General

Jadi Dosen Yang Penting Gelar!


ANDA yang ingin meniti karier sebagai dosen Perguruan Tinggi harus benar-benar bergelut dengan dunia akademis. Modal utama Anda mestilah gelar kesarjanaan, minimal S2, syukur-syukur jika S3. Pasalnya, dunia kampus akan mengutamakan “orang bergelar”, bukan “kualitas” atau pengalamannya yang sebetulnya menguntungkan para mahasiswa. Pengalaman saya berikut ini mungkin dapat menjadi cermin atau bisa diambil hikmahnya, oleh Anda yang berminat terjun jadi dosen di PT.

Sejak tahun 2000, saya mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Bandung. Saya memang bukan pemegang gelar Sarjana Komunikasi, tapi pengalaman saya sejak 1993 menjadi wartawan menjadi dasar pertimbangan bagi kompetensi saya mengajar di sana. Apalagi kemudian saya menulis tidak kurang dari 7 judul buku tentang jurnalistik dan komunikasi (lihat daftar buku saya).

Saya berbahagia mengajar di Stikom. Pengalaman sebagai wartawan di berbagai media massa (Redaktur Mingguan Hikmah, Majalah Sabili, Pemred Tabloid MQ, Managing Editor Majalah Kandidat Jakarta, dan kini Pemred Tabloid Alhikmah dan Majalah Bina Da’wah, serta Editor dan Penyiar Radio Antassalam –jabatan terakhir sebagai Program Director) dapat saya bagi dengan para mahasiswa. Bahkan, alhamdulillah, mata kuliah apa pun yang dipercayakan kepada saya, berbekal pengalaman itu, saya sanggupi, mulai dari mata kuliah yang sifatnya praktis seperti menulis berita, menulis artikel, manajemen media massa, hingga mata kuliah yang sifatnya “teoritis” ilmiah seperti Agenda Media, Sistem Komunikasi Indonesia, Jurnalistik Indonesia, dan sebagainya. Namun, sejak semester genap tahun ini (2007), tiba-tiba saya tidak dijadwalkan lagi mengajar di Stikom. Tanpa pemberitahuan, tanpa basa-basi! Setelah ditelusuri, ternyata Ketua Stikom yang baru –pengganti Drs. Dedy Djamaludin Malik, MS yang kini sibuk menjadi Anggota DPR– punya kebijakan baru: mengutamakan sarjana komunikasi –sedangkan saya Sarjana Ilmu Politik (tepatnya Sarjana Ilmu Hubungan Internasional).

Nah, karena background pendidikan saya itu bukan komunikasi, maka gugurlah kompetensi saya untuk mengajar di sekolah tinggi ilmu komunikasi itu. Pengalaman saya, karya tulisa saya, bahkan “dedikasi” saya selama ini buat Stikom tidak dihargai sama sekali. Ini pengalaman pahit yang insya Allah merupakan pemberian terbaik Allah bagi saya. Ada banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, salah satunya ya itu tadi, kalau ingin mengajar di sekolah tinggi komunikasi ya harus sarjana ilmu komunikasi, bukan Hubungan Internasional Fisip Unpad!

Alhamdulillah, status sebagau “dosen luar biasa” di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGB Bandung tampaknya masih aman. Saya memegang mata kuliah Jurnalisme Radio, Teknik Produksi Radio Siaran, Manajemen Media Massa, dan pernah memegang MK Menulis Akademik. Namun demikian, pengalaman di Stikom membuat saya juga khawatir terdepak sebagai dosen di jurusan Jurnalistik dan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Bandung, lagi-lagi karena saya bukan sarjana komunikasi. Meskipun –kalau boleh takabur– saya siap beradu kompetensi dengan sarjana komunikasi, yang 2 sekalipun, soal pengetahuan, keilmuan, dan pengalaman bidang komunikasi. Insya Allah… Tapi ‘kan dunia kampus memang mengutamakan gelar akademis, ‘kan? Jadi, kekurangan saya adalah “tidak bergelar sarjana komunikasi”, apalagi S2.

