Hikayat Penyair


Siapa Sesungguhnya Para Penyair Itu? 

Oleh H. Usep Romli HM  

PENULIS perlu menjelaskan posisi dirinya sebelum menguraikan gagasannya. Penulis adalah orang yang mengaku beriman (Mukmin) terhadap apa-apa yang tertera dalam Rukun Iman. Seraya berusaha mengaplikasikan dan merealisasikan keimaannya tersebut, baik melalui ibadah mahdloh (ritual individual), seperti shalat, zakat, saum, dan haji, setelah terlebih dulu mengaku secara tulus bahwa Allah satu-satunya Dzat Sembahan serta Muhammad adalah utusan-Nya (syahadatain).   

Hal itu dipertegas dengan keyakinan “Roditu billahi Robba” (ridlo menjadikan Allah sebagai Sembahan), “wa bil Islami dina” (ridlo menjadikan Islam sebagai Dien, pedoman hidup dunia akirat), dan “wa bim Muhammadin Nabiyyaw wa Rosula” (dan ridlo pula menjadikan Muhammad Nabi dan Rosul Allah. Serta dalam ibadah ghair madloh (sosial-komunal), berbuat kebajikan kepada sesama mahluk.  

Karena itu, dalam menilai syair (saja) dan penyair (penyajak), mau tak mau beranjak dari Kitabullloh Quranil Karim. Terutama Q.S. asy-Syu’ara: 224-227 yang membagi penyair dalam dua jenis:  

Pertama, jenis tercela. Yaitu penyair yang diikuti dan mengikuti orang-orang sesat menyesatkan. Kerjanya keluyuran ke sana ke mari. Mengucapkan kata-kata yang tak pernah dibuktikan dalam perbuatan.  

Kedua, jenis terpuji. Yaitu penyair yang beriman kepada Allah dan beramal saleh kepada sesama manusia (amanu wa amilush sholihat), banyak mengingat Allah dan bangkit melawan setelah mendapat perlakuan tidak senonoh dari orang-orang yang memusuhi Dienullah.  

Penulis juga ikut terlibat dalam kegiatan syair-menyair. Mungkin awal mulanya, berada dalam posisi sesat-menyesatkan. Terutama periode 1966-1976 ketika usia muda, merasa paling sok jago, paling sok terkenal, dan paling pandai mencipta syair. Selain dalam bahasa Indonesia, dimuat di berbagai suratkabar dan majalah seperti Mimbar Jakarta, Pikiran Rakyat Bandung,  Waspada Medan, juga dalam bahasa Sunda. Bahkan sajak-sajak berbahasa Sunda itu telah terkumpul dalam dua buku, masing-masing Sabelas Taun (1979) dan Nu Lunta Jauh (1992).  

Sejak 1976, muncul kesadaran tentang fungsi dan peran penyair. Ini merupakan sebentuk hidayah yang menyadarkan penulis kepada keberadaan dua jenis penyair seperti diutarakan ayat Al-Quran di atas. Renungan kesadaran ini diungkapkan dalam pengantar buku kumpulan sajak Nu Lunta Jauh  

Bagian pertama dari buku kumpulan itu, berisi sajak-sajak yang disebut “runtah jahiliyyah” (Sampah Jahiliyyah), karena berisi sajak-sajak yang penuh berbagai hal sia-sia, erotis, bebas norma, dsb. Sedangkan bagian kedua, merupakan sajak-sajak berisi pengakuan dosa, kehampaan hidup tanpa norma, serta simpati kepada para pejuang mujahidin di Palestina, Afghanistan, Bosnia Herzegovina, dsb. Kebetulan penulis sempat dan pernah mengunjungi tempat-tempat tersebut.  

Dua buah puisi bernuansa kesadaran relijius karya penulis, masing-masing berjudul “Fajar Satu Syawal” dan “Lagu Puji Dinihari”, setelah dimuat di majalah “Panji Masyarakat” th.1976, kemudian dijadikan lagu qasidah oleh Bimbo Group. Dinyanyikan oleh Sam dan Acil. Terhimpun dalam kaset “Qasidah Bimbo 1977” atau “Qasidah Bimbo 2”. Selain karya penulis, dalam kaset itu dimuat pula lagu-lagu yang syairnya ditulis KH EZ Muttaqien, KH Miftah Faridl, “Si Ama” KH Endang Saifuddin Anshari, dan Rahmatullah Ading Affandi (RAF).

