Berani karena Benar


* Editorial Tabloid Alhikmah Edisi 12 – Juli 2007

SUATU ketika Kekaisaran Persia hendak mengadakan perundingan dengan Khilafah Islam pimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Kisra Persia mengutus salah seorang mentrinya, Hurmuzan, untuk mendatangi Madinah guna menemui Umar.

Dikawal prajurit dengan jumlah besar, Hurmuzan memakai ragam jenis perhiasan, sutra, emas, dan perak, layaknya pembesar kerajaan saat itu. Ketika masuk Madinah, ia bertanya: “Di mana istana Khalifah Umar?” Para sahabat mengatakan: “Umar tidak punya istana.”

Ia bertanya: “Bagaimana ia memimpin kalian ?” Mereka berkata: “Beliau memimpin kami di atas tanah.” Ia bertanya: “Di mana rumahnya? Apakah rumahnya memiliki keistimewaan?” Mereka menjawab: “ Rumahnya seperti rumah kita.”

Ia berkata: “Tolong tunjukkan pada saya rumahnya.” Mereka berangkat dan berjalan di gang-gang kota Madinah yang sempit, sampai mereka sampai di sebuah rumah kecil layaknya rumah orang miskin.

Ia bertanya: “Apakah ini rumahnya ?” Mereka mengatakan: “Ya” Ia bertanya lagi: “Apakah ini rumahnya?” Mereka mengatakan: “Kita akan tanya keluarganya”

Kemudian mereka mengetuk pintu rumah. Putranya keluar, mereka bertanya: “Apakah Amirul Mukminin ada di rumah?” Beliau menjawab: “Beliau sedang tidak di rumah, silakan Anda cari di masjid.”

Utusan ini segera berangkat ke masjid. Anak-anak berjalan di belakang utusan Beberapa wanita melihat dari atap rumah dan dari balik pintu, untuk melihat orang yang datang dengan sutra dan emas yang bersinar karena pantulan sinar matahari.

Ternyata Umar tidak berada di masjid. Mereka mengatakan: “Kita cari di tempat lain. Mereka mendatangi sebuah pohon di luar kota Madinah, ternyata Khalifah Umarberada di situ, tertidur di di bawah sebuah pohon dengan pulasnya.

Utusan Persia ini tercengang, sekaligus kagum. Mengapa seorang kepala negara bisa tidur selelap ini, tanpa pengawal, di bawah pohon pula, bukan di istana. ”Raja kami selalu dikelilingi oleh para pengawal ke mana pun ia pergi dan mempunyai istana yang megah,” gumam anggota rombongan.

Mereka lalu membangunkan Umar. “Siapa ini?” tanya Umar. Mereka mengatakan: “Ini adalah Hurmuzan dan rombongannya, datang untuk berunding dengan Anda, wahai Amirul Mukminin!”

Orang Persia tersebut berkata: “Anda telah berhukum dengan adil sehingga Anda merasa aman dan bisa tidur.”

Umar tersenyum lalu berkata: “Allah Swt memerintahkan kami untuk berbuat adil menurut hukum Islam Allah. Seorang pemimpin itu jika lapar harus duluan dan jika kenyang harus belakangan. Saya tidak butuh pengawal karena saya dan para pendahulu saya (Rasulullah dan Abu Bakar) tidak pernah menyakiti rakyat yang kami pimpin…”.
***

UMAR Al-Faruq memberikan teladan indah tentang ketenangan dan keberanian. Sebagai pemimpin, ia merasa aman dan tenang, bebas pergi ke mana pun, bahkan tidur di mana pun, karena rakyat yang dipimpinnya mencintainya, tidak mungkin mencelakainya.

Pemimpin atau orang yang bertindak benar lazimnya tidak merasa takut apa pun dan merasa aman. Orang yang berada di jalan yang benar juga yakin akan dekatnya pertolongan Allah Swt, juga yakin akan banyaknya pendukung yang berbaris rapi dan siaga di belakangnya. Apalagi jika sebuah tindakan yang dilakukan berdasarkan hasil musyawarah, bukan kemauan sendiri apalagi atas tekanan atau “pesanan asing”.

Sebaliknya, orang yang merasa bersalah biasanya memiliki rasa takut; takut kesalahannya diketahui orang lain, takut dihukum, atau takut tidak dapat memberikan argumentasi atau dalih sebagai pembenaran tindakannya. Ia pun menjadi pengecut.

Seorang pengecut biasanya juga tak akan mau mengakui kesalahan, keras kepala, mau menang sendiri, menganggap diri tak pernah berbuat salah, bahkan berusaha mencari kambing hitam dan bersikap “lempar batu sembunyi tangan”. Tak jarang ia mengorbankan orang lain untuk menutupi kesalahannya.

Seorang pemimpin atau pejabat yang takut menghadapi “wakil rakyat”, takut didatangi pers (wartawan), atau menghindari pertanyaan tentang kebijakan yang dibuatnya, patut dicurigai sebagai pengecut yang telah berbuat salah. Ia pun tidak punya rasa aman seperti yang dimiliki Khalifah Umar dan pemimpin adil dan bijak lainnya dalam sejarah Islam. Wallahu a’lam.*

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s