jadi Tulisan Spanduk dan Warna Spanduk-nya sama :).

    Dan Jika Memang Warga Yang Bersedia harusnya tulis juga kayaknya ya kang Spanduknya seperti ini “Warga xxxx Bersedia Lokasi PLTSa di depan rumah Kami”

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s