Peta Sastra Negara Kita


Peta Sastra Negara Kita

Oleh H. Usep Romli HM

“Para penyair diikuti orang-orang sesat. Apakah engkau (Muhammad) tidak melihat, sesungguhnya mereka, berseliweran di lembah-lembah dan perkataan mereka, menyimpang dari kebenaran? Mereka mengucapkan apa-apa yang tak pernah dikerjakan. Kecuali para penyair yang beriman dan berbuat kebajikan, serta banyak mengingat Allah, dan bangkit melawan setelah dianiaya” (QS. Asy-Syu’ara:224-227).

KASUS pemuatan sajak “Malaikat” buatan Saeful Badar pada lembaran “Khasanah” HU Pikiran Rakyat edisi 4 Agustus 2007, hlm. 30, yang jelas-jelas mengandung penghujatan terhadap konsep Rukun Iman Islam, sebetulnya tidak berdiri sendiri. Para penyair dan pengarang sastra Indonesia mutaakhir kini sedang mengalami kontroversi amat luar biasa.Di satu pihak, mencoba mempertahankan nilai-nilai norma etika dalam berestetika. Di pihak lain, memforsir segala daya upaya untuk merobohkan norma-norma etika itu. Kelompok terakhir yang memang sangat dominan karena didukung publikasi media massa dan penerbitan yang kuat, menganggap estetika adalah estetika tok. Tanpa perlu etika. Karena kebebasan berekspresi yang masih menganut etika, dianggap tidak bebas lagi. Bukan ekspresi murni lagi. Melainkan ekspresi semu hasil “penjajahan” norma-norma etika yang selalu kuno, primitif, beku, jumud, terbelakang, dsb.

Maka kelompok terakhir ini, diusung para seniman-sastrawan-budayawan yang biasa berkelompok di “Teater Utan Kayu”, berkelayapan dari kafe ke kafe, seolah-olah mengembangkan sebuah mazhab sastra-seni yang –-katakanlah– porno. Karya-karya mereka penuh dengan idiom-idiom tentang alat kelamin, air mani, persetubuhan, seks bebas.

Sebutlah nama-nama Ayu Utami, dengan novel-novelnya “Saman” dan “Larung”, Djenar Mahesa Ayu (novel “Mereka Bilang Aku Monyet”), Dewi Lestari (“Supernova”), dll. Karya-karya lain berupa kumpulan sajak, cerpen, hasil pengumbaran daya khayal tanpa batas dan tanpa etika (serta logika), lahir dari tangan-tangan Hudan Hidayat, Binhad Nurohmat, Fajrul Rahman, Dinar Rahayu, Rieke Diah Pitaloka, dll. Media-media seperti “Kompas”, “Media Indonesia”, “Koran Tempo”, selalu memuat dan menyanjung-puja karya-karya mereka.

Anehnya, orang seperti Binhad Nurohmat, yang konon hapal di luar kepala hadits-hadits Nabi Muhammad Saw dari “Kutubus Sittah” (enam kitab hadits paling representatif, terdiri dari susunan Imam Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nisai dan Ibnu Majah), ikut-ikutan menulis sajak-sajak yang liar dan brutal yang penuh imajinasi-imajinasi seksual. Antara lain sajak-sajak yang terkumpul dalam “Kuda Ranjang” (2002).

Mereka bebas leluasa melahirkan karya apa saja dalam bentuk apa saja, asal mengandung unsur penghujatan terhadap norma-norma kemanusiaan dan keagamaan. Malah mereka menganggap karya-karyanya itu, sangat manusiawi, karena konon berhasil mengungkap watak dasar dan perasaan manusia paling dalam. Konon berhasil mendobrak kemunafikan karena berani mengupas hal-hal yang selalu ditabukan akibat kungkungan norma etika.

Adakah perlawanan dari sastrawan budayawan yang masih punya norma? Tentu saja ada. Bahkan mereka memberikan perlawanan dari dua arah dan cara.