Tahun 2002, sebagian dari lagu itu – termasuk “Fajar Satu Syawal” – direkamulang oleh Sonny Music, dinyanyikan oleh penyanyi Ike Nurjanah dan sempat ditayangkan di beberapa TV selama hari-hari Lebaran Idul Fitri.  

Maka apabia dalam tulisan ini, terdapat perbedaan amat tajam dengan para penyair lain yang mayoritas berada pada kubu “asy syuaro-u yattabiuhumul ghawwun”, harap maklum. Meminjam pepatah Arab “ana adhab ila haliy wa anta tadhab ila halika” (saya berjalan pada jalur saya, dan kamu berjalan pada jalurmu). “Sia sia, aing-aing” kata orang Sunda.  

Apalagi jika dikaitkan pada konteks pertanyaan “apa manfaat sajak itu sebenarnya?”. Sama sekali tidak bermanfaat, jika yang ditulis hanya sajak-sajak omong kosong belaka, yang menggugah naluri seks atau sekedar gurau canda alias “laghwun”. Tidak ada sajak pun, bahasa tak akan punah. Tak ada penyajak pun, kehidupan tak akan berubah. Bahkan – meminjam istilah Mensesneg Hatta Rajasa mengomentari ketiadaan Mendagri – tak Mendagri pemerintah jalan terus.Tak ada Mendagri tak berpengaruh apa-apa (paling tidak menurut Mensesneg). Apalagi tidak ada sajak dan penyair!  

Berbicara tentang sajak, syair atau karya sastra pada umumnya, mau tak mau harus melirik jauh ke belakang. Ke jaman “jahiliyyah”. Yaitu suatu jaman tatkala manusia sudah menemukan kemajuan pisik-material, namun mental-spiritual tetap terbelenggu kebodohan dan kegelapan. Jaman tatkala manusia mengagung-agungkan estetika (seni), kebebebasan berekspresi (menulis apa saja, termasuk merendahkan martabat agama dan manusia), sekaligus menghina etika (moral. Mereka menganggap moral sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan. Menghambat ekspressi, mencemari estetika.  

Hal ini tampak dari sajak-sajak karya para penyair “jahiliyyah”. Para penyair yang hidup di jazirah Arab, sebelum datang nubuwah kenabian kepada Muhammad al Amin. Mereka hidup dalam tatanan kacau-balau. Membunuh, berzina, minum minuman keras, merupakan pekerjaan biasa. Mencaci maki, memuja-muji seseorang, menghinadina seseorang, Perbuatan seperti itu sudah dianggap tradisi, dan disebarluaskan melalui tulisan syair atau atsar (prosa) yang dipublikasikan dengan cara ditempel di dinding Ka’bah. Sehingga siapa saja, baik perorangan maupun kelompok, mampu mengaksesnya. Membaca dan mengagumi atau mencercanya.  

Contoh dari sebuah puisi karya Jarir, seorang penyair “jahiliyyah” yang menghina Bani Numairi sambil menyanjung Bani Ka’ab dan Bani Kilab :  

Faghudidl thorfa innaka min Numairi Fa la Ka’ban balaghta wa la Kilaban(Rendahkan tatapanmu, wahai engkau dari Bani Numairi Engkau tidak setara dengan Bani Ka’b maupun Bani Kilab)  

Para penyair “jahiliyyah” lain, suka memuja-muji seorang tokoh. Misalnya, penyair Hassan memuja-muja Raja Ghassan, Zuhair bin Salma memuja-muja Harim bin Sinan, Nabigah ad Dzibyani memuja Nukman, dll.  