Nah, tentu saja ini pengalaman berharga bagi Anda yang ingin jadi dosen. Ayo, kuliah S2. Tapi ingat, jangan asal kuliahnya. Harus bener-bener. Soalnya, saya pernah menjadi “konsultan” seorang mahasiswa S2 komunikasi, dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah S2 komunikasi. Saya jadi tahu, itulah yang dipelajari di kelas kuliah S2 komunikasi. Saya relatif lancar mengerjakannya, alhamdulillah, karena pengalaman.

Bagi saya, mengajar di PT bukanlah tujuan, tapi sebagai sarana ekspresi dan aktualisasi diri, utamanya berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mahasiswa. Itu saja! Saya tidak memikirkan honor, meskipun tentu saya butuh duit, apalagi honor mengajar tidaklah akan bisa memenuhi kebutuhan hidup. “Niatnya ibadah atuh, sing ikhlas,” kata Teteh saya. “Itung-itung ibadah, Kang!” kata teman saya. “Kami perlu dosen yang praktisi,” kata mahasiswa. Insya Allah….

Soal aktualisasi, “ibadah” denga mengajar, masih banyak jalan. Alhamdulillah, saya sering diundang mengisi acara-cara pelatihan di kampus-kampus, mulai soal menulis di media massa, siaran di radio, teknik propaganda, hingga soal public speaking, media relations, dan komunikasi pemimpin di latihan kepemimpinan. Selain itu, ‘kan saya juga Ketua Balai Jurnalistik ICMI Jabar (BATIC) yang masih bisa “ngajar” di Majelis Ta’lim Jurnalistik.

Kembali soal Stikom, jelas suatu pelajaran berharga bagi kita. Ngajar di Universitas Al-Ghiffari relatif aman, tapi tidak aman banget, lagi-lagi soal gelar akademik –saya bukan S2 ilmu politik. Aman karena saya ngajar di Jurusan Hubungan Internasional –MK Pemikiran Politik Islam, Budaya Diplomasi Islam, Komunikasi Internasional, Komunikasi Politik, dan entah apa lagi (suka ganti-ganti sih).

Saya kisahkan ini semua hanyalah sebagai pengalaman berharga bagi Anda yang ingin berkarier di dunia akademis: jangan lupa gelari diri Anda dengan gelar akademis, pengalaman nomor dua! Anda akan dinilai kompeten jika bergelar S2 bahkan S3. Soal kualitas kesarjanaan, mungkin nomor dua juga –mudah-mudahan tidak ya…. “Zaman ayeuna mah aneh, gelar nu penting, ngajar teu baleg oge teu nanaon; tapi nu ngajarna bagus, gelarna teu sesuai, disingkirkeun…” kata teman saya. “Orangnya mungkin enggak kepake (ngajar), tapi bukunya jadi pegangan para mahasiswa komunikasi di berbagai PT,” kata teman yang lain. Alhamdulillah, semoga bermanfaat.

Ah, tulisan ini sekadar curhat saja. Insya Allah, saya dan kawan-kawan akan mendirikan sebuah lembaga diklat wartawan dan penyiar, sekaligus mengkampanyekan: “Jadi Wartawan & Penyiar Profesional Tidak Mesti Kuliah Jurnalistik dan Penyiaran!” Lagi pula, wartawan dan penyiar profesional banyak yang berlatar belakang pendidikan non-komunikasi. Silakan cek! ***

Advertisements

One thought on “Jadi Dosen Yang Penting Gelar!

  1. tenang aja mas…ilmu yang anda amalkan nanti akan dibalas olehNya dengan cara yang kita tidak tahu…..salut untuk anda……

    (*) Terimakasih pak dokter … kalo jadi penyiar gak ada syarat giginya mesti bagus kan mas… he he… salut juga buat pak dokter gigi yang terjun juga jadi penyair… eh, penyiar. Good luck!

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s