General

Populer Karena PLTSa


* Konsekuensi Warga Yang Jurnalis 

RABU, 12 Desember 2007, mungkin bisa dikatakan menjadi “Romel Day”. Pasalnya, sejumlah koran nasional dan lokal, hari itu memuat berita hasil “obrolan” saya dengan rekan-rekan wartawan Kompas, Republika, Seputar Indonesia, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Galamedia, 68ARH, dan beberapa wartawan lain, tentang rencana Pemkot Bandung membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Gedebage Bandung. Pagi itu juga, saya diwawancara secara live on air oleh Trijaya FM Bandung tentang masalah yang sama. Berita edisi online-nya bahkan di-copy oleh sejumlah bloger. Asyik deh, kian nyebar tuh info ke seluruh dunia….! 

Inti berita, setelah Jumat (7/12) lalu saya ikut studi banding meninjau dua pabrik pengolahan sampah di Singapura –IUT Global dan Senoko Incineration Plant— saya mengambil kesimpulan: PLTSa Singapura aman dan jauh dari permukiman. Aman karena menggunakan mesin dan teknologi canggih (hitech), tidak ada polusi dan pencemaran lingkungan, juga tidak mengandung gas berbahaya. Jauh dari permukiman karena lokasi kedua pabrik sampah di Singapura itu berada di kawasan khusus industri, di sebelah barat Singapura, dekat pantai, dan butuh waktu sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari pusat kota Singapura. 

Kompas memuat hasil wawancara saya dengan judul “Lokasi PLTS Harus Jauh dari Permukiman” plus foto close up saya. “Di Kompas itu foto tokoh masy cempaka arum atau agen PLTS he he…,” ujar seorang teman dari Cirebon via SMS. Saya jawab singkat: “ha ha… thx”. “Saya sudah baca bos. Itu namanya cendekiawan muslim, peduli thd lingkungan…” komentar kawan saya yang lain, di Bandung, juga via SMS. Banyak SMS dan telepon lain yang merespon berita tersebut yang intinya dukungan dan apresiasi karena saya beberkan fakta apa adanya. 

Republika menurunkan judul “Jarak PLTSa dengan Permukiman Terlalu Dekat”, Tribun Jabar memilih judul “PLTSa Aman Karena Jauh dari Permukiman”, Seputar Indonesia menggunakan judul “PLTS Harus Jauh dari Warga”. Pikiran Rakyat menurunkan hasil wawancara dengan saya itu dalam tulisan feature berita berjudul “Jangan Dekat Permukiman”.

Saya berterima kasih kepada kawan-kawan yang telah mempublikasikan wawancara tersebut. “Thanks atas pemuatan berita hasil obrolan qta kemarin. Great!” ujar saya via  SMS kepada mereka.  

Uniknya, hanya Kompas dan Republika yang menuliskan nama lengkap saya secara benar, Asep Syamsul M. Romli alias Romel, karena memang wartawannya meminta saya menuliskan nama lengkap di secarik kertas. Yang lain, salah tuh… ada yang nulis Asep M. Romli, Asep S. Romli, Asep Syamsul Romli, bahkan Ramel dan Usep. Tapi… that’s ok, never mind, yang penting isi beritanya akurat. Thank u all!  

Saya sadar, orang yang pro-PLTSa, khususnya Walikota, mungkin akan marah sekali membaca berita-berita tersebut. Tapi, Alhamdulillah, lebih banyak yang memahami posisi saya sebagai jurnalis yang tidak mungkin menyimpan info yang sangat penting bagi masyarakat, yang tengah dilanda kontroversi tentang PLTSa Gedebage tersebut.

Bagaimana reaksi Pemkot atas pemberitaan tersebut, saya ketahui keesokan harinya, Kamis (13/12), setidaknya di Harian Sindo dan Galamedia. Sindo memberitakan, Sekda Kota Bandung Edi Siswadi mengatakan, warga “melunak” sikapnya soal PLTSa. (Halo Pak Edi, kita pernah “mengudara” bersama dalam sebuah talkshow di Radio Antassalam, masih ingat pasti, waktu sosialisasi Perda K3).

Sedangkan Galamedia menulis begini:

“…Kekaguman terhadap keberadaan PLTSa Senoko juga terlontar dari Asep M. Romli yang akrab dipanggil Romel. Kepada sejumlah wartawan di Bandung, termasuk Briliant Awal dari Galamedia, ia bahkan tidak meragukan teknologi yang digunakan Senoko. Ia bahkan sangat yakin, teknologi yang digunakan sangat ramah lingkungan. Selain menggunakan teknologi tinggi, kata Romel, pengoperasiannya bersih, aman polusi, dan bebas gas beracun.