Pertama, langsung menohok kelakuan para sastrawan yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi tanpa norma etika itu. Dipelopori sastrawan senior Taufik Ismail, pada pidato kebudayaan di Akademi Jakarta (20 Desember 2006), berjudul “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka”, menyebut kelompok sastrawan pemuja kebebasan berekspressi itu sebagai “Gerakan Syahwat Merdeka”. Karya mereka, menurut Taufik, dikategorikan “Sastra Mazhab Selangkangan” (SMS), atau “Fiksi Alat Kelamin” (FAK), yang mengandung faham neo-liberalis. Bahaya karya-karya mereka, sejajar dengan bahaya narkoba, VCD porno, TV mesum, foto-foto cabul di internet, dan semacamnya. Kedua, dengan membuat karya-karya tandingan yang penuh norma etika, relijius, serta ajakan takwa kepada Allah SWT. Dipelopori “Forum Lingkar Pena” (FLP), karya-karya baik-baik ini, mampu merebut pasar. Banyak yang berkali-kali cetak ulang. Novel “Ayat-Ayat Cinta” karya Habiburahman el Sirazi, misalnya, sudah belasan kali cetak ulang. Sukes buku-buku tersebut tak pernah diulas di “Kompas”, “Media Indonesia”, atau “KoranTempo” yang hanya mendukung “SMS” dan “FAK” saja.Menanggapi pidato kebudayaan Taufik Ismail, para pendukung “SMS” dan “FAK” segera bereaksi keras. Hudan Hidayat, Fajrul Rahman, Marian Amiruddin, Rocky Gerung, mengeluarkan risalah “Memo Indonesia” (12 Juli 2007). Penuh keangkuhan, mereka menyatakan:”Setiap upaya atas dasar moral, nilai-nilai, atau kekuasaan yang hendak membelenggu,adalah menghambat dan menjauhkan manusia dari kemajuan dan kebebasannya sendiri. Kami adalah manusia bebas. Berdaulat atas jiwa dan raga kami.Untuk mencipta kemanusiaan kami sendiri, dalam kebebasan penciptaan tanpa penjajahan…. Kemajuan dan kebebasan kemanusiaan adalah cita-cita kami!”

Proklamasi “Memo Indonesia” itu, dimuat dalam “Media Indonesia Minggu” 22 Juli 2007. Pada media yang sama, dan tanggal yang sama, penyair Binhad Nurohmat yang konon hafal hadits “Kutubus Sittah” itu, menulis pendapatnya yang menentang pendapat Taufik Ismail.

Dalam tulisan berjudul “Malu (Aku) Jadi Penghujat Sastra”, Binhad memberi “petuah” kepada Taufik Ismail. Bahwa serangan terhadap para sastrawan mutakhir, sebagai provokasi. Tak ubahnya dengan provokasi para pengarang “Lembaga Kebudayaan Rakyat” (Lekra), organisasi kebudayaan milik Partai Komunis Indonesia (PKI) th.1950-1965. Ia menggunakan pendapat “Lekra” ketika menyerang Taufik Ismail dan kawan-kawan yang tergabung dalam “Manifest Kebudayan” (Manikebu), yang merupakan musuh nomor satu “Lekra” tahun 1960-an.

Ketika itu “Lekra” menyerang puisi-puisi erotis karya para sastrawan “Manikebu”: “…puisi erotis adalah puisi hina. Sastra semacam inilah yang harus dibabat” (dikutip oleh Binhad dari rubrik “Lentera” koran “Bintang Timur”, 2 Nopember 1962). Lalu Binhad bertanya, bukankah isi pidato Taufik Ismail bukan sejenis pembabatan juga ?

Binhad juga menyatakan bahwa “Gerakan Syahwat Merdeka” sesungghnya tidak ada. “GSM” hanya jargon orisinil karangan Taufik Ismail semata, yang dibesar-besarkannya melalui koran dan mimbar pidato demi penghujatan dan penyudutan belaka.

Suatu pendapat yang bertolakbelakang dengan kenyataan, yang coba disembunyikan oleh Binhad Nurohmat, penyair “Kuda Ranjang” yang juga penuh kejalangan amoral, padahal ia seorang penghafal hadits Nabi Saw. “GSM” hasil lontaran Taufik Ismail, memang ada. Karya-karya Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Dinar Rahayu, Hudan Hidayat, dkk., termasuk Binhad Nurohmat, benar adanya. Benar membawa genre “Sastra Mzhab Selangkangan”. Yang oleh Mahdiduri, Penyair dan Ketua KSI Banten, dinilai sebagai fiksi seksual yang tak jauh berbeda dari layanan seks premium call 0809 (Republika, 22 Juli 2007).

Pidato kebudayaan Taufik Ismail di Akademi Jakarta, yang menghujat “GSM”, “SMS”, dan “FAK”, tidak pernah diliput, diberitakan atau diulas di koran-koran “Kompas”, “Media Indonesia”, “Koran Tempo”, dan media pendukung neoliberalisme –termasuk pendukung publikasi “Jaringan Islam Liberal” (JIL)– lainnya. Hanya “Republika” yang memuat. Sayang, sebaran “Republika” jauh lebih kecil dan lebih sempit daripada koran-koran neoliberal tadi. Sehingga gemanya tidak sampai ke masyarakat.

