Citra Islam (Kembai) Ternoda


* Edisi Bahasa Indonesia “Gerentes Hate” (Editorial) Majalah Bina Da’wah Edisi 328 – Juli 2007.

ABU Dujana ditangkap. Jika memang benar ia seorang teroris, maka semua orang akan gembira karena ancaman teror berkurang. Namun, jika Abu Dujana ternyata hanya seorang “boneka” atau “wayang” yang dimainkan oleh seorang “dalang”, dengan maksud menjelek-jelekkan Islam dan kaum Muslimin, maka hanya umat Islam yang rugi besar.

Seperti pada kasus-kasus sebelumnya, para tersangka teroris hampir semuanya dari kalangan aktivis Islam. Kali ini pun demikian, sehingga citra Islam lagi-lagi tercoreng. Masyarakat kembali mengidentikkan aktvis Islam dengan terorisme, sebuah pengidentikkan yang dihendaki kaum kuffar yang memerangi Islam dan ingin menenggelamkan cahaya Allah Swt.
“Dan tiada henti-hentinya mereka selalu memerangi kalian sehingga kalian murtad dari agama kalian, jika mereka mampu…” (QS. Al-Baqarah:217).

Terus bermunculan dan ditangkapnya para teroris yang bersimbolkan Islam (aktivis Islam, ustadz, santri), yang jelas-jelas kian memperburuk citra Islam di masyarakat, khususnya citra aktivis Islam, dampak terbesarnya adalah publik akan menjauhi syariat Islam. Bahkan umat Islam sendiri, mungkin jadi tidak percaya diri untuk mengaku sebagai Muslim dan mengamalkan ajaran agamanya.

Ungkapan “Al-Islamu mahjubun bil Muslimin” kian hari kian menampakkan kebenarannya. Di tengah kampanye anti-terorisme global yang dilancarkan Amerika Serikat, justru bermunculan teroris yang “kebetulan” beragama Islam, bahkan berprofesi sebagai ustadz atau aktivis dakwah. Terlepas dari apakah mereka “wayang” atau “dalang”, juga terlepas dari definisi terorisme yang kontroversial dan debatable (masih diperdebatkan), munculnya simbol Islam atau Muslim di kalangan tersangka teroris, tidak bisa dielakkan bepengaruh pada citra Islam sebagai agama cinta damai, anti-kekerasan, toleran, atau ringkasnya: rahmatan lil ‘alamin.

Parahnya lagi, media massa yang besar, jangkauan luas, dan berpengaruh, sejauh ini dikendalikan atau dimiliki oleh kaum kafir, minimal kaum sekuler, yang tentu saja tidak memiliki ghirah untuk membela nama baik Islam dan kaum Muslimin. Ketika muncul kasus yang merugikan nama baik Islam, seperti penangkapan Abu Dujana dan kawan-kawan yang “kebetulan Muslim” bahkan “aktivis dakwah”, mereka seakan berlomba-lomba untuk mencaci-maki Islam dan menjatuhkan citra Islam di mata masyarakat.

Bercermin pada kasus-kasus seperti ini, umat Islam harus melakukan introspeksi tentang metode perjuangan yang “aman”, cerdas (smart), elegan, dan ramah sehingga mendapatkan dukungan publik. Cara kekerasan jelas sangat tidak menguntungkan dalam kondisi seperti sekarang. Sedikit saja aktvis dakwah melakukan aksi kekerasan, maka cap militan, radikal, garis keras, bahkan teroris akan segera muncul di media massa, untuk memojokkan citra Islam dan kaum Muslim. Jika pencitraan negatif tentang Islam terus terjadi, maka Islam akan makin dijauhi, bahkan oleh umatnya sendiri. Akibatnya, cita-cita penegakkan syariat Islam akan makin menjauh, atau kian berat dilakukan.

Para aktivis dakwah hendaknya merumuskan metode baru perjuangannya. Setidaknya, jika terpaksa melakukan aksi kekerasan (jihad fisik), seperti perang atau kontak senjata, harus didukung oleh “perang pemikiran” atau propaganda di media massa tentang keabsahan atau duduk perkara yang sebenarnya. Jangan sampai seperti yang sudah-sudah, akibat pemberitaan media massa, pihak Islam selalu menjadi pihak yang salah, padahal umat Islam berjuang demi mempertahankan diri dan agamanya dari serangan musuh.

Realitas sebenarnya yang terjadi di Poso, Ambon, Maluku, atau wilayah konflik lain, hanya beredar di kalangan terbatas, misalnya kalangan aktivis dakwah. Gambaran persoalan umat Islam yang dianiaya atau dirugikan, tidak tersebar di media massa yang dapat dijangkau atau diketahui oleh masyarakat luas. Itu semua akibat ketiadaan media massa besar yang berpihak pada umat Islam, atau mampu menyuarakan aspirasi Islam, secara luas. Maka, umat Islam harus mengagendakan pemilikan media massa besar dan luas jangkauannya, seperti koran nasional, radio, bahkan televisi.