Namun, Romel mengingatkan, Senoko berada jauh dari permukiman. “Kalau melihat yang di Singapura, maka PLTSa di Kota Bandung harus dibangun jauh dari permukiman. Di sana, jarak dari pabrik ke permukiman sekitar 5-10 km,” ujarnya ketika ditemui di salah satu masjid di Bandung, Selasa (11/12).

Karena itu, ia masih menolak pembangunan PLTSa di Rancanumpang yang lokasinya hanya sekitar 3.000 meter dari rumahnya. Kendati demikian, Romel masih belum menutup habis seluruh pintu penolakannya. Menurutnya, jika PLTSa di Cina berada di dekat permukiman, maka warga Griya Cempaka Arum perlu diyakinkan dengan melihat langsung ke sana. “Harus melihat langsung. Itu agar warga yakin,” katanya.

Menanggapi apa yang dikatakan Romel, Sekda Kota Bandung, Edi Siswadi yakin telah ada perubahan sikap dari sejumlah warga. “Itu berarti kemajuan. Warga sudah mulai paham atas PLTSa. Dengan demikian, kita hanya akan sedikit meyakini bahwa PLTSa tetap aman berada di dekat permukiman,” ujar Edi kepada Briliant Awal dari Galamedia di Hotel Grand Aquila, Rabu (12/12). Sayangnya, Edi belum dapat memastikan kapan Wali Kota Bandung, H. Dada Rosada dapat bertemu langsung dengan warga Griya Cempaka Arum. (Galamedia, Kamis 13 Desember 2007).

Semoga Pemkot Bandung dan para pendukung PLTSa, berpikir jernih dan bertindak rasional, serta menerima fakta bahwa di Singapura PLTSa memang aman dan jauh dari permukiman. Jika tetap ngotot ingin mendirikan PLTSa yang jaraknya dengan permukiman hanya sekitar 300 meter, maka Pemkot harus memberikan jaminan keamanan dan keselamatan kepada warga sekitar; juga jaminan keyakinan bahwa PLTSa itu benar-benar aman, tidak membahayakan masyarakat sekitar dan lingkungan. 

AMAN dan jauh dari permukiman penduduk memang itulah kesan sekaligus kesimpulan yang bisa saya ambil, setelah berkesempatan berkunjung ke dua pabrik pengelolaan sampah di Singapura, 7 Desember lalu. Aman karena dengan mengunakan teknologi canggih (hitech), efek samping pengolahan sampah seperti gas berbahaya, dioksin, atau air lindi seperti dikhawatirkan banyak pihak, dapat dieliminasi atau dinetralisir. Gas atau asap yang tadinya berbahaya pun relatif aman setelah disaring dan dibuang ke udara melalui cerobong asap yang cukup tinggi, sekitar 150 meter.  

Lagi pula, lokasi pabrik jauh dari permukiman, berada di kawasan khusus industri di bagian barat Singapura, dekat pantai, jauh dari pusat kota Singapura –butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dari pusat kota. Kawasan khusus industri ini jarang dikunjungi orang. “Kita sedang menuju ke kawasan yang orang bilang ‘tempat jin buang orok’, karena jarang orang ke sana,” kata local guide, Syafi’i, saat rombongan berada dalam bus menuju ke sana. 

Pabrik pertama yang kami kunjungi adalah IUT Singapore PTE Ltd, di 99 Tuas Bay Drive Singapore. Di pabrik yang bisa dikunjungi di www.iutglobal.com ini, kami mendapat penjelasan tentang proses dan teknologi pengolahan sampah berupa recycling (daur ulang), composting (dijadikan kompos), dan incineration (pembakaran).  

Secara umum, metode dan teknologi pengolahan sampah yang digunakan oleh IUT aman, tidak mencemari lingkungan, dan menguntungkan. Namun, lokasi pabrik ini jauh dari permukiman penduduk. “Jarak pabrik ini dengan permukiman penduduk terdekat sekitar 10 kilometer,” jelas S.K. Ashraf, Plant Manager IUT, ketika secara khusus saya tanyakan soal keberadaan warga di sekitar lokasi pabrik. Saya sempat guyon kepadanya bahwa di Indonesia nama Ashraf dikenal sebagai penyanyi dangdut. 

