MUSIM TEBAR PESONA


ISTILAH “Tebar Pesona” tiba-tiba saja booming akhir-akhir ini, mengalahkan istilah sebelumnya, “jaim” (jaga image) yang kini tampak mulai ditinggalkan atau mulai kurang populer. Popularitas istilah tebar pesona bukan hanya dalam kehidupan dan aktivitas kita sehari-hari, tapi sudah masuk level politik tingkat tinggi. Presiden SBY berkunjung ke Sidoardjo untuk melihat langsung luapan lumpur Lapindo; DPR menggunakan hak interpelasi; calon gubernur DKI berkunjung ke pasar tradisional; kritik seorang anggota DPR kepada pemerintah; dan banyak lagi, disebut sebagai hanya tebar pesona.

Tebar pesona merupakan hal yang sah dan wajar di kalangan elite politik, apalagi menjelang Pemilu 2009. Banyak hal yang dilakukan politisi atau aktivis parpol, semata-mata demi tebar pesona di kalangan masyarakat.

Secara hakiki atau substansinya, tentu saja aksi tebar pesona bukan hal baru. Pasalnya, tebar pesona adalah “istilah baru” yang muncul akhir-akhir ini, entah siapa yang menjadi “founder”-nya, bagi istilah yang “lebih ilmiah-akademis”, yakni “positive self-image building” –pembangunan citra positif tentang diri sendiri.

Setiap orang, sadar atau tidak, tiap hari melakukan tebar pesona agar citra dirinya terus terjaga, bahkan terangkat, setidaknya agar selalu baik dalam pandangan orang lain. Ada pepatah, jika kita berbicara tentang diri sendiri, maka kemungkinan berbohong selalu ada, yakni berbohong dengan menutupi fakta buruk dan hanya mengemukakan hal-hal baik saja. Sering terjadi “komunikasi manipulasi”, yakni menutupi keburukan agar citra diri selalu baik, atau agar orang lain (lawan bicara) mempunyai persepsi yang baik tentang diri kita.

Jika kita berbicara tentang diri sendiri, hampir pasti kita berusaha untuk membuat orang lain berpikir bahwa kita hebat, baik, jago, unggul, kuat, dan seterusnya. Nah, di situlah peluang manipulasi atau berbohong terbuka, minumal membesar-besarkan yang sebenarnya sepele, atau mengecilkan kesalahan yang kita lakukan –padalah sebenarnya sebuah kesalahan fatal.

Politisi, pejabat publik, atau aktivis partai dikenal sebagai orang-orang yang suka tebar pesona demi mendapatkan dukungan publik. Ucapan-ucapan mereka seringkali tidak sesuai dengan fakta, alias berbohong! Dengan demikian, berbohong menjadi bagian dari aktivitas politisi, demi tebar pesona tadi. Bisa jadi, hati nurani mereka sebenarnya juga menjerit, tidak suka dengan tindakan mereka sendiri. Tapi kalau jujur, karier politik mereka terancam!

Lagi pula, kalaupun berkara jujur, orang juga akan berkata “ah, tebar pesona”. Ingat saja kasus Amien Rais yang dengan jujur mengakui telah menerima dana ilegal DKP. Awalnya ia dipuji, lama-kelamaan malah dihujat juga. Jadi, apakah tebar pesona berarti tebar kebohongan? (Eh, kumaha ieu teh… nyambung ‘gak ya kesimpulan ini?).

Ah, yang jelas, saya juga tebar pesona dengan menulis artikel ini, bahkan ketika membuat weblog ini juga niatnya tebar pesona; semua bloger punya niat tebar pesona di dunia maya ini ‘kan? Hayo ngaku…. ! (ASM. Romli).*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s