Contoh kultus individu penyair terhadap orang-orang yang dikultuskan, dari sajak karya An Nabigah tatkala memuja Nukman :  Ka annaka syamsu wal mulku kawakibunIdza thala’at lam yabdu min hunna kaukabun (Engkau bagai matahari, sedangkan raja-raja lain hanya bintang Bila matahari terbit, tak akan ada satu bintangpun tampak benderang)  

Sedangkan para penyair “jahiliyyah” lainnya, sangat gemar memuja-muji kekasih, cinta, nafsu seks, kenangan masa lampau yang penuh gambaran kasmaran. Nama-nama penyair “jahilliyyah”  termashur, seperti Umrul Qais, Tharfah bin Abid, Zuhair bin Salma, Labid bin Rabi’ah, Amru bin Kultsum, Antarah, dll., menulis banyak puisi yang berisi tangis sedih cucuran air mata darah, hanya sekedar mengenang kekasih yang ditinggal jauh. Atau karena menginginkan seteguk alkohol.

Petikan puisi karya Amru bin Kulsum dapat dijadokan contoh :  Ala hubbiy bishohbiki fasbihina Wa la tubqiy khumurol andarina(Wahai, bangunlah pagi bersama bejana Janganlah engkau tinggalkan khamer yang tersisa)  

Itulah ciri sajak-sajak “jahiliyyah” yang ditulis para penyair abad “jahiliyyah”.  Bagaimana sajak-sajak para penyair abad moderen? Ternyata hanya zaman yang berubah. Tema dan isi syair sama sekali masih lekat dengan suasana “jahiliyyah”. Bahkan idiom, ungkapan dan kalimat-kalimat yang digunakan masih tetap seperti yang digunakan syair-syair “jahiliyyah” 2000 tahun yl.   

Dengarlah syair-syair aneka macam lagu, sejak pop, metal, rock, dangdut hingga klasik, tetap saja masih berisi ratapan cinta, pencarian kekasih, harapan kepada kenangan silam, puja-puji terhadap kehebatan atau kecakapan dan kecantikan seseorang  Termasuk idiom “anggur merah” yang tak beda dari “khamar andarin”. Dalam kata-kata lain, masih tetap bernuansa kemaksiatan.  

Hal yang sama terdapat  dalam karya-karya prosa, yang oleh Taufik Ismail dinamakan “Fiksi Alat Kelamin” (FAK), atau “Sastra Mazhab Selangkangan” (SMS), sebagai produk dari sastra “Gerakan Syahwat Merdeka” (GSM).  

Bahkan kalau diukur dari ruang lingkup imajinasi, para penyair “jahiliyyah” dulu masih mendingan. Mereka hanya meratapi tempat tinggal yang terpaksa ditinggalkan, kekasih yang pergi entah ke mana, dan sebagainya yang hanya sebatas fantasi. Tapi dalam puisi-puisi “jahiliyyah” sekarang, lebih dahsyat lagi. Penggambaran gerak pisik dan panca indra, begitu plastis dan realistis. Sehingga kata-kata “goyang pinggul”, “kuluman bibir”, “kerlingan mata”, dsb. kerap muncul dalam syair-syair masa kini.   

Binhad Nurohmat, salah seorang penyair yang sangat anti terhadap gagasan Taufik Ismail, menyatakan, tubuh dan seksualitas dalam kesusastraan, sebagai kewajaran, malah memperkaya jamahan tema kesusastraan. Dalam kesusastraan, urusan tubuh dan seksualitas bisa sejajar dengan urusan Tuhan, trem berkelenengan, politik, binatang, agama, maupun gairah asmara. Rendra, Motingo Busye, Dorothea Rosa Herliani, Sutarji Calzoum Bachri, Sitor Situmoang, Ahmad Tohari, Goenawan Mohammad, Acep Zamzam Noor, Linus Suryadi AG, dan Wing Kardjo, juga menggarap urusan tubuh dan seksualitas dalam karya sastra mereka (Binhad Nurohmat “Kura-Kura Kritikus dalam Perahu”, Media Indonesia Minggu, 12 Agustus 207).  

Dari uraian di atas, barangkali sudah terjawab sedikit pertanyaan, siapa dan bagaimana penyair itu Sekian dulu saja. Mudah-mudahan tidak ada yang terprovokasi.  *

H. Usep Romli HM adalah wartawan senior, sastrawan-budayawan Sunda, penyair, penulis buku, penggiat komunitas “Raksa Sarakan”. Tinggal di Pedesaan Kec. Cibiuk, Kab. Garut.

Advertisements

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s