Demikian pula, pemberitaan atau iklan buku-buku karya pengarang “Forum Lingkar Pena” yang Islami, hanya “Republika” yang suka memasang. Yang lain-lain –terutama “Kompas” lebih suka mempublikasikan dan menyanjung puja karya-karya “picisan” semacam fiksi “teenlit” atau “chiklit”, yang isinya hanya cocok untuk sinetron-sinetron remaja kelas kambing di TV-TV yang juga mengemban missi neoliberal.

Berdasarka fakta-fakta di atas, umat Islam perlu melakukan langkah-langkah preventif dan berskala besar. Antara lain :

1. Merangsang pertumbuhan pengarang dari lingkungan Islami (madrasah, pesantren, harakah, dll.). Mendidik dan melatih para pengarang fiksi dan non-fiksi yang bervisi etis serta agamis.

2. Memperbanyak media massa yang selalu siap mempublikasikan, mengulas, mempromosikan karya-karya Islami tanpa batas. Artinya, tidak hanya karya-karya yang sudah berhasil mencapai batas nilai mutu tinggi yang dipromosikan.Karya para pemula juga perlu diperhatikan.

Sebagai contoh: karya-karya “teenlit” dan “chiklit” (para pengarang remaja, anak sekolahan), sangat gencar dipromosikan “Kompas”. Karya-karya semacam “Eifel My Love”, “Buruan Cium Gue”, dan sejenisnya, berkat promosi yang diada-adakan itu, laku keras. Bahkan diangkat ke layar kaca dan film. Membuat terpesona kaum remaja yang masih polos dan lugu.

Alhasil, sajak “Malaikat” karya Saeful Badar di “PR”, berikut visi dan missi Redaktur Budaya “PR”, hanya sebagai dampak akibat dari keberhasilan jaringan konspirasi imperialisme-kapitalisme dalam memandulkan etika dan rasa keimanan pada jiwa para sastrawan.

Akibat lebih jauh, harus berkonfrontasi dengan kelompok-kelompok masyarakat Islam yang ingin mempertahankan kemurnian akidah dan ketahanan etika. Kelompok-kelompok yang justru merupakan pangsa pasar paling utama media massa, termasuk “PR”. Sehingga timbul kesan – dan ini sudah menjadi kenyataan global – mereka mencari keuntungan dari orang-orang yang dikorbankan dan dihinakan.***

H. Usep Romli HM adalah wartawan senior, sastrawan-budayawan Sunda, penggiat komunitas “Raksa Sarakan”. Tinggal di Pedesaan Kec. Cibiuk, Kab. Garut, Jawa Barat.*

8 thoughts on “Peta Sastra Negara Kita

  1. Hatur nuhun Pak Usep, juga kepada yang telah memberikan komentar atas tulisan Pak Usep di weblog ini. Yang lainnya silakan turut comment…. Senang rasanya punya weblog yang menjadi fasilitator ruang dialog positif dan mencerahkan… Insya Allah wal hamdulillah….

  2. dari komentar-komentar terhadap tulisan saya “Peta Sastra Negara Kita”, baik yang pro maupun yang kontra, saya perku mengarisbawahi :
    1.Kita telah tertipu oleh ideologi demokrasi yang digembar-gemborkan semua pihak.Termasuk para tokoh Muslim. Seolah-olah demokrasi merupakan jawaban tepat bagi penyelesaian pesoalan rakyat. Padahal demokrasi melahirkan anarkisme, baik ti ndakan maupun ucapan. Demokrasi menempatkan konstitusi pada jenjang tertinggi hukum kebersamaan dalam satu bangsa dan negara. Sedangkan agama diletakkan entah di mana.
    2.Dengan menganut demokrasi, mereka menghalalkan semua pikiran, ucapan d an tindakan. Semua bebas belaka, termasuk melecehkan nilai-nilai agama. Sebaliknya mereka akan berang sekali jika nilai-nilai agama digunakan untuk menyatakan sesuatu terlarang atau buruk. Karena bagi mereka, segala sesuatu dijamin konstitusi yang entah bersumber dari mana.
    3.Bagi seorang Muslm berpikir ada batasnya. Seperti memikirkan dzat Allah. Rasulullah Saw melarang. Yang diperbolehkan adalah sebatas memikirkan ciptaan Allah. Bukan memikirkan (apalagi menggugat) dzat, sifat, asma atau ketetapannya yang mutlak.
    4. Apa-apa yang diuraikan saya dalam “Peta Sastra Negara Kita” merupakan pertarungan antara kelompok yang memegang teguh kaidah Islam (Taufik Ismail dkk), dan yang menolak keterlibatan agama (Islam) dalam kreasi seni. Kelompok terkahir ini, beranggapan, siapapun bebas menjadikan Tuhan (maksudnya Allah SWT), perempuan, seks, lonceng berkelenengan, mega berarak, dsb., sebagai tema atau bahan renungan karya seni.
    5. Maha Suci Allah dari penyetaraan diriNya dengan mahluk-mahlukNya yang dlaif dan hina, dan semoga Allah SWT melaknat demokrasi beserta penganutnya dari muka bumi Indonesia yang kemerdekaanya ditebus para darah serta nyawa para syuhada. Mereka yang berjihad melawan kolonialis-imperialis dengan mengagungkan nama Allah (Allahu Akbar), namun yang menikmatinya justru orang-orang yang menjadi kacung imperialis-kolonialis dengan faham demokrasinya yang sesat an menyesatkan.

