Masa Depan Mahasiswa Jurnalistik


* By ASM. Romli. Materi Ceramah pada Acara Masa Orientasi Mahasiswa Baru Jurnalistik UIN SGD Bandung, Jumat, 30 November 2007. 

MASA depan mahasiswa jurnalistik itu cerah. Kalau dikatakan tidak cerah, di samping mungkin saya berdosa karena mempengaruhi Anda, mahasiswa jurnalistik, untuk bersikap pesimistis dan mungkin akan banyak mahasiswa jurnalistik yang mengundurkan diri.  

Di Jurusan Jurnalistik UIN Bandung ini Anda dibina dan membina diri untuk menjadi seorang ahli komunikasi, khususnya menjadi seorang jurnalis (wartawan) andal. Sedangkan dunia pers sekarang ini, lagi marak dengan bermunculannya media-media baru, seiring terbukanya kran “kemerdekaan pers” yang dijamin UU No. 40/1999.  

Itu berarti, era informasi kian terasa. Dewasa ini, informasi merupakan “komiditi primer” yang dibutuhkan orang, seiring dengan makin canggihnya teknologi komunikasi, sehingga lazim dikatakan bahwa peradaban pada masa ini merupakan “peradaban masyarakat informasi”.  

Bahkan, informasi bukan hanya kebutuhan, melainkan juga dapat menjadi “sumber kekuasaan baru” (the new source of power). Teknologi informasi dapat menjadi alat terpenting untuk manipulasi dan alat kendali pemikiran dan perilaku publik.

Teori Agenda Setting menegaskan: “Apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Apa yang dilupakan media, akan luput juga dari perhatian masyarakat”.  Itulah sebabnya wartawan atau media dijuluki sebagai “kekuatan keempat” (the fourth estate) karena peran dan pengaruhnya –membentuk “opini publik” (public opinion) yang mempengaruhi sikap dan perilaku massa, lalu terbentuknya “agenda publik” (public agenda), “agenda politik” (political agenda), dan “kebijakan public” (public policy). 

Menjadi pendapat umum, siapa yang menguasai informasi dialah penguasa masa depan. Sumber kekuatan baru masyarakat bukanlah uang di tangan segelintir orang, melainkan informasi di tangan banyak orang (The new source of power is not money in the hand of a few, but information in the hand of many).  

Kalaupun nanti Anda tidak bekerja di bidang pers, didikan selama di Jurusan Jurnalistik UIN Bandung akan cukup untuk mengantarkan Anda menjadi penulis, komunikator yang baik, atau “komunikator profesional” –syaratnya, Anda serius dan khyusu’ dalam perkuliahan. Apalagi banyak instansi, swasta maupun pemerintah, memiliki media komunikasi internal, semacam jurnal, buletin, atau majalah (inhouse magazine, company magazine). Di sanalah Anda dapat unjuk kemampuan sebagai ahli komunikasi. 

Dunia pers adalah lapangan kerja yang selalu terbuka menerima karyawan baru. Kemampuan menulis sekarang ini menjadi sesuatu yang dikejar. Dengan memiliki kemampuan menulis, seseorang bukan saja dapat mendapatkan penghasilan (honor), sebagai penghasilan sampingan atau bahkan utama (berprofesi sebagai penulis), melainkan juga dapat aktif sebagai “propagandis”, pembentuk opini umum lewat tulisan-tulisannya, melakukan da’wah bil qalam, menyebarluaskan ilmu atau pemikirannya, dan tentunya turut mewarnai muatan informasi media massa. 

Visi Baru Mahasiswa

Kembali ke pernyataan awal, ahli komunikasi itu masa depannya cerah. Namun harus diingat, kecerahan masa depan itu tetap saja tergantung pada bagaimana Anda, di Jurusan Jurnalistik UIN Bandung ini,  mempersiapan masa depan itu. Karena itu, di sini saya akan mengajak Anda menentukan visi baru mahasiswa secara umum, kemudian visi mahasiswa komunikasi secara khusus. Itu semua demi mengajak Anda mendesain masa depan yang cerah tadi. 