Pabrik kedua yang dikunjungi adalah Senoko Incineration Plant, pabrik khusus pengolahan sampah dengan teknologi insinerasi (www.nea.gov.sg). Pabrik ini berlokasi di 30 Attap Valley Road Singapore, sekitar 30 menit perjalanan darat dari lokasi pabrik IUT, masih dekat pantai dan sama-sama jauh dari permukiman penduduk. “Lokasi permukiman dari pabrik ini berjarak sekitar 4-5 kilometer,” kata Teo Hock Kheng, General Manager Senoko, ketika secara khusus saya tanyakan soal keberadaan warga di sekitar lokasi pabrik. 

IUT dan Senoko sama-sama menyerap tenaga kerja sekitar 150-160 orang, beroperasi nonstop 24 jam, para karyawan terbagi dalam 3 shift.  

Ringkasnya, setelah mengamati secara seksama kedua pabrik sampah tersebut bersama sekitar 30 anggota rombongan –termasuk di dalamnya Walikota Bandung H. Dada Rosada dan Ketua DPRD Kota Bandung H. Husni Muttaqin, saya mendapat kesan dan kesimpulan: aman, hitech, bebas gas berbahaya, bebas polusi, ramah lingkungan, jauh dari permukiman penduduk, berlokasi di kawasan khusus industri di bagian barat Singapura, jarang dikunjungi orang, dekat pantai, tiga jam perjanalan mobil/darat dari pusat kota Singapura melalui highway (jalan tol), menyerap tenaga kerja sektar 150-160 orang, dan tidak diprotes warga –karena memang tidak ada warga yang bermukim dekat pabrik! *

Advertisements

14 thoughts on “Populer Karena PLTSa

  1. Hmm… menarik… pengen aja nimbrung, dulu pernah ada dosen “Pengetahuan Lingkungan” yang menanyakan ke para mahasiswanya, apa pendapat mereka tentang PLTN, diakhir kuliah beliau bilang

    “Pisau itu tajam… jika digunakan oleh bayi atau anak anak itu sangat berbahaya dan berpotensi melukai, namun jika ditangan koki yang handal, pisau itu bisa jadi alat yang menghasilkan makanan enak tiada tara….”

    Indonesia selalu ditakut takuti dengan ini dan itu… kuatir yang berlebihan, sehingga masyarakat kita bukan bertambah dewasa, namun selalau berada dalam ketakutan. Para cendekiawan juga tidak membantu. pernah di acara Metro TV apa ya namanya…( lupa… :p) tapi salah satu anggota bagito kalo gak salah, memberi pertanyaan kepada mahasiswa, BATAN, dan wakil lingkungan hidup, apa solusi energi tuk Indonesia… PLTN kah? wakil mahasiswa setuju, wakil BATAN jelas setuju :d tapi wakil lingkungan hidup jelas tidak setuju dengan dalih kan bisa pake angin, surya, air de el el… eh wakil BATAN nyeletuk…
    ” Belanda saja yang rajanya kincir angin, yang energinya berasal dari angin, menjajah Indonesia tapi gak pernah ditemukan artefak kincir angin di Indonesia, artinya orang Belanda aja berpikir, Angin Indonesia gak bisa dipake tuk Energi, Air skarang berkurang karna ada sedimentasi, sel Surya? ya Elah mobil dengan sel surya aja, yang panelnya segede gaban cuman bisa jalan sekitar 20 KM/jam ”

    prtanyaan selanjutnya: kapan Indonesia bisa maju, apa yang musti dilakuin… apa mending pemadaman bergilir? Jepang dah punya ratusan PLTN FISI dan skitar 35 PLTN FUSI, Indonesia? bahkan PLTSa satu aja gak punya… nah menurutku tantangannya adalah bukan memilih apakah PLTSa, tapi apa yang harus dilakukan untuk memastikan PLTSa atau sumber energi alternatif lain aman dan bekerja optimal di lingkungan Indonesia… Masak sampe 20 tahun lagi kita masih pake PLTA, en pemadaman bergilir sebagai solusi???

    Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater

  2. Kang Romel yth.
    Saya sangat bersimpati, dan prihatin atas apa yang terjadi saat ini. Kenapa warga GCA diuamagekan sebagai musuh bersama sebagian warga kota Bandung. Ada pertanyaan sebenarnya seberapa jauh sih, jarak antara permukiman dengan rencana proyek. Kalau benar dekat, itu benar musibah bagi warga GCA.
    harga rumah disitu bisa-bisa turun drastis dong., belum permalahan sosial yang akan terjadi.
    Selama ini tak ada jaminan PLTSA efektif, bayangkan berapa bahan bakar yang harus dikeluarkan untuk membakar sampah yang basah? Energi yang dihasilkan berapa? Asapnya katanya aman, ya kalau aman kenapa engga di alun-alun saja? atau dekat pendopo, disitu kan banyak tanah/ gedung kosong?? he..he..
    hatur nuhun