  3. sudah saatnya kita berbicara. jika kita yakin Islam sebagai sebuah kebenaran mengapa mesti takut bersaing dengan sastrawan-sastrawan sempalan yang hanya bisa berbuat curang merusak dan membohongi generasi kita. kita punya satu keunggulan, satu keistimewaan, dan satu keluhuran sastra yang tak akan bisa tersaingi oleh sastra manapun. AL-Qur’an sastra tertinggi dari Sang Khalik. Bila kita ingin mematahkan mereka kenali dan dalami saja dengan sastra mulia ini. Berkata dengan Al-qur’an, bersastra dengan Al-Qur’an jauh lebih indah dan elegan dibanding satra modern yang dibangun atas landasan liberalis yang menihilkan agama dan membebaskan manusia mengatur hidupnya.

  4. Makanya banyak orang tak mau menjadikan Islam sebagai hukum negara, karena takut tanpa alasan. Ingginnya pakai hukum negara yang rancu. Yang tak kenal halal haram. Kalau pake hukum Islam, para koruptor mati semua, buntung semua. Kaum liberalis nantinya tak punya sumber dana lagi buat koar-koar ke sana ke mari, mengunakan alasan kebebasan berekspressi, berpikir, berkreasi. Sebab dana mereka selama ini kan dari para koruptor. Dari para penindas rakyat. Dari uang yang seharusnya diberikan kepada para korban bencana, seperti korban lumpur Lapindo, misalnya.
    Mereka berlindung di balik hukum negara yang rapuh serapuh sarang laba-laba, karena ingin segala perbuatannya tidak dihukum.
    Homerus, Socrates, salah waktu. Mengapa mereka berkreasi di zaman hukum Yunani KUno yang paganistis. Coba kalau mereka hidup di zaman kejayaan Islam. Pasti dihormati. Yang mengembangkan pemikiran mereka kan orang Islam juga. Baca sejarah filsafat Islam, mulai dari al Gazhali, Ibnu Sina, al Kindi. al Farabi, hingga Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim al Jauziyah. Jangan hanya baca Michael Focault, Gramchi atau Nietzhe, Mark, saja. Ketinggalan zaman tuh

  5. 1.Buat Mulayani Hasan. Belajar dong agama. Jangan hanya tahu luarnya saja. Agama memiliki aturan tersendiri, dan dijamin pula oleh konstitusi. Sebaliknya kaum liberalis yang suka melecehkan atribut-atribut agama, menuduh ormas-ormas Islam tidak solider, tidak toleran, hanya mengandalkan alasan konstitusi kebebasan berpendapat dijamin. Kebebasan apa ? Agama juga memberi kebebasan, tapi dalam batas-batas aturan hukum agama itu. Seperti bebas memikirkan apa saja, kecuali memikirkan Dzat Allah. Bebas mempelajari agama/paham lain, tapi terlebih dulu pelajari dan pahami agama sendiri. Menuduh orang Islam tidak toleran, sebelum tahu makna toleransi dalam Islam. Itulah penyakit kaum liberalis yang sok tahu namun tak punya pengetahuan.
    2.Buat Diksi. Ya, buat apa sastra jika hanya ngurusin selangkangan, air mani, senggama, dan sejenisnya. Sudah saja jadi mucikari. Tak usah repot-repot jadi sastrawan. Satrawan yang baik dan benar ikut ternoda.