Mahasiswa kini tentu berbeda dengan yang dulu. Tantangan dan relitas sosial-politik masa kini juga berbeda dengan yang dulu. Untuk itu, mahasiswa kini perlu memformat visi baru, sekaligus melepaskan diri dari belenggu “warisan” angkatan-angkatan mahasiswa tempo dulu (‘28. ‘45, ‘66). Namun, semangat juang demi kebenaran dan keadilan, dinamisme, aktivisme, kritisisme, dan kreativisme mereka patut tetap ditanamkan dalam jiwa mahasiswa sekarang. 

Sebagai alternatif, di sini bisa didiskusikan format atau “paradigma profesionalisme” sebagai cara menyalurkan dinamisme, aktivisme, dan idealisme mahasiswa. Paradigma ini berarti “desain aktivitas atas dasar bidang kajian yang digeluti”. Selanjutnya, akumulasi aktivitas tidaklah selalu dilihat dalam format angkatan. Ia bisa menyebar, independen, atau terikat secara struktural. Dengan demikian, yang terlihat bukanlah selalu kumpulan mahasiswa, melainkan individu mahasiswa yang lebur sebagai unsur masyarakat di mana ia bisa terlibat di dalamnya. Kekuatannya adalah ilmu atau keterampilan yang dimiliki mahasiswa yang ia dapat di bangku kuliah. Dengan kemampuan analisis dan keterampilannya, ia dapat terlibat dalam pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat. Ia berusaha terlibat mengubah tatanan masyarakat yang dirasakan kurang ideal, mulai dari pola berpikir hingga tataran operasional kerja-kreatif karikatif. 

Sebagai contoh atas pelaksanaan visi tersebut, kini banyak mahasiswa yang aktif di LSM dan forum-forum kajian, beraktivitas dalam pemberdayaan masyarakat lemah atau dalam “proses penyadaran” masyarakat. Meskipun tidak sedikit pula mahasiswa yang sudah “pragmatis-hedonis”. 

Visi Mahasiswa Komunikasi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, sebagaimana mahasiswa bidang ilmu lainnya, dituntut mampu dalam dua hal. Pertama, mendalami ilmu yang dikajinya. Kedua, menjalankan fungsi sebagai “kekuatan moral” (moral force) dan “agen perubahan sosial” (agent of social change). Untuk yang pertama, mahasiswa jurnalistik dituntut a.l. memiliki kemampuan atau keterampilan (skill) reportase dan menulis berita, feature, dan artikel.

Ia juga dituntut mampu mengelola dan mengembangkan usaha penerbitan pers. Manfaatkan media kampus (student paper) sebagai ajang penajaman skill jurnalistik. Jika perlu, atau tidak ada fasilitas praktek di jurusan Anda, bentuk saja kelompok dan buatlah “media komunitas”, seperti buletin, mading, atau weblog.  

Bersamaan dengan itu, ia dapat memenuhi tuntutan yang kedua, yakni berjuang demi kepentingan masyarakat dan mengekspresikan gagasan serta kepedulian sosialnya. Artinya, ia dapat berjuang demi kepentingan kaum tertindas dan menentang status qou melalui jalur media massa (ghazwu al-fikr). Dengan demikian, sebagai pelaksanaan visi baru berupa “paradigma profesionalisme” di atas, mahasiswa jurnalistik dapat berjuang di bidang “proses penyadaran dan pencerahan pemikiran” kepada masyarakat banyak, sekaligus menyampaikan aspirasi masyarakat dan menyalurkan idealismenya. Ia pun dapat menjadi “humas” atau “seksi publikasi” pergerakan mahasiswa dengan kemampuan khusus –yakni ilmu jurnalistik– yang didapatnya di bangku kuliah. 

Karier Jurnalistik

Secara das solen, mahasiswa jurnalistik dididik atau dikader untuk menjadi jurnalis, bekerja di dunia pemberitaan (pers). “Bekerja dalam dunia pemberitaan sudah harus dianggap sebagai cara hidup (way of life), dan bukan sebagai karier saja,” kata John Tebbel, Profesor Jurnalistik di Universitas New York, AS, dalam bukunya, Opportunities in Journalism Carreers. 