  3. kalo PLTSa beroperasi dengan baik kenapa negeri tetangga itu masih mengekspor sampah nya ke indonesia. hehehe.

    sudah baca berita bbc tentang olimpiade di cina yang terancam gara-gara kabut asap. :p

  4. kang romel saya salut dengan akang,
    udah ikut rombongan yang notabene di biayai oleh walikota yang tentu saja tujuannya untuk mendukung bapak walikota kita yang terhormat.
    akan tetapi akang tetep menulis secara obyektif hasil kunjungan anda.
    dan saya juga setuju klo di singapura pasti pengolahan lebih hitech dan tanpa protes dikarenakan pembangunan jauh dari pemungkiman dan diolah secara modern dan disiplin.

    emang sangat sangsi klo liat niatan pemkot bandung untuk membangun di gedebage.
    saya menyangsikan

    apakah akan “benar” pengolahan di gedebage dengan dana hanya 150 Milyar untuk pembangunannya, apakah akan se hitech di singapura. apakah akan jauh dari polusi jika cerobong asap hanya 42m (bandingkan dengan singapura 150m),

    apakah di jamin akan tidak menghabiskan sumber air tanah di daerah gedebage di karenakan PLTSA ini akan boros air untuk pengelolaannya,

    apakah tidak menimbulkan bau yang sangat menyengat, mengingat karakteristik sampah di Indonesia yang merupakan sampah basah. Beda dengan Singapura yang pasti sampah sudah terpilah dari sumbernya (sampah kering dan sampah basah).

    apakah dijamin SDM nya akan mengelola dengan baik dan sesuai dengan standar ( mengingat di Indonesia belum ada standarisasi tentang polusi udara).

    dan apakah memang sudah tertutup hati nurani pejabat kita yang terhormat sehingga mengesampingkan semua alasan tersebut diatas hanya untuk kepentingan pribadi dengan mengesampingkan opini masyarakatnya.

    saya sangat berharap klo pejabat kita yang terhormat ini mau untuk lebih berpikir jernih akan pembangunan PLTSa ini.
    karena saya jamin PLTSa ini akan banyak mudarat nya dari pada manfaatnya

    dan kenapa pak dada tidak mau dialog dengan atau tukar pikiran dengan orang orang yang punya pendapat lain dengan keinginannya. sehingga bisa lebih mendapat masukan dari berbagai pihak

    semoga bangsa kita ini terhindar dari malapetaka yang di ciptakan oleh warga negara kita sendiri ini

  5. Bravo Kang Asep Syamsul M. Romli alias Romel

    ” Komentar dan Informasi Kang Romel bisa menjawab kegelisahan warga di pemukiman terdekat,
    dan juga menjawab komentar beberapa warga kota bandung yang setuju dengan pemaksaan kehendak Pemkot Bandung “.

    Pro dan Kontra mewarnai pembangunan PLTSA di kota Bandung..
    Apakah ini sengaja diciptakan …atau ada..kepentingan…??
    KASIHAN WARGA KOTA BANDUNG…

    “Ketua Forum Bandung Timur (Forbatim) berbicara tidak berdasarkan fakta”.

    1. Komentar tentang lahan yg kotor penuh sampah tidak terurus, menunjukkan bahwa sdr. Agus tidak pernah

    melihat lokasi yg akan dipakai untuk lahan PLTSA. Kami sarankan Sdr.Agus datanglah ke lokasi dan

    lihatlah sendiri dan kemudian berbicaralah dengan warga terdekat..?

    2. Rencana lahan PLTSA adalah lahan produktif untuk pertanian dengan kapasitas panen sebanyak 3 kali

    setahun dengan pengairan yg baik walau hanya dari jenis irigasi kecil.

    3. Saya sebagai warga di wilayah Bandung Timur sangat malu memiliki ketua yg mengaku mewakili warga

    Bandung Timur tetapi ternyata memiliki wawasan pengetahuan yg sangat sempit tentang rencana pembangkit

    listrik Tenaga Sampah.

    4. PLTSa yang akan dibangun akan mengakibatkan beban anggaran 50 Milyard setahun untuk subsidi kepada PT.BRILL, dan itu berarti beban Tambahan baru dari Rakyat kepada pihak Swasta, Apakah tidak sebaiknya anggaran sebesar tsb diatas di alokasikan kepada para pelaku UKM di Sektor Riel…. masing-,masing diberikan 10 jt rupiah minimal dapat terangkat UKM 5.000 per tahun dengan minimal 3 tenaga kerja per ukm.
    Bagaimana kalau KSO nya selama 20 tahun…????? berapa dana masyarakat yg akan terpakai…???