  6. Untuk Mulyani Hasan. Konstutusi bukan berarti menghalalkan kebebasan untuk menghujat, melukiskan, melecehkan atau mempermaikan hal-hal yang berada dalam proteksi agama. KOsntitusi hanya menjamin kebebasan bersyarikat, dan mengemukakan pendapat sepanjang bersesuaian dengan norma.
    Sikap penulis sajak “Malaikat” Saeful Badar jelas telah melecehkan norma agama (Islam). Untung dia cepat sadar dan meminta maaf. Tapi kelompoknya, bermacam komunitas liberal itu, yang ngotot. Pemikiran Plato, Socrates, Aristoteles, dihargai sekali oleh cendekiawan Muslim. Tanpa al Kindi, Ibnu Sina, al Farabi yang Muslim, karya para pemikir Yunani kuno itu hanya akan tinggal tumpukan debu. Para pemikir Muslimlah yang berjasa menyegarkan karya para filosof klasik itu.
    Agama (Islam) punya aturan-aturan berupa perintah dan larangan. Konstitusi negara manapun tidak dapat menghapus larangan dan perintah agama itu. Termasuk Indonesia yang liberal dan sekuler.
    Jika seorang Muslim melanggar perintah atau larangan itu, sia harus diingatkan. Amar ma’ruf nahyi munkar. Tawasau bil haq. Jika tidak mau diingatkan, ia harus rela dikategorikan fasik atau mungkar. Dalam Islam hanya ada dua pilihan. Jika mau beriman, berimanlah yang benar (mematuhi perintah Allah SWT dan meninggalkan laranganNya). Jika mau kafir, kafir sekalian (silakan labrak segala perintah dan larangan Allah, tapi tanggalkan predikat keimanan dan keislamannya).
    Kaum liberalis inginna disebut beragama, tapi tidak mengindahkan aturan agama. Ingin bebas sebebas-bebasnya. Termasuk melecehkan agama. Kaum agama tak mungkin membiarkan orang-orang macam demikian. Harap dimengerti.

  7. kalau memang sastra masih menjadi bagian sakral dari masyarakat, kenapa setiap pagi, setiap saya mulai membaca koran, selalu saja ada lebih banyak titik yang berdarah. dan busuk! Jujur saja, analisis model apapun tidak kita buruhkan lagi ketika bersentuhan dengan nurani. ideas tidak lain merupakan makhluk liar menjijikkan jika hanya berdiri sebagai ideas saja, sebagai pikiran saja. Ia menjadi gerakan syahwat merdeka manakala terlalu sombong dengan mengakui bahwa ia adalah entitas tunggal yang mengatur dunia.

    Dahulu sastra beranonim dengan masyarakat. oleh sebab itu ruang sastra selalu terjaga dari cela. Sekarang? Kemaluan segala terjual. Apakah itu yang disebut kebebasan berekspresi? Tolong, siapapun kau, bebaslah dengan setara. rasionalisme socrates, ataupun eksistensialisme victor e. frankl kadang tidak berlaku di sini. Di belahan dunia ‘steril’ manapun, sama sekali tidak ada ‘isme.’ sayangnya sastra indonesia belakangan ini tidak menunjukkan hal itu. Sastra Indonesia malah melabeli dirinya dengan SYAHWATISME..

    iya tinggal memakai tekhnik uji taufik ismail. bayangkan kalau yang membaca Saman dan Larung adalah anak-anak saudara yang kini menginjak remaja. Siapa yang tahu, selesai membaca, mereka tutup pintu kamar rapat-rapat. akhirnya, membaca sambil KAWIN TANGAN sendirian. Kemudian….

    Akh, sudahlah, bahkan sastrapun telah jadi logam. Tidak ada lagi yang layak kita tunggu selain pembetukan sebuah negeri yang binal.

  8. Kalau begini, percuma saja para pemikir macam Socrates, Homerus dll, mati karena membela kebebasan berpikir dan berekspresi.

    Penyeragaman berpikir, seperti mengembalikan dunia pada zaman kegelapan, atau pada zaman kekuasaan fasisme di eropa.

    Mengerikan…

    Dalam UUD’45, kemerdekaan berkesenian dijamin dalam pasal 28.
    Silahkan baca..
    Dalam kehidupan bernegara, konstitusi negara adalah acuan hukum tertinggi.
    Hukum islam, hukum agama, bukan hukum negara.

    Thx

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s