Pekerjaan ini, masih kata Tebbel,  tidak hanya membutuhkan komitmen, tapi juga kemauan dan tekad untuk menjadi orang tertentu, yakni seseorang yang bisa menjadi “pengamat terlatih” terhadap ragam peristiwa. Tebbel lalu menyebutkan “karakteristik orang-orang suratkabar”, seperti memiliki rasa ingin tahu yang konsumtif tentang dunia dan segala hal di dalamnya. “Orang yang sama sekali tidak tertarik pada hal-hal dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya, sebaiknya jangan menekuni bidang ini,” katanya. 

Hal senada dikemukakan Coleman Hartwell dalam Do You Belong In Journalism?:  “Seseorang yang tidak mengetahui cara untuk mengatasi masalah dan tidak mempunyai keinginan untuk bekerja dengan orang lain, tidak sepantasnya menjadi wartawan. Hanya mereka yang merasa bahwa hidup ini menarik dan mereka yang ingin membantu memajukan kota dan dunia yang patut terjun di bidang jurnalistik”. 

Jam kerja wartawan 24 jam sehari. Ia bekerja sepanjang waktu dan kadang-kadang bekerja di tempat bahaya atau terancam bahaya. Merekalah yang memburu berita (fakta atau kejadian), meliput berbagai peristiwa, dan menuliskannya untuk dikonsumsi orang banyak. “Di mana terjadi suatu peristiwa, wartawan akan berada di sana,” kata M.L. Stein dalam Bagaimana Menjadi Wartawan (1993), “seperti mata dan telinga para pembaca suatu harian.” 

Wartawan adalah suatu profesi yang penuh tanggungjawab dan risiko. Karenanya, ia harus memiliki idealisme dan ketangguhan. Wartawan bukanlah dunia bagi orang yang ingin bekerja dari jam sembilan pagi hingga lima sore setiap hari dan libur pada hari Minggu. Tidak ada seorang pun tahu kapan kebakaran atau bencana lain akan terjadi. Karena itu pula, untuk menjadi wartawan, seseorang harus siap mental dan fisik. 

Wartawan juga adalah seorang profesional, seperti halnya dokter atau pengacara. Ia memiliki keahlian tersendiri yang tidak dimiliki profesi lain (memburu, mengolah, dan menulis berita). Ia juga punya tanggung jawab dan kode etik tertentu –kode etik jurnalistik.* 

* Bahan kajian lebih mendalam: ASM. Romli, Jurnalistik Terapan: Panduan Kewartawanan dan Kepenulisan (Baticpress, 2001); ASM. Romli, Jurnalistik Dakwah: Visi dan Misi Dakwah Bil Qolam (Rosdakarya, 2003): M.L. Stein, Bagaimana Menjadi Wartawan (Rineka Cipta, 1993); John Tebbel, Karier Jurnalistik (Dahara Prize, 2003).

Advertisements

3 thoughts on “Masa Depan Mahasiswa Jurnalistik

  1. Kalau boleh tahu, apa saja skill yang harus dikuasai seseorang untuk bisa menjadi seorang jurnalist yang handal..?? Tolong hal itu diulas, terima kasih.

  2. apa sih enaknya jadi seorang jurnalis??Saat memilih sebuah dunia yang aneh,yang tidak real,.Berpetualang dalam mimpi yang tidak diakui eksistensinya oleh orang lain.
    Jurnalis membuat hidupku terasa aneh,mungkin itu cuman sebuah mimpi yang selalu membuat aku terus bermimpi..

    (*) Jurnalis adalah mata-telinga publik yang siap berbuat baik kepada publik dengan melaporkan apa yang dilihat dan didengar, bahkan dirasa, yang aktual, faktual, penting, dan menarik bagi publik. Jurnalis adalah pilihan dan harus dipilih dengan hati, panggilan jiwa, bukan karena keterpaksaan. Enaknya jadi jurnalis banyak sekali, a.l. selain berbuat sesuatu bagi publik, juga selalu menghadapi hal-hal baru, dan kita lebih dulu tahu daripada publik… rekan wartawan lain mau nambahin? Thx

  3. menarik bahasannya mas. jurnalistik juga akan membawa kita ke suatu tempat yang, awalnya tidak pernah kita pikirkan. ke suatu dunia yang orang-orang awam mungkin tidak terpikirkan. saya pernah membaca tulisan Cik Rini, seorang wartawan Banda Aceh yang menulis tentang DOM di Aceh. ada tantangan, ada suka dan duka, ada drama, ada informasi, semuanya menyatu di sna.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s