    5. Komoditi politik sudah kental dalam Pro Kontra Pembangunan PLTSa di Bandung. Silahkan saja asal

    jangan rakyat dikorbankan saja lah.

    Saya seduikit memahami masalah Technologi yg telah kang Romel ungkapkan, Namun Sebagai Jurnalis Muslim saya percaya kang Romel juga akan memikirkan dan mengangkat masalah ekonomisnya juga yang tentunya juga menjadi faktor dominan didalam pembangunan PLTSa.
    Mengapa dipaksakanan …? Ada apa dipaksakan….? Untuk kepentingan Siapa Dipaksakan ….?
    Subsidi hampir 50 Milyard setahun bukan sedikit loh Kang….?

    Wassalam
    Bhigo
    Rancanumpang, GedeBage
    Bandung

  6. Saya mendukung warga Griya Cempaka Arum yang MENOLAK Pembangunan PLTSa. Info proyek ini, persiapannya saja udah ngak bener. Kalo bener sih ngak akan ada yang namanya demo penolakan. Bukan hanya warga GCA yang menolak, tapi juga para ahli lingkungan, Walhi Jabar, LSM dan banyak lagi.

    Berita di http://www.bandung.go.id, kamis 27 Desember 2007 disampaikan “PLTSa GedeBage Walikota Bandung Siap Tanggungjawab Lahir Bathin”
    Menurut saya ya ngak bisa cuma bilang gitu aja, harus jelas bagaimana jika GAGAL. Harus dipersiapkan dan direncanakan anti sipasinya. Termasuk penggantian kerugian terhadap warga CGA dan sekitarnya.

  7. satuju kang ari kieu mah 🙂 saya sebagai Penduduk Cempaka Arum oge ngadukung kalo prinsip yang dikembangkan di Spore dan akan di terapkan di Bandung bener2 MIRIP yang dijadikan Bahan Kajian 🙂

  8. Dear Pak Romli,

    Saya tertarik sekali membaca artikel anda mengenai Incinerator di Singapore, kalau boleh tahu gimana prosedurenya untuk memperoleh izin melakukan studi banding ke salah satu incinerator di Singapore? Apakah harus melalui Institusi Pemerintah atau Institusi Pendidikan, saya sendiri adalah swasta yang tertarik untuk membangun PLTSa.
    Terima kasih sebelumnya untuk bantuan anda.

    Salam,
    Hanny Hidayat

  9. Syukur udah liat sendiri yang namanya PLTSa di negri orang, meski sebetulnya tidak bisa dibandingkan dengan yang akan dibangun di Gedebage. Seharusnya kita membandingkan APEL dengan APEL lagi, bukan APEL dengan JERUK..

    Sayangnya cuma berkunjung 1 hari ya dan hanya mendengar penjelasan dari front office. Sebetulnya kalau mau tau lebih jauh, kita mestinya masuk juga dari back officenya. Dibawa kemana abu dan keraknya. Apakah yang dibuang Singapur ke Pulau Galang bukan dari Senoko juga…..?

    Mengelola B3 di luar negeri lumayan mahal. Jadi yang bagusnya diperlihatkan kepada pengunjung dari Indonesia, yang gak bagusnya dibuang ke Indonesia juga.

    Kenapa Senoko dan incinerator IUT Singapore Ltd dibangun jauh dari permukiman? Karena pemerintahnya TAHU, PAHAM dan MENJAGA KESELAMATAN WARGANYA.

    Bagaimana dengan pemerintah Kota Bandung?

  10. Ass. Wr. Wb

    Kang Romel, semoga perjuangan menolak PLTSa di Bandung Raya ini dapat membuahkan hasil. Tak hanya untuk penduduk di GCA, tapi juga warga tatar Bandung.

    Sejak Senin lalu, banyak prapatan di Kota Bandung ini dipasangi spanduk yang mengatasnamakan berbagai forum. Mungkin forum ini dadakan dan hanya untuk mengusung rencana pemkot. Sampai-sampai ulama pun dilibatkan dan tanpa mencermati potensi konflik di antara para ulama pendukung PLTSa dan yang kontra-PLTSa.

    Pola itulah yang disebut cultural dope, yaitu menganggap bodoh masyarakat, wong cilik dan pasti mengekor pendapat pejabat, tokoh, ulama yang telah disusupi oleh pemkot.

    Demikian dan salam.
    Gede H. Cahyana

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s