Di samping itu, aktivis dakwah harus melakukan perjuangannya secara benar, mengacu kepada sunnah Rosulullah Saw sebagai teladan yang baik. Kata kunci bagi dakwah Islam, mengacu pada perjuangan Rosulullah, adalah sabar, santun, dan keteladanan. Namun pada kondisi tertentu, seperti perang fisik, umat Islam harus “galak” karena dalam perang fisik hanya ada dua pilihan: dibunuh atau membunuh, mati syahid atau hidup mulia dengan Islam. Lagi pula, Islam sudah menggariskan etika atau akhlak berperang, antara lain tidak boleh merusak bangunan, bahkan tempat ibadah agama lain, pepohonan, dan dilarang membunuh wanita dan anak-anak (penduduk sipil yang tidak berperang). Keteguhan pada etika perang, juga pada etika Islam secara keseluruhan, itulah yang membuat Islam jaya dan umat Islam disegani kawan dan lawan pasa masa lalu.

***

CITRA (image) menjadi panglima pada era globalisasi informasi sekarang ini. Proses pencitraan menjadi bagian terpenting dari proses pembentukan opini publik (public opinion). Jelasnya, kini tengah berlangsung proses pencitraan Islam dan umatnya sebagai “agama kaum teroris”. Populernya istilah-istilah Islam militan, Islam radikal, Islam garis keras, fundamentalis, ekstremis, dan sebagainya, merupakan bagian dari upaya pembusukan citra Islam dan kaum Muslimin.

Di milis-milis internet sudah lama beredar tentang “Rilis Terbatas Badan Intelejen Negara (BIN) bernomor 01/BIN/HUMAS/10-2002”. Dalam rilis yang “Disiapkan oleh Kepala Biro HUMAS – Doc/Arsip : 01/Humas/RT/BIN-Okt 2002” itu, disebutkan adanya Kelompok Pembusukan Citra Islam Internasional (International Islamic Disgrace Movement, IIDM).

IIDM disebutkan bertujuan mengekalkan dominasi Barat atau Yahudi di dunia. Kebangkitan Kelompok ini mulai dirasakan di Indonesia setelah peristiwa 11 September 2001 melalui cap “Islam Fundamentalis” dan “terorisme Internasional”. Gerakan kelompok ini selalu memanfaatkan kelompok “Fundamentalis Primitif” dan dikelola secara terjadwal dan terorganisasi secara rapi.

Benar-tidaknya dokumen tersebut, tidak terlalu penting, mengingat gerakan pembusukan citra Islam memang sudah ada, bahkan sejak Islam pertamakali didakwahkan oleh Rosulullah Saw. Saat itu, kaum Quraisy berusaha menghancurkan citra Rosulullah, dengan berbagai julukan, mulai dari “tukang dusta” hingga “tukang sihir”.

Sudah saatnya umat Islam, khususnya aktivis dakwah, memperhatikan soal pembangunan citra ini (image building). Dimulai dengan penguasaan ilmu komunikasi sebagai sarana untuk melakukan “perang opini” dan “perang pemikiran” (ghozwul fikri) di media massa. Hancurnya citra Islam selama ini, karena kesadaran bermedia masih kurang di kalangan aktivis dakwah, dan umat Islam pada umumnya.

Tentu saja, kalangan aktivis Islam pun mesti lebih waspada, juga lebih “smart” (cerdas) dan bijak (hikmah) dalam berdakwah dan berjihad fi sabilillah. Kisah Ash-Habul Kahfi juga hijrah Rosul ke luar kota Mekah bisa menjadi ibroh, bahwa kekuatan besar harus dilawan dengan kesabaran, strategi jitu, jika perlu “ngumpet” dulu untuk menyusun kekuatan yang mampu menandingi kekuatan lawan.
Kalangan aktivis Islam akan menjadi perhatian “kalangan tertentu”. Bisa jadi, kalangan aktivis Islam itu “dipelajari” satu per satu untuk bisa “dibina”, lalu didorong melakukan aksi teror. Tujuannya, apa lagi kalau bukan untuk merusak citra Islam dari dalam. Apakah Abu Dujana termasuk “wayang” yang “dibina dan dimainkan” itu? Wallahu a’lam. (ASM. Romli/BD).*

Advertisements

2 thoughts on “Citra Islam (Kembai) Ternoda

  1. resensi buku tentang citra Islam (kembali) ternoda-nya bagus. Juga soal Kamus Jurnalistik. Teruskan memasyarakatkan gairah menulis and jurnalisnya.
    Soal citra Islam, itu ya–dalam resensi buku–memang penting. Sayangnya banyak aktifis dakwah yang enggan tabayun,..sehingga menyebar isu tak benar alias fitnah. Mudah-mudahan Kang Romel bisa terus meluruskan visi dakwah dan menjaga imej alias citra pendakwah agar tak masuk kategori pemfitnah…nuhun. Bagus euy, teruskan ya blognya…..

    (*) Haturnuhun Kang Aji, haturnuhun kana support dan apresiasinya…. Kapan atuh main ka MTC, kita ngobrol2 kang, no tlp mash yang lama ‘kan…?

  2. ieu aya artikel alus! Dibaca nya! Tos, sakieu wae. ieu nuju damel yeuh!

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s